Subsidi Listrik 2026 Naik Jadi Rp 101,7 Triliun, Pemerintah Genjot Akses ke Desa

Kementerian ESDM
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengunjungi pembangunan LNG Terapung di galangan kapal Wison New Energies, Kota Nantong, Cina. Foto: Kementerian ESDM
28/8/2025, 08.33 WIB

Pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi listrik 2026 sebanyak Rp 101,72 triliun. Jumlah tersebut naik 16% atau Rp 14 triliun dibandingkan anggaran 2025 yang mencapai Rp 87,72 triliun.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut kenaikan anggaran subsidi tahun depan terkait dengan jumlah pengguna listrik.

“Itu jumlah pelanggan listrik naik, nanti akan kami lampirkan dari berapa ke berapa (kenaikannya),” kata Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR pada Rabu (27/8).

Bahlil menyebut ketersediaan listrik bagi masyarakat merupakan salah satu arahan Presiden Prabowo Subianto. Saat ini masih terdapat 5.700 desa dan 4.400 dusun, atau total 10.068 titik di Indonesia, yang belum teraliri listrik.

“Nah untuk 2026 arahan Bapak Presiden untuk kami melakukan percepatan,” ujarnya.

Sepanjang Januari–Juli 2025, realisasi subsidi listrik telah mencapai Rp48,12 triliun atau 54,86% dari total anggaran tahun ini.

Anggaran Subsidi Listrik Bakal Jebol

Sebelumnya, Kementerian ESDM memproyeksi jumlah anggaran subsidi listrik yang harus dikeluarkan pemerintah pada 2025 mencapai Rp 90,32 triliun. Jumlah tersebut meningkat 3% atau Rp 2,6 triliun dari target APBN 2025 sebesar Rp 87,72 triliun. 

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jisman P. Hutajulu menjelaskan bahwa peningkatan subsidi listrik ini disebabkan fluktuasi parameter penetapan tarif listrik yakni harga minyak mentah Indonesia (ICP), kurs, dan inflasi.

“Hal yang mendasari terutama kurs dan ICP yang sangat volatile, tidak bisa kita kendalikan. Kurs rupiah dari Rp 14.000 menjadi Rp 16.000, jadi ada peningkatan subsidi,” kata Jisman dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR, Senin (30/6). 

Hingga Mei 2025, realisasi subsidi listrik telah mencapai Rp35 triliun. Angka ini berasal dari volume penjualan listrik bersubsidi sebesar 31 tera watt hour (TWh). 

Jisman memperkirakan volume penjualan mencapai 76,63 TWh hingga akhir 2025. Angka ini melampaui target APBN 2025 sebanyak 73,13 TWh dan realisasi penjualan 2024 sebesar 71,52 TWh.

“Jadi ada potensi penambahan penjualan, mungkin karena kondisi ekonomi lebih baik sehingga penggunaan listriknya juga bertambah,” katanya.

Anggaran Subsidi Listrik Sejak 2020:

  • 2020: Rp 47,99 triliun
  • 2021: Rp 49,80 triliun
  • 2022: Rp 58.83 triliun
  • 2023: Rp 68,64 triliun
  • 2024: Rp 77,05 triliun
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani