Surya Paloh Minta Kajian Khusus Masuknya Partai Nonkoalisi di Kabinet

Penulis: Fahmi Ramadhan

Editor: Ameidyo Daud

16/8/2019, 20.13 WIB

Surya menilai komposisi kabinet proporsional antara profesional dan kalangan parpol jadi pertimbangan perlu atau tidaknya pihak nonkoalisi bergabung.

Jokowi, Parpol, Surya Paloh
ANTARA FOTO/Fauzi Lamboka
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan makan siang bersama di DPP NasDem, Rabu (24/7/2019). Surya ingin wacana masuknya parpol non koalisi ke kabinet dikaji secara dalam.

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh mengomentari peluang masuknya partai politik nonkoalisi Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin untuk masuk kabinet periode 2019-2024 mendatang. Menurutnya, perlu ada kajian lebih dalam di kubu koalisi bisa tidaknya hal itu dilakukan.

Surya beralasan komposisi kabinet proporsional antara profesional dan kalangan parpol jadi pertimbangan perlu atau tidaknya pihak nonkoalisi bergabung. Dalam pertemuan dengan pemimpin redaksi media massa hari Kamis (15/8), Jokowi mengatakan anak buahnya akan didominasi dari kalangan profesional dengan komposisi 55 %.  Sedangkan 45 % sisanya diberikan kepada parpol.

"Saya pikir itu perlu kajian khusus. Mudah-mudahan apa yang dianggap baik  dilakukan saja," kata Surya Paloh ketika menghadiri Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Kompleks Parlemen,  Jakarta, Jum'at,(16/8).

(Baca: Sinyal Jokowi Tak Ingin Tambah Partai Koalisi di Kabinet Baru)

Meski begitu, Surya menekankan komitmen Nasdem tetap mendukung tanpa syarat segala kebijakan Jokowi dalam menentukan masa depan pemerintahannya. Komposisi 55 : 45 di tubuh kabinet Jokowi seharusnya tidak membatasi ruang gerak parpol.

Namun bos Media Group itu juga mengingatkan publik tidak berpikiran sempit dalam menilai profesionalitas parpol yang tak semata-mata berdasarkan latar belakang kader  saja. “Saya sebagai ketum parpol, kalau dibilang tidak professional, saya pikir salah juga," kata Surya.

Dia juga mengatakan hingga saat ini Jokowi belum membuka pembicaraan mengenai kandidat calon menterinya. Dia menganggap wajar ketika beberapa partai nonkoalisi sudah membuka lobi-lobi kursi menteri. Hal tersebut dianggap sebagai bentuk silaturahmi antarpartai.

(Baca: Usai Bertemu Prabowo, PPP Tak Keberatan Gerindra Duduki Kursi MPR)

Apalagi Jokowi juga mengisyaratkan keberatannya atas rencana penambahan partai politik lain di luar koalisi ke dalam kabinet . Dia menyatakan, saat ini koalisi partai politik pengusungnya saat pemilihan presiden 2019 sudah mengantongi 62% suara dalam Pemilu Legislatif. "Sekarang sudah 62%, mau (tambah) berapa lagi?" katanya hari Kamis (15/8).

Reporter: Fahmi Ramadhan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN