Bursa Efek Indonesia Pantau Bom Medan tak Pengaruhi Harga Saham

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Ratna Iskana

14/11/2019, 12.39 WIB

Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia pada hari ini lebih dipengaruhi perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok.

bursa efek indonesia, pasar modal, bom bunuh diri, ihsg, perang dagang
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, penutupan perdagangan pasar modal 2018 di PT. Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan (28/12). Bursa Efek Indonesia menilai pergerakan IHSG pada Kamis (14/11) tidak dipengaruhi bom bunuh diri, melainkan perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai kondisi pasar modal dalam negeri tidak terpengaruh oleh peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Markas Polisi Resort Kota Besar (Mapolrestabes) Medan, Sumatera Utara pada Rabu (13/11). Pergerakan pasar modal lebih terpengaruh oleh perang dagang Amerika Serikat (AS)-Tiongkok.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan kemarin tercatat turun 0,62% . Sedangkan pada perdagangan hari ini sempat terkoreksi hingga 1,16% menjadi di level 6071,01.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi menyebut peristiwa bom bunuh diri tidak mempengaruhi pergerakan IHSG. Menurutnya, laju IHSG yang naik turun merupakan hal yang biasa terjadi di pasar modal.

"Rasanya biasa saja, tidak terlalu ganggu market," kata Inarno ketika ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (14/11).

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus justru menilai pergerakan IHSG lebih dipengaruhi sentimen global. IHSG hari ini diproyeksi melemah terbatas berdasarkan analisa teknikal dan bakal diperdagangkan pada level 6.100-6.165.

(Baca: IHSG Diramal Menguat Terbatas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global)

Batalnya pertemuan dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok menambah ketidakpastian kondisi global. Pada akhirnya, menurut Nico, kedua negara tersebut menemui jalan buntu untuk mencapai sejumlah poin dalam kesepakatan dagang.

"Seperti yang sudah kami bayangkan sebelumnya, tampaknya memang mustahil Amerika dan Tiongkok bisa memiliki kesepakatan meskipun dalam skala kecil," ujar Nico dalam risetnya.

Sentimen lainnya berasal dari langkah Bank Sental AS, Federal Reverse (The Fed), yang diproyeksi tidak akan menyesuaikan tingkat suku bunga atau Fed Fund Rate. Hal itu menyusul permintaan Presiden AS Donald Trump yang ingin suku bunga negatif.

Gubernur The Fed Jerome Powell menyampaikan suku bunga negatif tak sesuai dengan kondisi ekonomi negara itu. Pasar tenaga kerja AS dinilai kuat dan inflasi terjaga stabil.

"Ini merupakan pemulihan ekonomi yang sangat lambat, tetapi telah berlangsung lama," kata Powell, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (14/11).

(Baca: Trump Minta Bunga Negatif, The Fed: Ekonomi AS Masih Kuat)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan