Pekan Depan, Pemerintah Tarik Utang Rp 11 T Lewat Lelang Sukuk

Agatha Olivia Victoria
23 Juni 2021, 12:28
lelang sukuk, sukuk, lelang surat utang, utang, utang pemerintah
Donang Wahyu|KATADATA
Total utang pemerintah hingga April 2021 mencapai Rp 6.257,29 triliun, setara dengan 41,18% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Pemerintah akan kembali menarik utang melalui lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara pada Selasa (29/6). Melalui lelang tersebut, pemerintah menargetkan dapat menghimpun dana Rp 11 triliun. 

Berdasarkan keterangan resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, seri SBSN yang akan dilelang adalah satu seri SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara-Syariah) dan lima seri PBS (Project Based Sukuk). Seri PBS028 memiliki kupon tertinggi 7,75% dengan tenor terpanjang yakni  jatuh tempo pada 15 Oktober 2046.

Lalu seri PBS027 memperoleh kupon 6,5% dan jatuh tempo pada 15 Mei 2023. Seri PBS029 mendapatkan kupon 6,375% dan jatuh tempo 15 Maret 2034. Seri PBS017 memperoleh bunga 6,125% dan jatuh tempo pada 15 Oktober 2025.  Seri PBS030 memiliki kupon paling kecil yakni 5,875% dan jatuh tempo pada 15 Juli 2028.

Sementara seri SPN-S 03122021 memiliki kupon diskonto dan jatuh tempo pada 3 Desember 2021.

Adapun underlying asset pada lelang sukuk ini merupakan proyek atau kegiatan dalam APBN tahun 2021 dan Barang Milik Negara. Setelmen atau pencatatan akan dilakukan pada 1 Juli 2021.

Alokasi pembelian non kompetitif dari seri SPN-S adalah 50% dari jumlah yang dimenangkan. Sedangkan untuk seri PBS sebesar 30% dari total yang diserap.

Peserta lelang kali ini terdiri dari dealer utama yang meliputi PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk, PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, PT. Bank Permata, Tbk, dan PT. Bank Panin, Tbk. Kemudian, PT. Bank HSBC Indonesia, PT. Bank OCBC NISP, Tbk, Standard Chartered Bank, PT. Bank CIMB Niaga, Tbk, dan PT. Bank Maybank Indonesia, Tbk.

Lalu, Citibank N.A, PT. Bank Central Asia, Tbk, Deutsche Bank AG, PT. BRI Danareksa Sekuritas, PT. Mandiri Sekuritas, PT. Trimegah Sekuritas Indonesia, Tbk, PT. Bahana Sekuritas, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Lembaga Penjamin Simpanan dan Bank Indonesia (BI) turut menjadi peserta lelang. 

Pemerintah kian gencar menarik utang, terutama melalui surat berharga negara (SBN) dan SBSN di tengah pandemi. Total utang pemerintah hingga April 2021 mencapai Rp 6.257,29 triliun, setara dengan 41,18% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Ketua BPK Agung Firman Sampurna menjelaskan, tren pertumbuhan utang sudah jauh melampaui pertumbuhan PDB. Hal ini, menurut dia, menimbulkan kekhawatiran terhadap menurunnya kemampuan pemerintah membayar utang.

"Tren penambahan utang yang memunculkan kekhawatiran penurunan kemampuan pemerintah untuk membayar utang dan bunga utang," kata Ketua BPK Agung Firmansyah dalam Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa (22/6).

Ia menjelaskan, indikator kerentanan utang pemerintah pada tahun lalu sudah melampaui batas yang direkomendasikan Dana Moneter Internasional (IMF) dan/atau International Debt Relief (IDR). Rasio debt service Indonesia terhadap penerimaan sebesar 46,77, melampaui rekomendasi IMF sebesar 25-35%.

Rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan yang mencapai 19,06% juga melampaui saran IDR sebesar 4,6-6,8% dan rekomendasi IMF sebesar 7-10%. Tak hanya itu, rasio utang terhadap penerimaan sebesar 369% juga melampaui rekomendasi IDR sebesar 92-167% dan rekomendasi IMF 90-150%.

Di sisi lain, indikator kesinambungan fiskal tahun 2020 yang sebesar 4,27% melampaui batas yang direkomendasikan The International Standards of Supreme Audit Institutions (ISSAI) 5411 – Debt Indicators, yaitu di bawah 0%. Kemenkeu mencatat utang pemerintah hingga akhir tahun lalu melonjak 27% dari Rp 4.778 triliun pada akhir 2019 menjadi Rp 6.074 triliun. Lonjakan utang pemerintah terjadi akibat pelemahan ekonomi dan kebutuhan pembiayaan yang meningkat untuk penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait