Shell Tekankan Pentingnya Riset dan Inovasi Teknologi di Sektor Energi

Penulis: Ratna Iskana

20/8/2019, 19.46 WIB

Riset dan inovasi teknologi penting untuk menghadapi tantangan energi di masa depan. Salah satu tantangannya adalah target EBT sebesar 23% pada 2025.

Shell Indonesia
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi, logo Shell. Shell Indonesia menekankan pentingnya riset dan inovasi teknologi di sektor energi.

Shell Indonesia menilai pentingnya riset dan inovasi teknologi dalam menghadapi tantangan energi di masa depan. Demi mencari inovasi baru, Shell Lubricants Indonesia bekerjasama dengan Energy Academy Indonesia (Ecadin) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Inovasi Untuk Negeri”.

Kegiatan seminar tersebut merupakan wujud partisipasi Shell untuk dapat berperan dalam mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. "Kami yakin kegiatan ini dapat menjadi wadah yang mampu melahirkan karya-karya inovatif untuk membantu mempersiapkan bangsa Indonesia menghadapi tantangan masa depan, dan menjadi bangsa yang besar, unggul, serta berdaya saing,” jelas Direktur Pelumas Shell Indonesia Dian Andyasuri dalam siaran pers pada Selasa (20/8).

Seminar ini menghadirkan narasumber seperti Sekretaris Jendral Kementerian Ristek dan Perguruan Tinggi RI Ainun Naim, Dewan Riset Nasional & Kepala Pusat Studi Energi UGM Deendarlianto, Ketua Pusat Riset Kendaraan Listrik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Nur Yuniarto, dan Founder Lentera Bumi Nusantara Ricky Elson.

Seminar tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-74 tahun dan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional pada tanggal 10 Agustus. Salah satu topik yang dibahas adalah tantangan dan gagasan serta  kebijakan terkait masa depan energi.

(Baca: Bloomberg: Tiongkok & India Jadi Pusat Teknologi pada 2035)

Ainun mengatakan Think Efficiency sebagai katalisator invensi dan inovasi dalam menyiapkan generasi unggul untuk Indonesia maju. Ada pun Deendarlianto pada kesempatan ini mengatakan konsep Center of Excellence (COE) menjadi sebuah ide untuk menghadapi tantangan energi masa depan.

Salah satu tantangan energi di masa depan adalah target Energi Baru dan Terbarukan (EBT) pada 2025 sangat tinggi yaitu 23%. “Untuk menghadapi tantangan tersebut, COE yang berfungsi memfasilitasi, memimpin, memberikan dukungan dan/atau pelatihan kepada masing-masing area untuk melahirkan inovasi melalui riset-riset unggulan yang terintegrasi,"ujar Deendarlianto.

Dalam acara tersebut, Shell juga mengumumkan pemenang kompetisi “Think Efficiency 2019”.  Untuk kategori Energi, tim Maxwell dengan karya inovasi  “Jelly Blueflame Stove”  berhasil meyakinkan dewan juri dan berhak menjadi juara pertama.

(Baca: Pengembangan Riset, Menanti Penguatan Peran Swasta)

Tim yang beranggotakan dua orang dari Universitas Sumatera Utara (USU) ini berhasil menciptakan sumber energi pengganti gas LPG pada kompor berbasis gel bioethanol dan biodiesel berbahan dasar limbah tandan kosong kelapa sawit dan limbah bulu unggas.

“Kami senang dapat mengikuti dan menjuarai kompetisi ide inovasi Think Efficiency 2019. Kompetisi ini merupakan wadah yang penting bagi anak muda untuk mengkomunikasikan hasil riset dan inovasinya kepada publik,” ujar Ikhwanuddin dari tim Maxwell.

Untuk kategori Tribologi, juara pertama berhasil diperoleh Tim Material Research Club (MRC) dengan menampilkan karya inovasi bertajuk “Eco-friendly anti fouling & anti corrosion additive for marine lubricating.” Tim MRC membuat aditif co-polimer PAMA-OCP untuk pelumas kapal dengan bahan dasar minyak kelapa sawit yang dapat meningkatkan performa pelumas dan menghindari penurunan fungsi mesin.

Atas prestasinya tersebut, masing-masing pemenang berhak memperoleh hadiah sebesar Rp 35 juta. Selain itu, pemenang juga akan diajak berkunjungan ke Shanghai Technologi Center di tahun 2020 untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengan para ahli inovasi dari Shell.

(Baca: Pelajar Indonesia Menang Olimpiade Sains Dunia)

Syarif Riyadi, Co-founder Ecadin , yang juga menjadi juri dalam kompetisi “Think Efficiency 2019” mengatakan, jumlah ide yang masuk tahun ini lebih variatif dan kreatif dari tahun lalu. "Hal ini tentu memberikan harapan besar bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri dan unggul dalam menghadapi tantangan energi kedepan,"ujarnya.

Kompetisi inovasi “Think Efficiency 2019” menitikberatkan penilaian pada aspek originalitas, produk, dampak dan keberlanjutan. Dua bidang yang dipilih yaitu energi dan tribologi, merupakan bidang kompetensi Shell.

Sinergi dengan para inovator diharapkan akan memberikan dampak besar dan positif untuk perkembangan teknologi Indonesia di masa depan. Dengan begitu Indonesia dalam menghadapi tantangan energi dan menyongsong Revolusi Industri  4.0.

Sejak tahun 2018, Shell bekerjasama dengan Ecadin menggelar ajang kompetisi ide inovasi “Think Efficiency”. Kompetisi berhadiah total Rp150 juta ini merupakan bentuk kontribusi Shell untuk Indonesia dalam mendorong lahirnya inovator masa depan untuk mencari solusi atas tantangan dunia di bidang energi.

Tahun ini, kompetisi “Think Efficiency” telah dimulai sejak 1 April 2019  dan berhasil menjaring berbagai ide inovasi dari 140 lebih peserta yang terdiri dari siswa sekolah menengah, mahasiswa, hingga kalangan profesional seperti peneliti, guru, dosen hingga profesor.

(Baca: Inovator Muda ITS Siap Harumkan Indonesia di Kompetisi Otomotif Dunia)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN