PLN: Pembangkit Nuklir Mampu Pangkas Emisi Karbon 10% pada 2050

Mela Syaharani
27 November 2023, 18:54
Francois Lenoir/File Photo ARSIP FOTO: Pemandangan pembangkit listrik tenaga nuklir Tihange di Electrabel, unit Belgia dari perusahaan Prancis Engie, mantan GDF Suez, di Tihange, Belgia, Selasa (29/12/2015).
ANTARA FOTO/REUTERS/Francois Lenoir/File Photo/aww/sad.
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

PT PLN Nusantara Power menyusun enam inisiatif atau lighthouse initiative to achieve Net Zero Emission untuk membantu pemerintah mencapai target tersebut pada 2060. Salah satu inisiatifnya yaitu pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang dinilai mampu menurunkan emisi karbon sebesar 10% pada 2050.

“Enam inisiatif ini menunjukkan PLN Nusantara Power telah terdepan menerapkan transisi energi dan menerapkan peta jalan dalam bentuk pelaksanaan arahan pemerintah Indonesia dan holding PLN,” kata Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR, Senin (27/11).

Advertisement

Dalam inisiasi tersebut, PLN Nusantara Power menuliskan bahwa energi baru khususnya tenaga nuklir, juga dapat menyumbang penurunan emisi gas rumah kaca (GRK).

“Memang masih panjang perjalanan roadmapnya. Namun kami optimistis, saat sudah layak skala komersial dan keamanannya PLTN akan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 10%,” ujarnya.

Ruly mengatakan pada 2030 mendatang kebutuhan akan energi nuklir sulit untuk dihindari. Dia menyebut opsi yang paling cepat menggantikan keberadaan PLTU batu bara adalah nuklir. “Kecuali nanti bisa berkolaborasi dengan baterai storage, karena nuklir itu sebagai base loader yang saat ini dipikul PLTU batu bara,” ujarnya.

Kendati demikian, Ruly menegaskan akan mendukung apapun keputusan pemerintah. “Karena kami sebagai pelaksana, kami akan menindaklanjuti keputusan dari entah itu RUEN atau RUKN,” kata dia.

Selain nuklir, terdapat lima inisiatif lain yang dipatok PLN Nusantara Power untuk mencapai target NZE di bawah 270 juta ton CO2 di 2050, melalui:

  1. Akselerasi NZE, dapat menurunkan emisi GRK mencapai 45%. Programnya yakni akselerasi pembangkit tenaga air, surya, dan panas bumi, PLTS terapung skala besar, EBT base loader melalui baterai energy storage system;
  2. Biomassa, cofiring dan full firing, memegang peranan penurunan 18% GRK. Program yang sedang PLN akselerasi adalah cofiring biomassa PLTU, uji coba high cofiring ratio PLTU, hingga full firing 100%;
  3. Clean gas melalui hidrogen dan amonia. diproyeksikan mampu menurunkan GRK sebesar 15% dengan program akselerasi di antaranya: green hydro plant di PLTU muara karang, amonia cofiring, dan CNG midstream infrastruktur untuk mengirimkan gas ke pulau terdekat;
  4. De-dieselisasi dan konversi gas yang kurang lebih akan mampu mengurangi 4% GRK. Diantaranya melalui integrasi PLTS, PLTB, PLTD dan base, riset PLTD hybrid berbahan gas dan biomasa, riset smart generation dan virtual power plant;
  5. Energi baru khususnya PLTN akan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 10%;
  6. Carbon capture utilization storage (CCUS) dan carbon recycle. Melalui teknologi post dan pre combustion capture serta teknologi chemical looping combustion.

Reporter: Mela Syaharani
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement