20 Juta Pelanggan Alami Listrik Mati, Kompensasi PLN Capai Rp 1 T

Kompensasi listrik mati dapat berupa pengurangan tagihan listrik kepada konsumen sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017.
Image title
5 Agustus 2019, 16:43
Petani membakar lahan dengan latar belakang Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (Gitet) transmisi Jawa bagian timur dan Bali di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (5/9). Sejumlah daerah di Jawa Timur dan Bali mengalami pemadaman listrik sementara akibat ganggua
ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Petani membakar lahan dengan latar belakang Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (Gitet) transmisi Jawa bagian timur dan Bali di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (5/9). Sejumlah daerah di Jawa Timur dan Bali mengalami pemadaman listrik sementara akibat gangguan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) Paiton-Grati, Paiton-Kediri dan PLTU Pacitan.

Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberi kompensasi kepada 21,3 juta pelanggan yang terdampak dari pemadaman listrik yang terjadi sejak Minggu (4/8). ESDM menghitung jumlah kerugian yang harus dibayar PLN sekitar Rp 1 triliun.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana mengatakan kompensasi dapat berupa pengurangan tagihan listrik kepada konsumen sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017 tentang tingkat mutu pelayanan dan biaya yang terkait dengan penyaluran tenaga listrik oleh PLN.

"Sesuai dengan peraturan Kementerian ESDM, jumlah pelanggan yang terdampak 21 juta, jadi kurang lebih pengurangan tagihannya diprediksi sekitar Rp 1 triliun," ujar Rida, dalam  konferensi pers, di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (5/8).

(Baca: PLN Janji Selesaikan Gangguan Listrik Malam Ini)

Dalam pasal 6 disebutkan sejumlah indikator mutu pelayanan tenga listrik yaitu, lama gangguan, jumlah gangguan, kecepatan pelayanan perubahan daya tegangan rendah, kesalahan pembacaan kilowaatt hour (kWh) meter, waktu terkoreksi kesalahan rekening, dan kecepatan pelayanan sambungan baru tegangan rendah.

Adapun bagi golongan yang terkena penyesuaian tarif listrik atau tariff adjustment akan mendapatkan pengurangan sebesar 35% dari tagihan listrik. Sedangkan, bagi konsumen golongan yang tidak terkena penyesuaian tarif akan mendapatkan pengurangan sebesar 25% dari total tagihan listrik.

Namun, dalam aturannya pengurangan tagihan berlaku bagi konsumen yang menelpon call center PLN. Sedangkan, pada saat itu jaringan telpon pun ikut terkena imbas pemadaman listrik. Sehingga, poin ini dinilai tidak berlaku.

"Karena kami sadar betul listrik sudah menjadi kebutuhan mendasar. Intinya masyarakat dirugikan, dari sisi regulator memperbaiki aturannya seperti apa," kata dia.

(Baca: Listrik Mati 2 Hari, Berikut Perhitungan Kompensasi Pelanggan dari PLN)

Kementerian ESDM juga akan segera merevisi permen tersebut untuk memaksimalkan aturan mengenai kompensasi pelanggan. Revisi permen akan segera diteken oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan pada Rabu (7/8). Sehingga, regulasi itu ditargetkan bisa berlaku pekan depan.

Adapun saat ini PLN tengah mengumpulkan data area yang terdampak, untuk kemudian segera dihitung dan diformulasikan. "Pelanggan lainnya kami sudah memiliki data, kami kalkulasi, dan mudah-mudahan segera kami selesaikan," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN Sripeni Inten.

Seperti diketahui, pada Minggu siang kemarin, PLN mengalami gangguan transmisi Ungaran dan Pemalang 500 kV. Hal ini mengakibatkan pemadaman listrik serempak di Jabodetabek, Jawa Barat dan Banten. Pemadaman bahkan berlanjut hingga hari ini, Senin (5/8) di sejumlah daerah.

(Baca: Industri Akan Tuntut Ganti Rugi ke PLN Akibat Listrik Mati)

 

Reporter: Fariha Sulmaihati
Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait