PT Pertamina (Persero) melakukan antisipasi gangguan stok minyak mentah (crude) dari wilayah Timur Tengah yang dalam beberapa waktu terakhir ini terjadi konflik antara Iran-Israel.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan perusahaannya telah menyiapkan beberapa langkah antisipasi agar pasokan Pertamina untuk kebutuhan dalam negeri tidak terganggu.

“Optimalisasi produksi minyak mentah dalam negeri agar bisa dimaksimalkan untuk kebutuhan dalam negeri,” kata Fadjar saat dihubungi Katadata.co.id pada Senin (22/4).

Sebagai informasi, pada Jumat (19/4) Israel kembali melancarkan serangan ke Iran pada Jumat (19/4). Rudal-rudal Israel dikabarkan menghantam sebuah lokasi di Iran.

Informasi tersebut diperoleh dari seorang pejabat Amerika Serikat (AS) kepada ABC News pada Kamis (18/4) malam, tanpa bisa mengonfirmasi apakah lokasi-lokasi di Suriah dan Irak juga terkena dampak serangan udara tersebut.

Kantor berita Fars Iran mengatakan, ledakan terdengar di sekitar Kota Qahjavaristan yang lokasinya berada di dekat Bandara Isfahan dan Pangkalan Shekhari ke-8 Angkatan Udara di barat laut Isfahan.

Selain optimalisasi produksi dalam negeri, Pertamina mengatakan bahwa impor minyak mentah mereka berasal dari beberapa negara. “Pertamina mengimpor minyak mentah dari Arab Saudi, Nigeria dan beberapa negara Afrika. Jadi tidak bergantung hanya kepada satu dua negara saja dan dari Timur Tengah saja,” ujarnya.

Kendati demikian, Fadjar menyebut perusahaannya akan menjajaki rute alternatif sebagai antisipasi dari kondisi geopolitik Timur Tengah saat ini. “Untuk mitigasi jalur distribusi minyak mentah, Pertamina juga menjajaki rute pelayaran kapal-kapal kita agar tidak melalui wilayah konflik,” ucapnya.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mempertimbangkan pencarian suplai minyak mentah dari negara Afrika. Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut hal ini lantaran kondisi geopolitik konflik Timur Tengah antara Israel Iran.

“Masalah geopolitik ini serius, Ukraina belum selesai sudah timbul konflik di Timur Tengah sehingga tensi pasokan di Asia juga harus diantisipasi,” kata Arifin saat ditemui di Direktorat Jenderal Minyak dan Bumi pada Jumat (19/4).

Arifin menyebut pihaknya memastikan bahwa suplai minyak mentah akan tetap ada sembari mencari suplai-suplai tambahan sebagai alternatif.

Arifin mengatakan suplai minyak mentah kemungkinan akan dipasok dari negara-negara Afrika seperti Mozambik. “Kalau berdasarkan mapping bisa (stok) dari beberapa negara Afrika yang tidak lewat (Selat Hormuz),” ucapnya.

Tidak hanya Afrika, pemerintah mengatakan pasokan tambahan juga bisa didapatkan dari Amerika Latin. “Bisa juga dari latin, tapi bukan Venezuela karena mereka disanksi. Mungkin ada yang baru seperti Guyana. Kita harus melihat jangka panjangnya” kata dia.

Arifin menjelaskan bahwa Indonesia saat ini mengimpor minyak mentah sebanyak 240 ribu barel per hari (bph) yang berasal dari berbagai negara. “Beberapa negara Arab Saudi light crude, ada juga dari Nigeria,” katanya.

Reporter: Mela Syaharani