Semester I-2014, Neraca Perdagangan Defisit US$ 1,16 Miliar

Neraca migas defisit US 612 miliar sedangkan surplus non migas hanya US 496 miliar
Image title
Oleh
4 Agustus 2014, 12:42
BPS_Suryamin.jpg
KATADATA | Arief Kamaludin
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Juni 2014 mengalami defisit sebesar US$ 300 juta. Dengan defisit perdagangan Juni, secara kumulatif, defisit neraca perdagangan semester I-2014 membesar menjadi US$ 1,16 miliar.

?Defisit nilai perdagangan Indonesia (Juni) disebabkan oleh defisitnya sektor migas (minyak dan gas bumi) sebesar US$ 600 juta, walaupun sektor nonmigas mengalami surplus US$ 300 juta,? ujar Kepala BPS Suryamin, dalam keterangannya (4/8).

Sejalan dengan neraca Juni, defisit neraca perdagangan semester I-2014 juga disebabkan oleh defisit neraca migas yang mencapai US$ 6,12 miliar. Sementara surplus neraca nonmigasnya hanya US$ 4,96 miliar. Meski demikian, defisit neraca perdagangan semester I-2014 juga lebih kecil dibandingkan defisit pada semester I-2013 yang mencapai US$ 3,3 miliar.

Sebenarnya total impor sepanjang semester I-2014 sudah turun 4,7 persen menjadi US$ 89,98 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor migas turun 1,41 persen menjadi US$ 310,8 juta, akibat penurunan impor hasil minyak. Sementara impor non migas turun sebesar 5,7 persen, menjadi US$ 4,12 miliar

Penurunan nilai impor menurun, juga diikuti oleh menurunnya total nilai ekspor sebesar 2,46 persen menjadi US$ 88,83 miliar. Turunnya nilai ekspor, salah satunya disebabkan oleh penurunan ekspor sektor pertambangan. Dalam laporan BPS, sepanjang semester I-2014, nilai ekspor sektor pertambangan dan lainnya turun hingga 27,05 persen. Kontribusi ekspor pertambangan terhadap total ekspor juga turun dari 17,14 persen pada semester I-2013, menjadi 12,81 persen pada semester I-2014.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo sudah memprediksi defisit neraca perdagangan bulan Juni 2014 mencapai US$ 300 juta. Agus mengatakan perkiraan defisit ini karena melihat perlambatan perekonomian China, yang membuat permintaan di negara tersebut melemah. Padahal, selama ini China menjadi negara tujuan utama ekspor kita. Makanya kinerja ekspor Indonesia menjadi lesu.

 

Reporter: Safrezi Fitra
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait