AS-Tiongkok Berpotensi Damai, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 14.175/Dolar

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Happy Fajrian

8/10/2019, 09.19 WIB

Rupiah diprediksi akan bergerak di rentang Rp 14.150-14.225 per dolar AS sepanjang hari ini, Selasa (8/10).

nilai tukar rupiah, rupiah melemah
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Seorang petugas bank menghitung mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pagi ini kembali dibuka melemah. Rupiah diperdagangkan di level Rp 14.175 per dolar AS atau melemah 0,09% dibandingkan posisi penutupan Senin (7/10) di level Rp 14.162 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi hari ini, Selasa (8/10) kembali dibuka melemah. Mengutip Bloomberg, rupiah turun 0,09% atau 13 poin ke level Rp 14.175 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp 14.162 per dolar AS.

Selain rupiah, beberapa mata uang Asia juga mencatatkan pelemahan terhadap mata uang Negeri Paman Sam. Yen Jepang tercatat melemah 0,04%, dolar Hongkong 0,01%, rupee India 0,19%, yuan Tiongkok 0,36%, ringgit Malaysia 0,02% dan baht Thailand 0,04%.

Meski mayoritas mata uang Asia tumbang, beberapa mata uang lainnya berhasil menguat, seperti dolar Singapura berhasil menguat 0,02%, dolar Taiwan 0,22%, won Korea Selatan 0,07%, dan peso Filipina 0,1%.

Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan saat ini dolar AS memang diperdagangkan menguat terhadap mata uang utama. "Ini menyusul laporan yang menyebutkan bahwa pemerintah Tiongkok berpotensi menyetujui beberapa poin kesepakatan dengan pemerintah AS," kata Josua kepada Katadata.co.id, Selasa (8/10).

(Baca: Cadangan Devisa Turun, Rupiah Melemah ke 14.162 per Dolar AS)

Selain itu, kedua negara tersebut berencana untuk membicarakan beberapa isu penting pada tahun depan pada pertemuannya nanti. Seperti diketahui, pembicaraan dagang antara AS dengan Tiongkok akan disimpulkan pada 10-11 Oktober nanti di Washington DC, AS.

Sementara itu, dari sisi pemerintahan AS, Larry Kudlow menuturkan bahwa pemerintah AS terbuka terhadap pembicaraan perdagangan tersebut. "Di sisi lain, isu perang dagang antara AS dan Eropa juga menjadi faktor risiko yang menekan pasar keuangan negara berkembang," ujar Josua.

Sebelumnya, data factory order atau permintaan sektor manufaktur Jerman yang dirilis kemarin tercatat mengalami penurunan 6,7%. Hasil tersebut dinilai Josua juga masih mendorong isu perlambatan ekonomi global.

Selain dipengaruhi oleh tensi dagang yang kembali meningkat antara AS dan Eropa, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati hasil negosiasi dagang pada pekan ini. Ia pun memperkirakan rupiah masih cenderung bergerak terbatas di rentang Rp 14.150 - 14.225 per dolar AS.

(Baca: Pasar Khawatir Negosiasi AS-Tiongkok, Rupiah Pagi Ini Melemah 0,11%)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan