Negara-negara Siapkan Langkah Darurat Hadapi Dampak Perang AS-Iran
Sejumlah negara di dunia mulai menyiapkan berbagai langkah darurat untuk meredam dampak ekonomi dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu lonjakan harga energi global dan gangguan rantai pasok.
Perang di kawasan Timur Tengah tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak tajam hingga mendekati US$ 120 per barel dari sekitar US$ 72 per barel sebelum konflik dimulai.
Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi, terutama setelah terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Gangguan tersebut juga memicu kenaikan harga berbagai komoditas lain seperti gas alam cair (LNG), pupuk, dan bahan bakar jet, sehingga meningkatkan risiko inflasi global serta perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Negara-Negara Ambil Langkah Darurat
Menurut laporan Bloomberg, sejumlah negara mulai mengkaji opsi-opsi kebijakan pada Rabu (11/3) setelah awalnya mengambil sikap menunggu dan mengamati perkembangan perang Iran dengan AS dan Israel.
Presiden Korea Selatan telah menyerukan pembatasan harga bahan bakar. Pemerintah Inggris mempertimbangkan dukungan bagi rumah tangga. Sementara itu, pejabat India tengah mempertimbangkan langkah untuk meredam lonjakan biaya energi.
Para pembuat kebijakan, menteri keuangan negara-negara Kelompok Tujuh (G7) menggelar pertemuan virtual, pada Senin (9/3), untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi.
Mereka menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk untuk mendukung pasokan energi global seperti melalui pelepasan cadangan.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure mengatakan, keputusan untuk benar-benar melepas cadangan bahan bakar belum diambil. Namun, pemerintah terus memantau situasi dengan cermat bersama Badan Energi Internasional (IEA).
Pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi sebelumnya hanya pernah dilakukan lima kali, termasuk dua kali setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Negara lainnya seperti Vietnam menurunkan tarif impor untuk beberapa produk minyak bumi. Thailand meningkatkan penggunaan campuran biofuel untuk mengurangi kebutuhan impor minyak mentah serta membekukan harga gas memasak.
Indonesia dan Malaysia menyatakan akan mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi dan membiarkan anggaran pemerintah menanggung dampaknya.
Di Filipina, pemerintah mewajibkan langkah penghematan listrik dan mempersingkat minggu kerja menjadi empat hari. Negara tropis tersebut hanya memiliki stok bahan bakar hingga April dan sedang memasuki musim panas ketika permintaan energi berada pada puncaknya.
Dampak Ekonomi Global
Meski produsen energi terbesar dunia seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Arab Saudi relatif lebih terlindungi dari lonjakan harga minyak, dampak akhirnya akan dirasakan secara global. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat karena konsumen dan pelaku usaha harus menekan pengeluaran di tengah kenaikan harga.
Bagi bank sentral, kombinasi kenaikan harga dan perlambatan pertumbuhan membuat prospek kebijakan moneter menjadi lebih rumit. Meski pejabat kemungkinan akan mengabaikan lonjakan harga awal, jika kondisi ini berlangsung lama maka kemungkinan mereka harus berbalik dari rencana penurunan suku bunga menjadi kenaikan suku bunga.
Para pelaku pasar sudah mulai mengurangi ekspektasi terhadap kecepatan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini, serta menyesuaikan perkiraan terhadap kebijakan Bank Sentral Eropa dan Bank of England.
Di sisi lain, ruang fiskal untuk meredam guncangan energi juga terbatas akibat bertahun-tahun menghadapi berbagai krisis yang membuat pemerintah menanggung utang besar.
Total utang global melonjak ke rekor US$ 348 triliun pada tahun lalu, mencatat kenaikan tahunan tercepat sejak pandemi karena pemerintah meningkatkan pembiayaan utang, menurut laporan Institute of International Finance.
Negara-negara berkembang menghadapi kebutuhan pembiayaan ulang lebih dari US$ 9 triliun tahun ini, meningkatkan risiko di tengah kondisi likuiditas global yang berfluktuasi.
Fitch Ratings menilai perang ini juga meningkatkan risiko kredit bagi negara berkembang. Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan beban subsidi dan impor, serta berpotensi mengganggu arus remitansi, pariwisata, dan investasi.
Fitch menilai India dan Filipina termasuk negara yang paling rentan karena impor bahan bakar fosil bersih mereka melebihi 3 persen dari produk domestik bruto.
Negara-negara berkembang di Asia sangat rentan terhadap dampak ekonomi tersebut. Pengemudi di kota-kota, seperti Hanoi dan Manila, bahkan mengalami antrean panjang untuk mengisi bahan bakar.