Corona Dunia Kembali Rekor, WHO Catat 230 Ribu Kasus Baru dalam 24 Jam

Adapun peningkatan kasus corona terbanyak masih berasal dari Amerika Serikat (AS), Brasil, India, dan Afrika Selatan.
Image title
Oleh Ekarina
13 Juli 2020, 08:22
Corona Dunia Kembali Rekor, WHO Catat 230 Ribu Kasus Baru dalam 24 Jam.
ANTARA FOTO/REUTERS/Callaghan O'Hare/foc/cf
Tenaga medis sedang melakukan perawatan intensif virus corona di United Memorial Medical Center, Houston, Texas, Amerika Serikat. WHO kembali mencatat tambahan rekor kasus corona dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO kembali melaporkan rekor baru kasus harian peningkatan virus corona global pada Minggu (12/7). WHO mencatat terjadi penambahan kasus Covid-19 sebanyak 230.370 orang dalam kurun waktu 24 jam.

Rekor baru ini melampaui jumlah sebelumnya, yang mana terdapat sekitar 228.102 pasien terinfeksi corona pada 10 Juli 2020. Adapun peningkatan kasus corona terbanyak kemarin masih berasal dari Amerika Serikat (AS), Brasil, India, dan Afrika Selatan dengan jumlah angka kematian di seluruh dunia mencapai sekitar 5.000 jiwa, dikutip dari Reuters.

Secara rinci, Amerika Serikat mencatat penambahan lebih dari 66.500 kasus corona. Lalu India, mencatat lonjakan rekor 28.637 kasus dalam sehari, sehingga keseluruhan mencapai 850.000 yang mendesak pihak berwenang kembali melakukan penguncian atau lockdown selama seminggu di selatan kota Bangalore.

(Baca: Respons WHO, Pemerintah Waspadai Penularan Corona di Ruang Tertutup)

Advertisement

Sedangkan Afrika Selatan melaporkan kenaikan 13.497 kasus virus corona sehingga total kasus di negara itu kini mencapai 264.184 kasus dengan total 3.971 kematian. Alhasil, Menteri Kesehatan Zweli Mkhize memperingatkan adanya "badai" akibat penyebaran wabah Covid-19.

Hingga kini, jumlah pasien menderita Covid-19 di seluruh dunia telah menembus 13 juta, yang mana 571 ribu di antaranya meninggal dunia, menurut data UniversitasJohns Hopkins. Nmaun, data itu juga mencatat lebih dari tujuh juta pasien sembuh.

Lonjakan Covid-19 di Florida

AS sebagai negara episentrum corona dunia juga melaporkan lonjakan kasus terbesar di salah satu negara bagian Florida. Di wilayah itu, ada sekitar 15.299 kasus virus corona yang dikonfirmasi, pada Minggu (12/7).

Peningkatan infeksi membuat total kasus Florida menjadi 269.811 kasus, lebih tinggi dari total kasus beberapa negara besar dengan populasi besar seperti Spanyol, Italia, dan Prancis.

Lebih dari 18.000 orang mendapat perawatan di rumah sakit di Florida sejak pandemi melanda wilayah tersebut. Departemen Kesehatan Florida juga melaporkan bahwa 45 orang lagi meninggal, sehingga jumlah korban jiwa di seluruh negara bagian menjadi 4.346 orang.

(Baca: Trump Akhirnya Mau Pakai Masker Setelah 3,4 Juta Positif Corona di AS)

Laksamana Brett Giroir, pejabat yang memimpin pengujian virus corona, mengatakan tingkat uji spesimen yang menujukkan hasil positif sebetulnya telah mendatar pekan ini. Giroir mengatakan dia memperkirakan rawat inap dan kematian akan meningkat selama dua sampai tiga minggu ke depan sebelum juga mendatar dan kemudian menurun.

“Kami perkirakan kematian meningkat. Jika ada lebih banyak kasus, lebih banyak rawat inap, kami berharap dua atau tiga minggu ke depan kondisi ini akan berbalik," katanya dikutip dari CNBC.

(Baca: Kasus Corona Melonjak, Ahli Epidemiologi Waspadai Potensi Klaster Baru)

Giroir memperingatkan, bagaimanapun laju perkembangan virus tergantung pada langkah mitigasi pemerintah negara bagian maupun lokal. Untuk membalikkan tren saat ini, 90% orang di zona merah diharuskan memakai masker. Tak hanya itu, bar diimbau agar tutup, restoran harus mengurangi kapasitas.

Presiden Donald Trump bahkan mulai mengenakan masker pertama kalinya di depan umum selama kunjungan ke rumah sakit militer Walter Reed. Hal ini ditandai sebagai pesan pemerintah terkait pandemi corona.

 

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait