BPS: Virus Corona Sebabkan Ekspor dan Impor Indonesia-Tiongkok Turun

BPS menyebut ekspor migas bulan lalu turun 41%. Begitu juga dengan impor buah-buahan dari Tiongkok turun 78,88% karena Imlek dan virus corona.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
17 Februari 2020, 14:39
BPS, virus corona, ekspor dan impor, tiongkok
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, suasana kegiatan ekspor impor di kawasan Tanjung Priok,  Jakarta Utara (28/6). Ekspor dan impor Indonesia-Tiongkok pada Januari 2020 menurun karena mewabahnya virus corona.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat nilai ekspor dan impor Indonesia-Tiongkok menurun pada Januari 2020. Hal tersebut dipengaruhi mewabahnya virus corona.

BPS menyatakan ekspor ke  Tiongkok turun sebesar 12,07% menjadi US$ 2,24 miliar pada Januari 2020. Sedangkan nilai impornya terkontraksi sebesar 2,71% menjadi US$ 4 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto menyebut dampak virus corona terhadap kegiatan ekspor-impor mulai terlihat seusai Imlek. Meski begitu, dirinya tak bisa memaparkan lebih lanjut dampak virus corona pada bulan lalu.

Ia beralasan bahwa pihaknya tak dapat membeberkan perkembangan ekspor dan impor secara mingguan. "Mungkin berdampak pada seminggu terakhir Januari 2020. Namun memang belum tercermin penuh pada bulan tersebut," kata Suhariyanto dalam Konferensi Pers di kantornya, Jakarta, Senin (17/02).

Pasalnya, pergerakan ekspor dan impor pada awal bulan hingga minggu ketiga Januari masih sangat baik. "Sehingga mungkin efeknya bisa kita lihat di Februari," ucap dia.

(Baca: Ekspor & Impor Makin Lesu, Neraca Dagang Januari Defisit US$ 864 Juta)

Secara detail, penurunan cukup tajam terlihat pada ekspor migas yang tercatat kontraksi 41% secara bulanan atau 25,28% secara tahunan. Penurunan juga terlihat pada ekspor nonmigas ke Tiongkok yang kontraksi 9,15%.

Adapun nilai komoditas ekspor berdasarkan HS dua digit yang turun cukup dalam pada bulan lalu yakni bijih, terak, dan abu logam sebesar 75,81% dari US$ 68,9 juta pada Desember 2019 menjadi US$ 284,7 juta. Kemudian, komoditas lemak dan minyak hewan nabati turun 65,58% dari US$ 370,5 juta menjadi US$ 127,5 juta.

Penurunan ekspor juga terlihat pada komoditas ikan dan udang sebesar 36,46% dari US$ 84 juta menjadi US$ 53,4 juta, serta pada komoditas bahan kimia organik yang turun 28,27% dari US$ 56,4 juta menjadi US$ 40,4 juta. Komoditas berbagai produk kimia dan komoditas lainnya juga turun masing-masing 2,94% dan 0,72%.

Sedangkan nilai impor pada Januari 2020 yang menurun tercermin dari impor nonmigas Tiongkok yang kontraksi 3,08% dari US$ 4,07 miliar menjadi US$ 3,94 miliar. Sedangkan untuk nilai impor migas terlihat tumbuh 31,1%.

(Baca: Ada Virus Corona, Neraca Dagang Januari Diramal Surplus)

Untuk penurunan impor terbesar dari Tiongkok pada bulan lalu terlihat pada komoditas buah-buahan. Adapun komoditas buah-buahan turun 78,88% dari US$ 160,4 juta menjadi US$ 33,9 juta. "Penurunan terutama pada apel dan anggur karena tidak ada lagi kebutuhan Imlek," ucap dia.

Selanjutnya impor komoditas mesin-mesin pesawat mekanik turun 11,24%, besi dan baja turun 10,97%, benda-benda dari besi dan baja 0,17%, dan mesin peralatan listrik 1,79%.

Dengan begitu, Suhariyanto menyebut defisit neraca dagang RI dengan Tiongkok turun menjadi US$ 1,84 miliar pada Januari 2020. Angka tersebut anjlok dari posisi defisit Januari 2019 sebesar US$ 2,4 miliar.

(Baca: Lawan Dampak Ekonomi Corona, Pemerintah Akan Gelar Hari Belanja Online)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait