Investor Korea Selatan Gencar Berinvestasi di Startup Asia Tenggara

Desy Setyowati
4 Agustus 2020, 19:04
Investor Korea Selatan gencar Berinvestasi di Startup Asia Tenggara
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.
Ilustrasi, karyawan menghitung uang dolar di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/5/2020).

Investor asal Korea Selatan mulai gencar berinvestasi di startup Asia Tenggara. Tiga di antaranya yakni Grab, Bukalapak, dan perusahaan rintisan asal Malaysia, Dahmakan.

Grab dikabarkan menggalang pendanaan US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,9 triliun dari perusahaan modal ventura asal Korea Selatan, Stic Investment. Sumber Bloomberg mengatakan, Stic Investment bakal menginvestasikan US$ 100 juta.

"Sisanya, akan berasal dari co-investor," demikian dikutip dari Bloomberg, kemarin (3/8). Stic disebut-sebut tengah berupaya memperluas jangkauannya ke Asia Tenggara.

Perusahaan yang berdiri pada 1999 itu berfokus menumbuhkan modal investasi, pembelian, dan transaksi di pasar sekunder. Berdasarkan laman resminya, Stic berinvestasi pada perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan intrinsic yang lebih terbuka, untuk membentuk kemitraan.

Beberapa investasinya yakni raksasa hiburan Korea YG Entertainment, platform on-demand dan layanan sehari-hari asal India Dunzo, Grup Joyvio Tiongkok, serta cabang agribisnis dan makanan dari Legend Holdings.

Selain Grab, Bukalapak memperoleh pendanaan dari anak usaha bank asal Korea Selatan, Shinhan GIB. Investasi dari Shinhan GIB merupakan bagian dari putaran pendanaan Seri F.

Shinhan GIB merupakan unit perbankan investasi terintegrasi dari Shinhan Financial Group (SFG). SFG mengelola portofolio bisnis yang seimbang seperti bank komersial, investasi, permodalan, asuransi, kartu kredit, dan lainnya.

Investor asal Korea Selatan lainnya yang aktif berinvestasi di Asia Tenggara yakni Yanolja, Woowa Brothers, dan GEC-KIP Fund besutan Korea Investment Partners (KIP) dan Golden Equator Ventures (GEV). GEC-KIP Fund juga menanamkan modalnya di startup cloud kitchen asal Malaysia, Dahmakan.

Managing Partner dari Golden Equator Ventures Daren Tan mengatakan, ada beberapa alasan utama yang membuat investor asal Korea Selatan tertarik berinvestasi di startup Asia Tenggara. Salah satunya, jumlah penduduknya lebih dari 650 juta jiwa.

Tan menilai, regional menawarkan peluang besar dan hasil investasi yang lebih tinggi. “Investor Korea yang berpengalaman, konglomerat atau chaebol, dan perusahaan melihat peluang yang tersedia di Asia Tenggara sebagai lahan subur," kata Tan dikutip dari e27, pada Maret lalu (17/3).

Hal senada disampaikan oleh Mitra Access Ventures yang berbasis di Seoul, Charles Rim. Selain itu, pasar di Korea Selatan terpantau menyusut sehingga investor mulai beralih ke negara lain.

“Ada semacam perlambatan di Korea. Jadi investor sekarang mencari (investasi lain) di global. Asia Tenggara adalah pilihan yang baik dalam hal kedekatannya dengan pasar dalam negeri,” ujar Rim.

Senior Associate White Star Capital Eddie Lee merasa, tren ini sangat mirip dengan kondisi ketika modal ventura Amerika Serikat (AS) yang masif berinvestasi di Tiongkok dan India sepuluh tahun lalu.

Saat ini, pembangunan sebagian besar startup dengan model bisnis 2.0 di Negeri Ginseng sudah matang dan didanai dengan baik. “Jadi modal ventura Korea mencari peluang untuk melanjutkan strategi yang sama,” kata Lee.

Peluang Investasi dari Korea Selatan di Tengah Resesi

Akan tetapi, Korea Selatan mengalami resesi akibat pandemi corona tahun ini. Resesi yakni penurunan kinerja ekonomi yang berlangsung selama beberapa bulan dalam setahun.

Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan terkontraksi 2,9% yoy dan 3,3% qtq pada kuartal II. Hal ini tecermin pada Databoks di bawah ini:

CEO Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro memperkirakan, minat investor dari negara yang mengalami resesi, untuk berinvestasi di startup Indonesia berubah dalam jangka pendek. Sebab, investor berhati-hati dalam menanamkan modal, baik di dalam maupun luar negeri.

"Investasi itu pasti menurun. Apakah itu karena uangnya berkurang atau karena sulit dilakukan, itu beda-beda," kata dia kepada Katadata.co.id, akhir bulan lalu (22/7).

Meski begitu, investor memiliki uang untuk berinvestasi meski di masa sulit ini. “Yang sulit itu due diligence," katanya. Due diligence adalah proses investigasi atau audit terhadap investasi potensial.

Selain itu, sebagian investor tidak terlalu memperhitungkan kondisi ekonomi makro saat berinvestasi di perusahaan rintisan. Sebab, investasinya bersifat jangka panjang.

Para investor cenderung mencermati kondisi per sektor yang terpukul pandemi Covid-19. "Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang diprediksi  minus 5% (kuartal II). Tapi, layanan terkait e-commerce kan rata-rata naik. Begitu juga startup pendidikan (edutech) dan kesehatan (healthtech)," kata Eddi.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi itu merujuk pada prediksi Morgan Stanley. Datanya bisa dilihat pada Tabel di bawah ini:

NegaraKuartal IKuartal II*Kuartal III*Kuartal IV*
Indonesia2,97%-5%-1,50%-0,5%
Singapura-0,3%-12,6%n/an/a
Malaysia0,7%-13%-6%-1,6%
Filipina-0,2%-14%-4,50%-0,5%
Thailand1,8%-1%-2%-0,6%
Asia Tenggara1,2%-8,9%-3,3%-0,8%

(*) proyeksi, kecuali Singapura

Sumber: Morgan Stanley

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...