Regulator Cina Desak Evergrande Hindari Gagal Bayar Obligasi Dolar

ANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter/WSJ/cf
Penulis: Yuliawati
24/9/2021, 15.53 WIB

Regulator Tiongkok mengadakan pertemuan dengan perwakilan China Evergrande Group membahas krisis utang yang membelit perusahaan tersebut, baru-baru ini. Beijing meminta Evergrande menghindari gagal bayar atau default pada obligasi bermata uang dolar, menyelesaikan proyek properti yang tertunda dan membayar para investor retail.

Evergrande terbelit utang jumbo yang jatuh tempo pada Kamis pekan ini. Nilai bunga obligasi yang harus dibayar sebesar US$ 83,5 juta atau lebih Rp 1,2 triliun. Ada pula pembayaran bunga surat utang senilai US$ 47,5 juta atau sekitar Rp 676 miliar. Kedua obligasi akan gagal bayar apabila Evergrande tidak melunasinya dalam waktu 30 hari.

Berdasarkan informasi Bloomberg, para pemegang obligasi dolar Evergrande dengan kupon yang jatuh tempo pada Kamis kemarin belum menerima pembayaran hingga pukul 5 sore waktu Hongkong.

Selain kewajiban membayar bunga obligasi pada pekan ini, Bloomberg mencatat Evergrande memiliki kewajiban membayar kupon obligasi US$ 669 juta atau sekitar Rp 9,5 triliun hingga akhir tahun ini.

Dalam pertemuan tersebut, regulator mengatakan perusahaan harus berkomunikasi secara proaktif dengan pemegang obligasi untuk menghindari default. Narasumber yang mengetahui pertemuan tersebut mengatakan dalam pertemuan tersebut tak ada panduan yang lebih spesifik.

"Tidak ada indikasi bahwa regulator menawarkan dukungan keuangan kepada Evergrande untuk pembayaran obligasi, dan tidak jelas apakah pejabat percaya bahwa perusahaan pada akhirnya harus membebankan kerugian pada kreditur luar negeri," ditulis Bloomberg, dikutip pada Jumat (24/9).  



Dow Jones melaporkan pihak berwenang menginstruksikan lembaga pemerintah daerah dan perusahaan milik negara untuk turun tangan hanya pada menit terakhir jika Evergrande gagal mengelola urusannya secara tertib. Pihak berwenang mengisyaratkan keengganan untuk menyelamatkan Evergrande, menurut Dow Jones yang mengutip pejabat yang mengetahui diskusi tersebut.

Evergrande kemungkinan mencapai kesepakatan dengan pemegang obligasi lokal untuk menunda pembayaran sehingga terhindar dari gagal bayar. Namun, belum jelas apakah Evergrande dapat menempuh langkah yang sama untuk obligasi dolarnya.

Langkah Bank sentral Tiongkok, People's Bank of China (PBoC) menyuntikkan dana 90 miliar yuan (US$ 13,9 miliar) atau sekitar Rp 198 triliun ke dalam sistem perbankan pada Rabu (22/9) merupakan upaya untuk meredam sentimen negatif di pasar. Beberapa analis mengatakan perlu waktu berminggu-minggu bagi investor untuk memiliki kejelasan tentang bagaimana krisis Evergrande ini akan beres.

Chairman Evergrande Hui Ka Yan berusaha meyakinkan investor perusahaannya dapat keluar dari situasi sulit saat ini. Ia memastikan pihaknya akan menyelesaikan pesaanan properti dan melanjutkan pembangunan konstruksi yang tertunda.

Mengutip Reuters, komentar Hui Ka Yan pada Rabu malam (23/9) jelas ditujukan untuk menstabilkan pasar. "Tampaknya tidak banyak informasi bagi pemegang obligasi. Belum ada rencana yang jelas, tapi kami memperkirakan utang akan direstrukturisasi di beberapa titik," kata seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut, seperti dikutip dari Reuters.

Selain kewajiban terhadap obligasi dan bunganya, perusahaan juga memiliki utang lebih dari US$ 300 miliar atau setara Rp 2.437 triliun. Angkanya tidak jauh dari produk domestik bruto (PDB) Filipina 2020 yang sekitar US$ 361,5 miliar, menurut data Bank Dunia. Sebagian besar utang ini merupakan kewajiban kepada pembeli rumah, pemasok, dan lembaga keuangan lokal.