Ditopang Efek Stimulus AS, IHSG Meroket 7% hingga Tembus Level 4.000

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Ekarina

26/3/2020, 10.11 WIB

Laju IHSG dipicu oleh adanya kesepakatan pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan senat terkait paket stimulus.

Ditopang Sentimen AS, IHSG Meroket 7% hingga Tembus Level 4.000.
ANTARA FOTO/Reno Esnir
Ilustrasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. IHSG dibuka naik 7% efek stimulus ekonomi AS untuk atasi corona.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (26/3) dibuka naik signifikan. Hingga berita ini ditulis atau sekitar pukul 09.46 WIB, indeks sempat mencatat kenaikan hingga 7,21% ke level 4.221,68.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, salah satu penopang IHSG oleh kesapekatan antara pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan senat terkait paket stimulus senilai US$ 2 triliun.

"Ini merupakan paket stimulus terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat, dan hal ini dilakukan untuk melawan efek dari wabah virus corona," kata Nico dalam risetnya hari ini.

(Baca: Masih Dibayangi Corona, IHSG Diramal Variatif tanpa Rekomendasi Beli)

Dari dalam negeri, sentimen juga datang dari rencana pemerintah untuk meningkatkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) di tengah wacah Covid-19. Langkah ini sebagai respons pemerintah terhadap penurunan daya beli masyarakat dampak dari virus corona.

"Ini bertujuan untuk mendorong daya beli masyarkat sehingga ekonomi dalam negeri tidak terpuruk terlalu jauh," kata Nico.

Kendati indeks menguat  pagi ini, Head of Research PT MNC Sekuritas Edwin Sebayang justru menyarankan investor untuk tetap selektif  bila ingin melakukan pembelian.

(Baca: Turun 4,9% ke Level 3.989, IHSG Sentuh Level Terendah dalam 8 Tahun)

Beberapa sektor saham yang dia rekomendasikan untuk dicermati investor di antraanya, saham perusahaan dari sektor logam emas, farmasi, batu bara, minyak mentah sawit, pakan ternak ayam, dan telekomunikasi.

Hingga saat ini, total volume saham yang diperdagangkan sebanyak 1,56 miliar unit saham, dengan nilai transaksi yang mencapai 1,9 triliun serta  frekuensi sebanyak 112 ribu kali. Tercatat ada 200 saham yang menguat, 60 saham lainnya bergerak turun, dan 72 saham stagnan.

Kenaikan indeks ini sejalan dengan investor asing yang tercatat melakukan beli bersih (net buy) senilai Rp 245,84 miliar di pasar reguler. Investor berbondong-bondong membeli saham yang dalam beberapa waktu terakhir sempat terkoreksi kendati memiliki fundamendal yang baik.

(Baca: IHSG Ditutup Anjlok 1,3% di Tengah Kenaikan Bursa Saham Asia)

Seperti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)  yang diborong asing dengan nilai bersih Rp 91,6 miliar sehingga saham ini pun meroket 13,78% di level Rp 25.600 per saham. Kemudian, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga diborong asing dengan nilai bersih Rp 79,5 miliar sehingga sahamnya juga meroket 10,25% di Rp 2.690 per saham.

Kenaikan bursa saham di dalam negeri ini menjadi anomali di antara saham bursa di Asia lainnya yang bergerak turun. Seperti bursa Jepang Nikkei 225 yang turun hingga 4,16% dan Hang Seng di Hong Kong yang turun 1,37%.

Lalu, bursa di Tiongkok Shanghai Composite juga turun 0,37% dan si Singapura Strait Times juga turun 1,71%.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan