Chatib Basri: Ekonomi RI Kembali ke Kondisi Normal pada 2022

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai, ekonomi pada tahun depan belum mencapai 100% dari kapasitas akibat masih berjalannya protokol kesehatan.
Image title
Oleh Agustiyanti
21 Oktober 2020, 11:20
pertumbuhan ekonomi, resesi, chatib basri, dampak ekonomi pandemi corona
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Menteri Keuangan 2012- 2013 Chatib Basri memperkirakan ekonomi tahun depan hanya tumbuh 3,5% hingga 4%.

Pemerintah berharap pemulihan ekonomi terjadi pada tahun depan seiring mulai dilaksanakannya program vaksinasi pada akhir tahun ini. Namun, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri memperkirakan ekonomi kembali normal pada 2022 mendatang.

"Kalau saya bikin hitungan soal vaksin dan lainnya, ekonomi baru akan normal pada 2022. Saat itu, kita baru bisa bicara ekspansi, investasi dan lain-lain," ujar Chatib Basri dalam diskusi virtual 'Outlook Ekonomi: Peluang RI Keluar Resesi' yang ditayangkan Katadata.co.id, Rabu (21/10).

Chatib menjelaskan, pemulihan ekonomi sangat erat kaitannya dengan penyelesaian pandemi, terutama bergantung pada vaksin. Namun dia pesimistis vaksinasi bakal rampung pada tahun depan.

"Selama vaksin belum selesai didistribusikan, maka protokol kesehatan perlu diterapkan. Dengan protokol kesehatan, ekonomi tidak mungkin 100% karena ada isu jaga jarak," katanya

Protokol kesehatan memiliki implikasi besar pada dunia usaha. Ia mencontohkan sejumlah bisnis yang harus membatasi kapasitas seperti angkutan udara yang hanya diperbolehkan mengangkut 70% kapasitas dan restoran yang hanya melayani 50%.

Padahal, biaya operasional seperti listrik dan gaji karyawan tetap harus dibayar penuh. "Dengan kapasitas yang dibatasi, sulit untuk dunia usaha mencapai BEP (pendapatan minimal seimbang dengan modal)," katanya. 

Oleh karena itu, ia memperkirakan, perekonomian pada tahun depan paling optimistis berjalan 70% hingga 80%. Dengan target pemerintah dalam APBN 2021 sebesar 5%, pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mencapai 3,5% hingga 4%. "Belanja pemerintah tahun depan masih sangat pentig karena swasta belum sepenuhnya bisa berjalan," katanya.

Meski demikian, ia memperkirakan ekonomi pada kuartal pertama tahun depan sudah kembali positif jika tidak terjadi gelombang dua lonjakan kasus Covid-19. "Bahkan kalau sedikit agak baik, kuartal keempat (2020) sudah dapat positif," katanya.

Dengan berbagai kondisi yang ada, menurut Chatib, pola pemulihan ekonomi Indonesia sulit untuk membentuk kurva seperti huruf V meski situasi ekonomi terburuk diperkirakan sudah terjadi pada kuartal II lalu. Sehingga, yang paling mungkin membentuk kurva seperti logo Nike atau huruf U. Sementara bila terjadi lonjakan kasus, kemungkinannya bisa huruf W.

IMF, Bank Dunia, serta OECD memproyeksi ekonomi Indonesia pada tahun ini terkontraksi 1% hingga 3%. Namun, ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh 5% hingga 6% pada tahun depan.  Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 berada di level minus 2% hingga 1%.

Namun, perekonomian akan mulai memasuki masa pemulihan pada 2021 dan tumbuh 4,4%. Perbaikan tersebut dengan asumsi kurva infeksi Covid-19 sudah menunjukkan perlambatan disertai prospek penemuan dan produksi vaksin. Perbaikan tersebut dengan asumsi kurva infeksi Covid-19 sudah menunjukkan perlambatan disertai prospek penemuan dan produksi vaksin.

Wawancara lengkap Katadata dengan Chatib Basri dapat dilihat di sini.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait