Kinerja Keuangan PLN Membaik Berkat Percepat Lunasi Utang Rp 52,5 T

Pelunasan utang yang dipercepat ini berdampak positif terhadap keuangan dan kinerja PLN, salah satunya menurunkan BPP listrik.
Image title
28 Maret 2022, 19:02
utang pln, listrik,
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/hp.
Petugas PLN melakukan perbaikan jaringan listrik di jalan raya Tanjung, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB, Kamis (1/4/2021).

PLN melakukan percepatan pelunasan utang sebesar Rp 52,5 triliun selama periode 2020 dan 2021. Direktur Utama Darmawan Prasodjo mengatakan pembayaran utang tersebut berdampak positif pada keuangan dan kinerja PLN.

"Upaya pelunasan utang dipercepat (sebesar) Rp 30,8 triliun pada tahun 2020 dan tahun 2021 sebesar Rp 21,7 triliun," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR, Senin (28/3). Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi PLN dalam mengelola pendapatan dan mengurangi biaya.

Bahkan Darmawan mengklaim pelunasan utang yang dipercepat tersebut berdampak pada turunnya biaya pokok penyediaan listrik (BPP). “BPP kami turun Rp 5 triliun pada beban keuangan sampai September 2021,” ujarnya.

Adapun untuk 2022 dan 2023, PLN menargetkan untuk melunasi utangnya masing-masing sebesar US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 21,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.363 per dolar AS).

Advertisement

Sebelumnya Darmawan mengatakan bahwa kondisi keuangan PLN selama pandemi terus membaik. Bahkan perusahaan dapat menurunkan utang sebesar Rp 20 triliun dari Rp 450 triliun menjadi Rp 430 triliun selama dua tahun terakhir.

"Selama dua tahun ini kami melakukan proaktif debt management bisa mengurangi utang kami yang tadinya Rp 450 triliun menjadi Rp 430 triliun. Jadi Insya Allah dalam kondisi saat ini tantangannya kita urai satu per satu," katanya akhir tahun lalu. Simak databoks berikut:

Sementara itu di tengah belum usainya pandemi Covid-19 penjualan listik PLN sepanjang 2021 mampu mencapai 258 terawatt jam (TWh), di atas target 249 TWh. Capaian tersebut juga di atas penjualan tahun sebelumnya yang mencapai 244 TWh.

“Dengan digitalisasi, berdampak pada efisiensi penurunan Biaya Pokok Produksi (BPP) dari Rp 1.355 triliun di tahun 2020 menjadi Rp 1.345 triliun di tahun 2021,” ujarnya.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait