Kinerja IHSG Membaik di Sesi II, Hanya Terkoreksi 0,40%

Penulis: Happy Fajrian

14/1/2019, 18.18 WIB

Lingkungan domestik minim sentimen, tekanan IHSG berasal dari aksi ambil untung investor. Investor asing membukukan beli bersih nyaris setengah triliun.

BEI
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Bursa Efek Indonesia mengadakan konferensi pers mengenai Pengumuman Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan (27/12). Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan dirinya optimis dengan pergantian tahun ini, meski tahun depan memasuki tahun politik. Justru tantangan terbesar datang dari faktor eksternal yang tak bisa dihindari.

Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) sedikit membaik pada sesi II perdagangan hari ini, Senin (14/1). Sempat terkoreksi hingga 0,86% pada akhir sesi I, IHSG berhasil sedikit memperbaiki posisinya di penghujung sesi II ke level 6.336,87 sehingga sepanjang hari ini hanya terkoreksi 0,40%.

Seluruh indeks sektoral juga terpantau sukses memperbaiki posisinya sehingga ditutup dengan koreksi yang tidak sedalam pada sesi I siang tadi. Sektor keuangan yang sempat terkoreksi 0,59%, berhasil kembali ke posisi awalnya hari ini, alias stagnan. Sementara tambang dari koreksi 0,17% pada sesi I, pada penutupan berhasil naik 0,11%.

Perdagangan saham pada Bursa Efek Indonesia hari ini tercatat mencapai Rp 7,84 triliun, sedangkan volume saham yang diperdagangkan mencapai 10,32 miliar saham. Sebanyak 157 saham mencatatkan kinerja positif, 268 saham turun, dan 127 saham stagnan.

Investor asing cukup membantu menaikkan kinerja IHSG dengan pembelian bersih sahamnya yang mencapai Rp 496,52 miliar. Sehingga sepanjang tahun ini investor asing telah menggelontorkan dananya di pasar saham Indonesia mencapai Rp 4,54 triliun.

(Baca: Sesi I IHSG Terkoreksi Makin Dalam karena Sentimen Global

Dari lima saham terlaris dibeli investor asing, saham-saham bank BUKU 4 menjadi buruan investor asing hari ini. Saham Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) paling banyak dibeli asing yaitu senilai Rp 304,7 miliar, kemudian saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) senilai Rp 117,2 miliar, dan saham Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai Rp 77 miliar.

Sedangkan dua saham lainnya yang paling banyak dibeli asing yaitu saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) senilai Rp 77,7 miliar dan saham PT Astra International Tbk (ASII) yang dibeli asing mencapai Rp 71,5 miliar.

Kendati terkoreksi, kinerja IHSG merupakan yang terbaik kedua diantara bursa saham utama Asia. Bursa saham dengan kinerja terbaik hari ini yaitu PSEi Filipina yang berhasil kembali ke zona hijau naik hingga 1,52%. Setelah IHSG ada KLCI Malaysia dengan koreksi 0,43%, KOSPI Korea turun 0,53%, indeks Shanghai koreksi 0,71%, Strait Times turun 0,79% dan Hang Seng anjlok 1,38%.

Tekanan terhadap IHSG pada hari ini didorong oleh aksi ambil untung yang dilakukan investor setelah IHSG mengalami kenaikan cukup tinggi selama sepekan sebelumnya. Pasalnya tidak ada sentimen positif ataupun negatif dari lingkungan domestik.

(Baca: Optimisme Ekonomi Topang IHSG Naik Sepekan, Dana Asing Deras Masuk)

Investor hanya menantikan data neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) besok, Selasa (15/1) yang telah diprediksi oleh Bank Indonesia (BI) akan kembali negatif.

Sementara dari lingkungan eksternal, ketidakpastian terkait government shutdown Amerika Serikat (AS) dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) membuat dana asing kembali masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia.

Government shutdown telah memasuki hari ke-23 sejak diberlakukan pada 22 Desember. Lembaga rating internasional, Fitch Ratings, sudah memberi peringatan bahwa jika penutupan ini terus berlangsung, dampaknya rating surat utang AS berpotensi turun.

Investor juga masih dipusingkan soal proses pengambilan suara di parlemen Inggris yang akan memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit) atau tidak. Karena saat ini keputusan apakah Brexit akan dilakukan atau tidak ada di tangan parlemen.

(Baca: 2030, PDB Indonesia Terbesar Keempat di Dunia)

Dari Tiongkok, data perdagangan luar negeri bulan Desember Tiongkok menunjukkan kontraksi. Menurut data Bloomberg ekspor negeri Tirai Bambu mengalami kontraksi 4,4% secara tahunan, sedangkan impor turun 7,6%.

Kendati demikian secara keseluruhan tahun 2018, ekspor masih tumbuh 9,9% secara tahunan menjadi US$ 2,48 triliun, sedangkan impor melesat 15,8% sehingga surplus neraca perdagangan Tiongkok mencapai US$ 351,8 miliar. Surplus perdagangan Tiongkok dengan AS sendiri naik lebih dari 17% menjadi US$ 323,3 miliar.

Perkembangan negosiasi perdagangan antara AS dan Tiongkok juga menunjukkan perkembangan yang positif. Proses negosiasi akan kembali dilanjutkan bulan ini di Washington DC. Pihak Tiongkok akan diwakili oleh Liu He, penasihat ekonomi paling senior Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha