Apa arti Tembok Ratapan Solo yang Sempat Viral di Rumah Jokowi? Ini Kronologinya

Katadata
apa arti tembok ratapan solo
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
20/2/2026, 17.17 WIB

Pertanyaan mengenai apa arti Tembok Ratapan Solo tengah ramai diperbincangkan oleh netizen Indonesia dan menjadi trending topic di media sosial. Obrolan netizen terkait Tembok Ratapan Solo berawal dari screenshot layar hasil penelusuran Google Maps yang diunggah salah satu warganet dan menunjukkan nama “Tembok Ratapan Solo” pada sebuah titik lokasi di Solo, Jawa Tengah.

Berdasarkan tangkapan layar yang viral tersebut, lokasi Tembok Ratapan Solo tercatat berada di Jalan Kutai Utara No. 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57138. Setelah ditelusuri, alamat itu merupakan kediaman pribadi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan keluarganya. Sejak saat itu, publik mempertanyakan apa arti Tembok Ratapan Solo dan bagaimana rumah Jokowi bisa mendapatkan label tersebut.

Apa Arti Tembok Ratapan Solo?

Secara istilah, Tembok Ratapan Solo merujuk pada penamaan tidak resmi yang sempat muncul di Google Maps untuk alamat rumah Jokowi di Solo. Frasa “Tembok Ratapan” memiliki rujukan historis pada Western Wall di Yerusalem, situs suci tempat berdoa dan meratap umat yahudi.

Dalam konteks viralnya video yang ada Solo, istilah ini kemudian digunakan secara metaforis dan dinilai sebagai bentuk satire. Banyaknya warga yang datang ke rumah Jokowi untuk bersalaman, berbincang, hingga berfoto bersama memunculkan persepsi bahwa lokasi tersebut menjadi tempat menyampaikan harapan atau keluh kesah.

Bagaimana Rumah Jokowi Bisa Dinamai Tembok Ratapan Solo?

Munculnya label tersebut berkaitan dengan mekanisme pembaruan di Google Maps. Dalam sistem terbaru, seseorang dapat memberi nama tempat yang belum teridentifikasi di peta. Selain itu, pengguna juga bisa mengedit nama tempat yang sudah ada melalui fitur kontribusi publik.

Dengan memanfaatkan tombol edit nama, perubahan dapat diusulkan dan kemudian melalui proses verifikasi sesuai kebijakan platform. Karena berbasis user-generated content, label suatu tempat bisa muncul dan berubah sewaktu-waktu.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai siapa pihak di balik perubahan nama kediaman Jokowi menjadi “Tembok Ratapan Solo”. Namun, per Selasa 17 Februari 2026, nama tersebut sudah tidak lagi muncul di Google Maps.

Viral Dipicu Video Warga

Sebelum label di Google Maps viral diperbincangkan netizen, sejumlah video aktivitas warga di depan rumah Jokowi lebih dulu beredar dan ditonton ratusan ribu viewers. Salah satu rekaman memperlihatkan seorang pria berdiri di depan gerbang sambil memegang tembok, seolah-olah sedang meratap.

Video tersebut sempat diunggah ulang oleh akun Instagram @lambeturah dan menyebar luas. Selain itu, akun X milik Umar Hasibuan pada 13 Februari mengunggah video berdurasi 1 menit 39 detik yang memperlihatkan masyarakat duduk di depan rumah Jokowi.

Dalam video tersebut, warga terlihat duduk bersila sambil melantunkan tahlilan. Narasi yang menyertai unggahan tersebut memicu berbagai respons dari warganet.

Tahlilan sendiri merupakan tradisi keagamaan dalam masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di kalangan Jawa, berupa doa bersama untuk orang yang telah meninggal dunia. Tradisi ini juga kerap dilakukan untuk memohon keselamatan dan ketenteraman.

Ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, membenarkan bahwa video tahlilan tersebut asli dan terjadi pada 18 Januari 2026.

Ia menjelaskan bahwa pihak pondok pesantren sebelumnya telah mengirimkan surat kunjungan. Namun pada saat yang sama, Jokowi harus berangkat ke Jakarta untuk menghadiri dan menjadi saksi pernikahan asisten pribadi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Mas Agung Surahman.

Aktivitas Warga yang Sudah Lama Terjadi

Kediaman Jokowi di Solo memang telah lama dikenal sering dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Bahkan setelah mengakhiri masa jabatan sebagai Presiden pada 2024, warga tetap berdatangan untuk bertemu langsung dengan ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tersebut.

Saat berada di Solo dan dalam kondisi sehat, Jokowi kerap menyempatkan diri menemui warga di teras rumahnya. Tidak ada pembatasan khusus bagi pengunjung.

Politisi PDI Perjuangan (PDIP) Aria Bima turut angkat bicara mengenai fenomena ini. Ia menilai penamaan tersebut tidak pantas dan mengingatkan pentingnya etika dalam penggunaan ruang digital.

PDIP secara umum menghimbau masyarakat agar lebih bijak memanfaatkan platform digital. Sistem berbasis crowdsourcing seperti Google Maps memang memberikan ruang partisipasi luas, tetapi tetap memerlukan tanggung jawab bersama.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.