Advertisement
Advertisement
Analisis | Masa Depan Cerah Gim Online di Indonesia - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Masa Depan Cerah Gim Online di Indonesia

Foto: Ilustrasi: Andre Rahman Tamatalo/ Katadata
Pasar gim online di Indonesia memiliki potensi besar. We are Social dan Hootsuite memperkirakan 60% pengguna internet di tanah air aktif memainkan gim di gawainya. Tapi, porsi gim lokal sedikit. Mayoritas aplikasi gim produksi luar negeri.
Dimas Jarot Bayu
8 Juni 2021, 10.05

Penggemar gim online yang terus meningkat membuat Indonesia menjadi pasar potensial industri gim dunia. Terutama gim mobile atau permainan piranti bergerak, yakni permainan video yang dimainkan pada telepon seluler, komputer tablet, konsol, kalkulator, atau jam digital.

We are Social dan Hootsuite mencatat pengguna internet di Indonesia sebanyak 202,6 juta orang per Januari 2021. Sementara jaringan mobile aktif mencapai 345,3 juta, atau 125,6% dari total populasi. Angka yang lebih tinggi lantaran ada penduduk yang menggunakan lebih dari satu gawai saat beraktivitas di internet.

Mayoritas pengguna internet memang memanfaatkan gawainya untuk melakukan percakapan atau bermedia sosial. Namun bermain gim adalah salah satu yang sering dilakukan. Sekitar 60,2% pengguna internet menggunakan aplikasi gim di gawainya. Mayoritas gawai yang mereka pakai adalah telepon pintar (smartphone) sebanyak 88,9%. 

Menurut Statista, jumlah pemain gim mobile di Indonesia mencapai 54,7 juta pada 2020. Jumlahnya naik 24% dibandingkan 2019 sebanyak 44,1 juta. Hal ini sekaligus membuat porsi unduhan gim mobile Indonesia yang terbesar di Asia Tenggara.

Berdasarkan data AppAnnie, 30% unduhan gim mobile di Asia Tenggara ada di Indonesia pada 2020. Posisi kedua ditempati Vietnam sebesar 22%, Filipina (16%), Thailand (15%), dan Malaysia (8%). Sedangkan, proporsi unduhan gim online dari Singapura di Asia Tenggara hanya sebesar 1%.

Seiring hal tersebut, pendapatan dari gim mobile di Indonesia pun mencapai sebesar US$ 1,3 miliar pada 2020, naik 10,8% dari tahun sebelumnya yang sebesar US$ 982 juta. Pendapatan tersebut diperkirakan meningkat menjadi US$ 1,5 miliar pada 2021.

Menurut Statista, nilai tersebut merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara, mengalahkan Filipina (US$ 1,03 miliar), Thailand (US$ 286 juta), Malaysia (US$ 236 juta), Vietnam (US$ 205 juta), dan Singapura (US$ 114 juta). 

Meski demikian, industri gim dalam negeri belum merasakan keuntungan tersebut. Mayoritas pendapatan diraup perusahaan gim luar negeri. Sementara pangsa pasar gim lokal masih sangat kecil.

Menurut CEO Agate, Arief Widhiyasa, sebanyak 68% pangsa pasar gim di tanah air dikuasai Tiongkok. Gim mobile asal Negeri Panda itu, antara lain PUBG, Game for Peace, Clash of Clans, dan lainnya.

“Pangsa pasar gim lokal hanya 0,4%,” kata dia dalam acara Next Gen Summit 2021 pada 6 April 2021 lalu. Arief mengatakan, salah satu penyebab industri gim lokal kalah bersaing lantaran minimnya investasi.

Dalam laporan bertajuk "Peta Ekosistem Industri Game 2020", sebanyak 67,5% perusahaan gim lokal menggunakan biaya personal sebagai pendanaan. Perusahaan yang mendapatkan pendanaan dari angel investment hanya sebesar 10,8%, venture capital investment 4,8%, incubator/accelarator 3,6%, dan crowdfunding 1,2%/. Sementara, ada 12% perusahaan yang mendapatkan sumber pendanaan dari lainnya.

Halaman:

Editor: Aria W. Yudhistira