Rupiah Melemah Rp 15.719 per Dolar AS Jelang Rilis Data Inflasi RI

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Petugas menyusun uang pecahan rupiah di Jakarta, Rabu (31/1/2024). Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan nilai tukar rupiah akan menguat di semester II 2024, hal tersebut didasari dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menjadi salah satu terbaik di dunia pada 2023 yakni, masih berada di kisaran 5 persen.
1/3/2024, 09.25 WIB

Nilai tukar rupiah melemah 0,17% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp 15.719 pada perdagangan Jumat (1/3). Analis pasar uang Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan dibuka datar dengan kecenderungan melemah terbatas.

Hal ini disebabkan karena investor masih menanti data inflasi Indonesia yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini. “Di sisi lain, dolar AS menguat setelah data inflasi PCE AS yang sesuai dengan perkiraan,” ujar Lukman kepada Katadata.co.id, Jumat (1/3).

Dengan kondisi itu, Lukamn memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 15.650 - Rp 15.750 per dolar AS. Meski data inflasi AS, Core PCE Price Index dirilis lebih rendah dari bulan sebelumnya 2,9% menjadi 2,8%. Namun Index dolar AS ditutup menguat dan berhasil kembali di atas kisaran 104.

Dengan demikian, Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menilai rupiah akan mendapatkan tekanan dari dolar AS. Selain itu, data PMI manufaktur Cina yang dirilis pagi ini juga masih menunjukkan level kontraksi di level 49.1.

“Artinya belum ada pemulihan berarti pada sektor manufaktur Cina yang menjadi penggerak perekonomian negara-negara partner dagang Cina seperti Indonesia dan bisa memberikan sentimen negatif ke rupiah,” ujar Ariston.

Kenaikan Harga Pangan Beri Sentimen ke Rupiah

Dari dalam negeri, isu kenaikan harga pangan masih memberikan sentimen negatif ke rupiah. “Naiknya inflasi akibat kenaikan harga pangan bisa menurunkan daya beli masyarakat dan mengganggu pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Dari luar negeri, penurunan inflasi AS seakan menegaskan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada semester II 2024. Sehingga ekspektasi pasar bisa menahan penguatan dolar AS.

Ariston memperkirakan pelemahan rupiah ke arah Rp 15.750 per dolar AS, dengan potensi support sekitar Rp 15.690 - Rp 15.700 per dolar AS.

Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS. Melansir Bloomberg, baht Thailand menguat 0,03%, ringgit Malaysia menguat 0,10%, rupee India menguat 0,02%, dan peso Filipina menguat 0,20%.

Reporter: Zahwa Madjid