Pakar Dorong Pemerintah Vaksinasi Anak-anak di Bawah 12 Tahun

Vaksin untuk anak-anak usia 2-11 tahun dianggap penting karena anak-anak tidak bisa lagi terus berada di dalam di rumah.
Yuliawati
9 September 2021, 16:35
vaksin, anak, gerakan 3M
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.
Seorang siswi mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 Sinovac saat mengikuti program vaksinasi COVID-19 untuk anak-anak di SMA Negeri 20 Jakarta Pusat, Kamis (1/7/2021).

Dokter spesialis anak dan ahli epidemiologi mendorong pemerintah menggelar program vaksin bagi anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun. Vaksinasi untuk anak usia di atas 2 tahun hingga 12 tahun dianggap penting seiring pelonggaran aktivitas masyarakat.

Amran Pulungan, dokter spesialis anak sekaligus Direktur Eksekutif Asosiasi Pediatrik Internasional, mengatakan Indonesia perlu mulai vaksin bagi anak di bawah 12 tahun. Persyaratan vaksin ini untuk melindungi anak-anak saat menjalani kegiatan di luar rumah.  

Saat ini pemerintah sudah melonggarkan aktivitas masyarakat seperti sekolah sudah memulai pembelajaran tatap muka, mal juga sudah dibuka untuk usia di atas 12 tahun yang sudah divaksin menggunakan aplikasi PeduliLindungi. "Kita perlu mulai imunisasi anak di bawah 12 tahun,” ujar Amran dalam unggahan Instagramnya, Kamis (9/9).

Amran menilai anak-anak tidak bisa lagi terus berada di dalam di rumah. Anak membutuhkan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. "Pastikan lingkungan sehat, mari kita kawal semua ini. Lindungi keluarga Indonesia," bunyi unggahan Amran.

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan pentingnya untuk memvaksinasi anak-anak di bawah 12 tahun. Dicky menjelaskan populasi anak-anak berkontribusi dalam mencapai ambang batas herd immunity.

“Kalau bicara ambang batas herd immunity ya tidak bisa kalau tidak menghitung anak-anak, tidak akan tercapai ambang batasnya,” ujar Dicky kepada Katadata.co.id, Kamis (9/9).

Dicky mengatakan jumlah anak-anak yang berusia di bawah 17 itu mencapai 32% dari seluruh populasi manusia. Adapun jumlah anak berusia di bawah 12 tahun itu merupakan mayoritas dari kelompok anak di bawah 17 tahun. Sehingga, populasi anak-anak yang sangat besar menjadikan mereka harus diprioritaskan mendapatkan vaksin.

Namun, Dicky menilai Indonesia harus melakukan riset dan data tentang keamanan dan efektivitas vaksin bagi anak. Pemerintah pun dapat menggunakan data penelitian dari negara lain atas suatu vaksin terhadap anak-anak. "Saat ini kita sedikit menunggu sebentar lagi,” kata Dicky.



Dicky menyebut negara yang sudah melakukan vaksinasi bagi anak-anak di bawah 12 tahun telah melalui proses penelitian dengan data yang memadai. “Kalau Kuba sudah memulai vaksin bagi anak, itu karena mereka sudah memiliki data yang memadai," kata Dicky.  

Kuba merupakan negara pertama yang memberikan vaksin kepada anak-anak berusia 2-11 tahun. Channel News Asia melaporkan Kuba memulai vaksin anak-anak pada Senin, 6 September 2021 menggunakan vaksin buatan Kuba yakni Abdala dan Soberana.

Kedua jenis vaksin - yang menggunakan teknologi protein rekombinan mirip Novavax dan Sanofi - belum diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Vaksinasi untuk anak-anak ini sebelum Kuba memberlakukan sekolah tatap muka mulai Oktober nanti.

Beberapa negara lain di dunia juga telah memvaksinasi anak-anak di bawah 12 tahun. Negara-negara seperti Tiongkok, Uni Emirat Arab dan Venezuela telah mengumumkan rencana mereka untuk memvaksinasi anak-anak. Chili telah menyetujui pemberian vaksin Sinovac untuk anak-anak antara enam dan 12.

 Saat ini, Pfizer sedang melakukan uji klinis terhadap keamanan dan tingkat efikasi vaksin untuk anak-anak di bawah 12 tahun. New York Times melaporkan bahwa Pfizer menargetkan hasil uji klinis vaksin untuk anak usia 5-11 tahun akan selesai pada September ini.

Setelah itu, mereka akan mengeluarkan hasil riset klinis untuk anak usia 2-5 tahun pada bulan Oktober atau November. Hasil uji klinis vaksinasi untuk anak di bawah 12 tahun akan menentukan program vaksinasi anak ke depannya.

Infografik_Hati-hati sekolah di masa Covid-19
Infografik_Hati-hati sekolah di masa Covid-19 (Katadata)

 

 

Penyumbang bahan: Akbar Malik

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait