Targetkan Tumbuh 5,7 Persen, Sektor Industri Butuh Dua Insentif

Neraca dagang industri tahun depan ditargetkan bisa surplus sehingga berkontribusi sekitar 70,44 persen terhadap total ekspor. Tujuan utama ekspor adalah Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan India.
Yura Syahrul
26 November 2015, 14:01
Industri Manufaktur
Arief Kamaludin|KATADATA
Industri manufaktur | KATADATA

KATADATA - Hingga kuartal III tahun ini, sektor industri mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,21 persen. Meskipun angkanya lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu, pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal III (year to date) sebesar 4,7 persen. Tahun depan, pertumbuhan industri diharapkan bisa lebih tinggi lagi dengan dukungan kebijakan suku bunga dan energi.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan, kinerja industri pada kuartal III-2015 terus membaik. Indikatornya adalah defisit perdagangan produk hasil industri pengolahan non-minyak dan gas bumi (migas) mengecil. Ekspor produk hasil industri pengolahan non-migas mencapai US$ 72,21 miliar sedangkan impornya US$ 72,49 miliar. Padahal, pada periode sama tahun lalu nilai defisitnya mencapai US$ 4,17 miliar.

Adapun investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) hingga kuartal III-2015 mencapai Rp 20,5 triliun atau tumbuh 7,45 persen dibandingkan periode sama 2014. Namun, Penanaman Modal Asing (PMA) menurun US$ 3,15 miliar. Alhasil, total investasi per kuartal III-2015 sebesar US$ 4,75 miliar.

Tahun depan, Saleh menargetkan neraca dagang industri ini bisa menjadi surplus sehingga dapat berkontribusi sekitar 70,44 persen terhadap total ekspor. Tujuan utama ekspor produk hasil industri pengolahan adalah Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan India. Kalau itu tercapai, dia optimistis pertumbuhan industri pada 2016 mencapai 5,7 persen dan berkontribusi 18,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Advertisement

Namun, untuk mencapai semua target itu membutuhkan peningkatan daya saing. Caranya melalui insentif kebijakan energi dan bunga kredit perbankan. Pertama, Saleh akan berkoordinasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said untuk menyediakan energi dengan harga yang kompetitif.

Kedua, meminta dan berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bunga kredit perbankan diturunkan dari posisi saat ini sekitar 10 persen sampai 11 persen. Bandingkan dengan bunga kredit bank di Singapura dan Malaysia yang hanya 4 persen hingga 5 persen. "Suku bunga kita tinggi. Kalau diturunkan, setidaknya kita bisa bersaing," kata Saleh di Jakarta, Kamis (25/11).

(Baca: Harga Solar dan Gas Industri Turun, Tarif Listrik Diberi Diskon)

Di sisi lain, pemerintah akan terus mengembangkan industri sehingga bisa berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Ada beberapa langkah yang dilakukan. Pertama, penetapan 10 industri prioritas berdasarkan kriteria padat karya dan substitusi impor. Pengembangan industri prioritas itu melalui insentif fiskal seperti tax holiday dan tax allowance, dan insentif non-fiskal seperti kemudahan perizinan.

Kedua, pembangunan sumber daya industri. Ketiga, pembangunan sarana dan prasarana industri, seperti ketersediaan energi dengan harga yang bersaing. Keempat, pemberdayaan industri. Kelima, pengembangan industri kecil menengah sehingga bisa menciptakan lapangabn kerja.

Sekadar informasi, Sekadar informasi, pemerintah tengah mempersiapkan skema penurunan harga gas untuk industri. Kebijakan yang masuk dalam paket ekonomi jilid III untuk mendorong kegiatan industri ini akan mulai diberlakukan per 1 Januari tahun depan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan, harga gas antara US$ 6 sampai US$ 8 per juta british thermal unit (MMBTU) akan diturunkan sebesar US$ 0-US$ 1 per MMBTU atau maksimal 16,7 persen. Alhasil, harganya menjadi minimal US$ 6 per MMBTU.

Sedangkan untuk harga gas di atas US$ 8 per MMBTU akan diturunkan sebesar US$ 1-US$ 2 per MMBTU atau 12,5 sampai 25 persen menjadi US$ 6 per MMBTU.

Penurunan harga gas ini juga berlaku untuk industri di sektor swasta. Pertama, industri pupuk dan petrokimia, yang akan membuat nilai tambah gas semakin besar. Kedua, industri strategis. Ketiga, industri yang menggunakan gas sebagai proses produksi. Keempat, industri  manufaktur yang mempekerjakan banyak karyawan.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait