Tak Ada Acuan Internasional, Vivo Pakai Formula Sendiri untuk Revvo 89

Menurut Corporate Communication PT Vivo Energy Indonesia Maldi Al-Jufrie, harga itu telah dihitung berdasarkan keekonomian termasuk margin di dalamnya.
Arnold Sirait
30 Oktober 2017, 12:26
SPBU Vivo
Anggita Amalia|Katadata

PT VIVO Energy Indonesia menggunakan formula sendiri untuk menentukan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Revvo 89. Alasannya hingga kini tidak ada acuan harga internasional untuk BBM berkadar oktan 89 itu.

Corporate Communication PT Vivo Energy Indonesia Maldi Al-Jufrie mengatakan acuan internasional hanya mengatur BBM berkadar oktan 92 ke atas. “Di bawah itu pasti kebijakan perusahaan,” kata dia kepada Katadata, akhir pekan lalu.

Meski begitu, Maldi enggan memaparkan formula harga untuk Revvo 89. Alasannya formula harga itu merupakan strategi perusahaan.

Yang jelas, dengan harga yang ada saat ini, perusahaannya tidak merugi karena sudah memasukkan margin dalam formula. Adapun, Vivo mematok harga Revvo 89 sebesar Rp 6.100 per liter. Harga ini memang lebih murah dibandingkan Premium berkadar oktan 88, yang dijual Rp 6.550 per liter di Jakarta dan Rp 6.450 per liter di luar Jawa, Madura dan Bali (Jamali).

Namun, Maldi tidak mau mengomentari harga produk yang tidak dijual di SPBU-nya. “Sekarang saya melihat sudah waktunya kita memandang ke depan bagaimana memeratakan kesejahteraan rakyat. Harga itu kami telah hitung berdasarkan keekonomian termasuk margin di dalamnya,” ujar dia.

Pemerintah sebenarnya sudah mengatur harga untuk BBM Umum melalui  Peraturan Menteri ESDM Nomor 39 tahun 2014 yang sudah diubah menjadi Peraturan Menteri ESDM Nomor  tahun 2015. Dalam aturan itu, yang dimaksud BBM Umum adalah bahan bakar yang tidak disubsidi pemerintah. 

Adapun perhitungan harga jual eceran BBM Umum ini ditetapkan oleh badan usaha, tapi dengan beberapa pertimbangan. (Baca: Bantah Buka Ruang Pemburu Rente, Pemerintah Atur Margin SPBU VIVO)

Pertama, harga terendah ditentukan berdasarkan harga dasar ditambah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) dengan margin 5% dari harga dasar. Kedua, margin untuk harga terendah adalah 10%.

Video Pilihan

Artikel Terkait