Konsumsi Loyo pada Kuartal III Akibat PPKM, Sandang Paling Terpukul

BPS mencatat, konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2021 hanya tumbuh 1,03% secara tahunan, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,96%.
Image title
5 November 2021, 11:27
konsumsi, konsumsi rumah tangga, konsumsi sandang, ppkm
ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/wsj. mi
Ilustrasi. BPS mencatat konsumsi sandang terkontraksi 14,27% pada kuartal ketiga tahun ini dibandingkan kuartal ketiga tahun lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2021 hanya tumbuh 1,03% secara year-on-year (yoyKonsumsi melambat seiring Pemberlakuan Pembatasan Mobilitas Masyarakat (PPKM) yang membatasi mobilitas masyarakat.

"Yang menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga karena adanya kontraksi pada jumlah penumpang angkutan rel dan udara baik domestik maupun internasional, dimana pada kuartal ketiga ini masing-masing kontraksi 40,10% dan 23,30%," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers virtual, Jumat (5/11).

Ia menjelaskan, indikator yang mendorong perlambatan konsumsi yakni kontraksi pada konsumsi sandang sebesar 14,27%. Konsumsi suku cadang dan akseseoris, serta peralatan informasi dan telekomunukasi juga terkontraksi masing-masing   9,29% dan 32,38%.

"Namun penjulan eceran untuk komoditas makanan, minuman dan tembakau masih tumbuh 5,79%, menguat dari periode yang sama tahun lalu," kata Margon.

Namun, konsumsi masih mampu tumbuh positif terlihat dari nilai transkasi uang elektronik, kartu debit dan kartu kredit masih tumbuh 9,42% secara yoy. Kinerja ini lebih kuat dari kontraksi 8,75% pada tahun lalu.

Margo juga mencatat lima dari tujuh komponen pembentu konsumsi masih berhasil tumbuh positif pada kuartal ketiga tahun ini. Konsumsi rumah tangga untuk komponen makanan dan minuman selain restoran tumbuh 0,75% secara yoy, melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya 4,15  tetapi lebih baik dari kontraksi 0,69% tahun lalu.

Komponen perumahan dan perlengkapan rumah tangga tercatat tumbuh 2,29%, menguat baik dibandingkan kuartal sebelumnya 2,08% maupun tahun lalu 1,82%. Komponen kesehatan dan pendidikan yang tumbuh 2,44%, lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya 1,05% dan tahun lalu 2,05%.

Konsumsi untuk restoran dan hotel juga masih tumbuh positif 2,48%, membaik dari kontraksi dalam 10,94% tahun lalu meski melambat dari 16,38% pada kuartal sebelumnya. 

Komponen pakaian, alas kaki dan jasa perawatannya terkontraksi 0,46%, memburuk dari pertumbuhan 1,64% pada kuartal sebelumnya, tetapi masih lebih baik dari kontrkasi 4,29% tahun lalu.

Hal yang sama juga pada komponen transportasi dan komunikasi yang terkontraksi 0,21%, melambat dari pertumbuhan 10,46% pada kuartal sebelumnya tetapi menguat dari kontraksi 11,56% tahun lalu.

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini mencapai 3,51%. Realisasi ini lebih rendah dibandingkan proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mencapai 4,5%.

Adapun berdasarkan komponen pembentuknya, pertumbuhan tertinggi pada komponen perdagangan internasional. Ekspor berhasil tumbuh 29,16%, begitu juga impor yang tumbuh lebih tinggi yakni 30,11%. Meski demikian empat komponen lainnya masih tumbuh positif sekalipun melambat. Konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 1,03%, konsumsi LNPRT tumbuh 2,96%, konsumsi pemerintah 0,66% dan investasi (PMTB) tumbuh 3,74%.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait