Perusahaan BUMN Siap Pasok Obat Covid-19 dan Produksi Ventilator

Pemerintah telah mendatangkan 500 ribu bahan baku obat Covid-19 dan chloroquine sebanyak satu ton. Sederet BUMN pun telah siap produksi ventilator.
Image title
15 April 2020, 17:46
Ilustrasi, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyatakan, bahan baku obat Covid-19 dan klorokuin telah didatangkan dari India. Selain itu, BUMN telah siap memproduksi ventilator secara mandiri.
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyatakan, bahan baku obat Covid-19 dan klorokuin telah didatangkan dari India. Selain itu, BUMN telah siap memproduksi ventilator secara mandiri.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendatangkan ratusan ribu bahan baku obat virus corona atau Covid-19. Perusahaan BUMN juga siap memproduksi ventilator secara mandiri.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, PT Bio Farma bakal memproduksi sekitar 500 ribu tablet obat Covid-19 jenis oseltamivir, yang bakal didistribusikan ke rumah sakit. Bahan baku pembuatan obat Covid-19 ini baru saja didatangkan pemerintah dari India.

"Itu obat corona juga, bahan baku untuk 500 ribu tablet yang beli dari India. Nanti yang membuat Bio Farma," kata Arya, dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (15/4).

Selain itu, pemerintah juga baru saja mendatangkan obat Covid-19 klorokuin sebanyak satu ton dari India. Pasokan klorokuin ini tiba tanggal 9 April 2020 lalu dan akan didistribusikan ke rumah sakit rujukan Covid-19 milik BUMN.

Selain itu, Kementerian BUMN tengah menanti pengujian alat bantu pernafasan atau ventilator oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang dibuat oleh beberapa universitas dalam negeri. Jika sudah lolos uji sertifikasi, nantinya beberapa BUMN siap untuk memproduksi dan membeli alat tersebut.

Arya mengatakan, BUMN yang bakal memproduksi ventilator antara lain PT Len Industri, PT Pindad, dan PT Dirgantara Indonesia. Sedangkan, yang bertindak membelinya (off taker) yaitu Indo Farma.

(Baca: GP Farmasi Bisa Produksi 3 Juta Klorokuin/Bulan untuk Atasi Covid-19)

"Indofarma jadi induk alat kesehatan, yang akan kerja sama dengan pembuat ventilator. Jadi, nanti Indo Farma menjadi lead yang mengambil semua," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Pindad Abraham Mose mengatakan, Pindad telah membuat prototype ventilator dan mempresentasikannya di depan Menteri Pertahanan dan Menteri BUMN. Saat ini, Pindad telah memproduksi tiga ventilator, yang telah digunakan di rumah sakit miliknya, di Bandung.

Menurutnya, setelah Pindad mempublikasikan ventilator buatannya, banyak permintaan pesanan yang masuk, baik dari instansi pemerintah maupun swasta. Namun, ventilator buatan Pindad ini belum diproduksi secara massal.

Abraham menyatakan, ventilator buatan Pindad saat ini sedang uji sertifikasi kelayakan di Balai Pengawasan Peralatan Kesehatan (BPPK). Hasil uji sertifikasi BPPK ini menurutnya baru akan diketahui minggu depan. Setelah itu, ventilator buatan Pindad akan masuk tahapan uji operasi dan uji klinis.

“Kurang lebih (total) waktunya dua mingguan. Soalnya ini harus cepat karena sangat dibutuhkan,” kata Abraham kepada Katadata.co.id, Rabu (8/4).

(Baca: Pindad Targetkan Mulai Produksi Massal Ventilator dalam Dua Pekan)

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait