Advertisement
Analisis | Matcha di Simpang Jalan: Saat Perubahan Iklim Ganggu Produksi Teh Hijau Jepang - Analisis Data Katadata
ANALISIS

Matcha di Simpang Jalan: Saat Perubahan Iklim Ganggu Produksi Teh Hijau Jepang

Foto: Katadata/ Bintan Insani
Matcha sudah menjadi tren global dengan lonjakan permintaan tinggi. Namun, produksi teh Jepang menurun akibat iklim ekstrem dan minimnya regenerasi petani. Kondisi ini membuka peluang banyak negara lain yang gencar produksi matcha sendiri demi merebut pasar dunia.
Muhammad Almer Sidqi
4 Oktober 2025, 06.36
Button AI SummarizeBuat ringkasan dengan AI

Demam matcha melanda dunia. Gerai minuman yang khusus menjual olahan teh hijau asal Jepang itu sekarang menjamur di mana-mana. Termasuk di Indonesia.

Gerai-gerainya bahkan memamerkan proses pengocokan matcha menggunakan whisk bambu atau “chasen”. Proses ini penting dalam pembuatan minuman matcha yang kaya rasa. Selain olahan minuman, berbagai kafe dan restoran banyak menawarkan makanan pencuci mulut spesial rasa matcha. Mulai dari donat, keik, puding, hingga es krim.

Survei YouGov yang dirilis Juli lalu mendapati, dari 2.036 responden Indonesia, sebanyak 81% di antaranya peminum teh. Angka ini berasal dari kelompok peminum kopi dan teh (64%) dan kelompok peminum teh saja (17%). 

Teh hijau, termasuk matcha, menjadi favorit di kalangan peminum teh Indonesia. Matcha menempati posisi kedua setelah teh hitam. Kepopuleran teh itu tak lepas dari pengaruh media sosial. Matcha lantas menjadi salah satu ikon gaya hidup kekinian yang fokus pada ‘wellness’.

Selain itu, dari 1.403 peminum teh di negara ini, sebanyak 54% menyatakan bersedia membayar hingga Rp40 ribu untuk segelas matcha ceremonial-grade (CGM), jenis premium hasil gilingan batu dan biasanya dipakai dalam upacara minum teh tradisional Jepang. Dalam porsi yang lebih sedikit (33%), mereka bahkan rela menebus segelas matcha sampai Rp75 ribu.  

Pamor matcha yang kian beken terlihat dari kenaikan impor teh hijau di banyak negara. Di Asia Tenggara, permintaan Vietnam dan Filipina mengalami lonjakan nyaris lima kali lipat sepanjang 2010-2023. Dalam rentang yang sama, impor teh hijau di Indonesia sendiri melonjak dari US$6,5 juta menjadi US$12,3 juta. 

Matcha berasal dari daun teh hijau pada umumnya, yaitu Camellia sinensis. Yang membedakannya dari teh hijau lainnya adalah proses penanaman dan pengolahannya.

Untuk menghasilkan matcha, daun teh muda ditanam dengan metode shading atau peneduhan agar klorofil tetap tersimpan. Inilah yang membuat warna hijau matcha lebih terang dibandingkan teh lain. Kemudian daun teh dikeringkan tanpa digulung, disisir urat dan tulang daunnya hingga menjadi tencha. Kemudian tencha digiling batu hingga menjadi bubuk.  

Proses ini berbeda dengan teh hijau yang lebih umum dikonsumsi sehari-hari di Jepang, yaitu sencha. Untuk membuat sencha, daun teh muda yang dipetik langsung dikukus, dikeringkan, dan digulung. Ini berpengaruh pada rasa sencha yang lebih pahit ketimbang matcha yang umami.

Masalah Iklim Mengintai Matcha Jepang

Meski sudah melekat dalam keseharian, tingkat kesadaran orang mengenai kelangkaan matcha yang tengah terjadi masih rendah. Di Indonesia, menurut survei YouGov, sejumlah 59% peminum teh mengaku tidak menyadari kelangkaan itu.

Dikutip dari Japan Times, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (MAFF) Jepang mencatat, Negeri Sakura itu memproduksi 4.176 ton matcha pada 2023. Ini sudah setara tiga kali lipat dari 1.471 ton yang diproduksi pada 2010.

Lalu pada 2024, menurut Kementerian Pertanian Jepang, matcha menyumbang lebih dari setengah dari 8.798 ton teh hijau yang diekspor Jepang ke seluruh dunia.

Masalahnya, jumlah itu tak sebanding dengan lonjakan permintaan dunia atas matcha. Pemerintah prefektur Kyoto, misalnya, mengatakan mereka menolak permintaan ekspor dalam jumlah yang sangat besar, terutama dari Amerika Serikat, Jerman, dan Dubai. 

Meski Jepang menargetkan ekspor total teh hijau sebesar 15 ribu ton pada 2030, lonjakan permintaan terhadap matcha diperkirakan sudah melampaui target tersebut. Dengan produksi matcha yang hanya sekitar 4.000 ton, permintaan dunia ditaksir mencapai lebih dari tiga kali lipat kapasitas yang mampu dihasilkan Jepang saat ini.

Di Jepang, sejumlah prefektur dikenal sebagai penyokong produksi matcha nomor wahid, seperti Uji di Kyoto, Nishio di Aichi, hingga Kyushu di Kagoshima.

Luas perkebunan teh daerah-daerah ini memang tercatat meningkat nyaris dua kali lipat dari periode 2005 hingga 2015. Namun, semakin luasnya perkebunan ini tidak berjalan beriringan dengan kenaikan jumlah produksi teh di daerah yang sama. 

Di Kyoto, misalnya, luas perkebunan teh bertambah dari 0,9 hektare pada 2005 menjadi 1,5 hektare pada 2015. Namun, produksi tehnya tak berubah banyak dalam periode yang sama, hanya berkisar 3,1-3,2 ribu ton. 

Di Kagoshima, produksi juga stagnan di kisaran 23,5-23,6 ribu ton meski luasan lahan bertambah lebih dari dua kali lipat. Sedangkan di Aichi, produksi malah turun dari 1,1 ribu ton pada 2005 menjadi hanya 800 ton pada 2015. 

Secara keseluruhan, produksi teh di Jepang memang mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada 2004, total produksi teh Jepang masih mencapai 101 ribu ton. Namun, pada 2019, jumlah produksi teh Jepang hanya mencapai 82 ribu ton. 

Penurunan ini disebabkan berbagai faktor, mulai dari konsumsi teh hijau dalam negeri yang berkurang hingga regenerasi petani teh yang berangsur lambat di Jepang.

MAFF lantas berfokus mendorong produksi matcha yang sedang diminati pasar ekspor. Sejumlah daerah produsen sencha pun dialihkan untuk menanam matcha.

Masalahnya ternyata tak sesederhana mendorong perluasan produksi. Perubahan iklim turut membayangi produksi matcha yang sedang digiatkan pemerintah Jepang. 

Produksi matcha paruh pertama 2025 dilaporkan anjlok jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini seiring dengan Jepang yang mengalami rekor suhu terpanas sepanjang sejarah selama beberapa hari berturut-turut pada Juli-Agustus.

Menurut jurnal Ashardiono & Cassim (2015) yang meneliti faktor yang mempengaruhi panen perkebunan teh di Uji Kyoto, faktor fluktuasi suhu yang ekstrem dan kekeringan memang berpengaruh besar terhadap panen teh di Uji. Apalagi jika fluktuasi suhu ini terjadi di periode krusial panen, yakni Maret hingga Mei.

“Perubahan iklim di Uji tidak secara langsung berdampak merusak tanaman teh, tetapi berdampak signifikan dalam mengurangi kualitas dan kuantitas panen teh,” tulis jurnal itu. Penurunan kualitas teh hijau Jepang akibat perubahan iklim ini terbukti belakangan.

Teh yang dipanen sekitar April sampai Mei atau dikenal sebagai ‘ichibancha’ atau ‘first crop of tea’, mengalami penurunan produksi paling besar dari periode 2015 hingga 2019. Padahal daun teh yang dipanen dan diproses pada masa ini memiliki rasa umami dan lembut. Daun teh ini juga digunakan dalam pembuatan tingkatan paling premium MCG yang digandrungi.

Sebaliknya, teh yang dipanen di antara musim gugur dan musim dingin malah mengalami peningkatan. Padahal daun teh di antara musim ini memiliki kualitas paling rendah dibandingkan musim panen lain. Daunnya cenderung tua dan kasar, serta memiliki kadar kafein yang rendah.

Produsen Utama Bisa Geser ke Cina

Di tengah tantangan produksi matcha saat permintaan global sedang melonjak, Jepang punya kompetitor baru. Negara-negara seperti Cina, AS, Vietnam, hingga Korea Selatan mencoba membuat matcha mereka sendiri.

Produksi matcha Cina bahkan diperkirakan tembus 5 ribu ton hingga akhir 2025. Jumlah ini sudah menyamai produksi matcha Jepang pada 2024.

Pada 2023, total nilai ekspor teh hijau Cina ke seluruh dunia mencapai US$1,25 miliar, terbesar di dunia. Diikuti Jepang yang nilai ekspornya mencapai US$208,2 juta.

Secara historis, Cina bukan saja eksportir terbesar teh hijau dunia, tetapi juga merupakan asal-muasal matcha itu sendiri. Meski dipopulerkan oleh Jepang sebagai bagian dari upacara teh, teknik pembuatan matcha merupakan warisan dari Dinasti Tang dan Dinasti Song Cina.

Menurut proyeksi Organisasi Pangan Dunia (FAO), produksi teh hijau di Cina pada 2032 bakal nyaris 4 juta ton, naik dua kali lipat dibandingkan 2020-2022. Sebaliknya, dalam rentang yang sama, produksi teh hijau Jepang ditaksir naik tipis 0,3% menjadi 73,6 ribu ton pada 2032.

Meski begitu, porsi teh hijau Jepang yang bakal diekspor cenderung meningkat tajam, hampir 20% dari total proyeksi produksi pada 2032. Hal ini mengindikasikan Jepang bakal terus mendorong pasar ekspor industri teh unggulan mereka, termasuk matcha.

Lagi pula, menyamai kualitas matcha Jepang juga bukan perkara mudah. Jepang memiliki tradisi panjang sekitar 1.000 tahun dalam metode budidaya dan panen matcha yang sangat teliti, menghasilkan kualitas lebih tinggi dengan rasa yang khas. 

Di Indonesia, inisiasi memproduksi matcha sendiri mulai muncul. Di Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, media lokal memberitakan, sekelompok petani mulai mengembangkan matcha versi lokal.

Mereka menutup kebun menggunakan paranet selama 20-30 hari agar teh tak kena paparan sinar matahari. Inilah metode peneduhan yang berfungsi memperlambat fotosintesis sehingga daun teh mampu menyimpan lebih banyak klorofil dan L-theanine. Kedua komponen itu yang menjadi rahasia di balik warna hijau pekat dan rasa umami matcha.

Editor: Aria W. Yudhistira


Buka di Aplikasi Katadata untuk pengalaman terbaik!

icon newspaper

Tanpa Iklan

Baca berita lebih nyaman

icon trending

Pilih Topik

Sesuai minat Anda

icon ai

Fitur AI

Lebih mudah berbagi artikel

icon star

Baca Nanti

Bagi Anda yang sibuk