Advertisement
Advertisement
Analisis | Merunut Sumber Senyawa Berbahaya dalam Obat Sirop Anak - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Merunut Sumber Senyawa Berbahaya dalam Obat Sirop Anak

Foto: Joshua Siringo-ringo/ Ilustrasi/ Katadata
Kasus kematian akibat etilen glikol (EG) dan produk turunannya di Indonesia menjadi yang terbesar kedua di dunia. Pemerintah masih menginvestigasi sumber pencemaran senyawa kimia berbahaya tersebut pada obat sirop untuk anak-anak.
Reza Pahlevi
26 Oktober 2022, 09.11
Button AI Summarize

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat terdapat 245 kasus anak menderita gagal ginjal akut misterius hingga Senin, 24 Oktober 2022. Rasio kematian kasus tersebut tinggi, yakni mencapai 58% atau terdapat 141 kasus kematian akibat penyakit tersebut. Angka kasus ini kemungkinan masih akan terus bertambah.

Kasus pertama kali dilaporkan pada 2 Januari 2022. Namun, lonjakan kasus mulai terjadi pada Agustus. Sebagian besar terjadi pada kelompok usia 1-5 tahun yang mencapai 161 kasus atau 65%. Penyakit sudah menyebar di 26 provinsi dan DKI Jakarta yang terbanyak mencapai 55 kasus. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan penyebab merebaknya kasus gagal ginjal akut ini akibat mengonsumsi obat sirop yang mengandung senyawa kimia berbahaya. Senyawa kimia tersebut adalah etilen glikol (EG), serta turunannya seperti dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol mono-butyl ether (EGBE). 

Kemenkes telah melakukan pengujian pertama kali ketika Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis empat obat sirop di Gambia yang mengandung senyawa tersebut. Di negara Afrika tersebut, tercatat sudah ada 70 anak yang meninggal akibat kontaminasi ini.

Sejak temuan itu, Kemenkes pun memeriksa kandungan EG beserta turunannya pada anak-anak penderita gangguan ginjal akut. Hasilnya, 7 dari 10 anak yang diperiksa menunjukkan ada kandungan senyawa tersebut di urin atau darahnya.

“Hasilnya kami simpulkan penyebabnya adalah obat-obat kimia yang merupakan cemaran dari pelarut obat itu,” ujar Budi di Istana Kepresidenan, Senin, 24 Oktober 2022.

Temuan ini lalu mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran untuk menghentikan penjualan obat sirop sementara pada Selasa, 18 Oktober. Kemenkes mencatat, sejak penghentian tersebut jumlah kasus menurun.

Saat ini BPOM masih melakukan pengujian terhadap total 1.116 obat sirop yang beredar di Indonesia. Ada 971 atau 87% dari total obat sirop masih dalam tahap pengujian kandungan berbahaya. 

Sementara, 133 obat dipastikan tidak mengandung propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin yang sering ditemukan terkontaminasi dengan EG dan turunannya. BPOM pun sudah merilis daftar 133 obat yang aman dikonsumsi tersebut.

Apa Itu Etilen Glikol?

Mengutip Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), etilen glikol (EG) adalah senyawa yang ditemukan di banyak produk konsumen. EG berbentuk cairan kental tanpa bau dan warna serta mudah terbakar. 

Senyawa organik dengan rumus molekul C2H6O2 ini dihasilkan dari reaksi antara etilen oksida dan air. Adapun kombinasi dua molekul etilen glikol membentuk dietilen glikol (DEG).

EG, DEG, dan EGBE sama sekali bukan bahan baku dalam pembuatan obat karena sifatnya yang beracun. Kandungan EG dapat ditemukan dalam cairan antibeku, cairan rem hidrolik, tinta bantalan stempel, pulpen, pelarut, cat, plastik, film, dan kosmetik.

Ini pula yang membuat produsen EG di dunia didominasi perusahaan kimia industri, bukan perusahaan farmasi, seperti Shell Chemical (Singapura), Lotte Chemical (Korea Selatan), dan Petro Rabigh (Arab Saudi). Di Indonesia, dari penelusuran kami salah satu produsennya adalah PT Polychem Indonesia Tbk.

Indonesia juga melakukan impor EG untuk kebutuhan industri tekstil serta bahan baku tambahan pembuatan cat, cairan lem, solven (pelarut), tinta cetak, tinta pada pena, foam stabilizer, kosmetik, dan bahan anti beku.

Halaman:

Editor: Aria W. Yudhistira