KLHK Usulkan Sektor Migas Tiru Strategi Dekarbonisasi Batu Bara

KLHK menilai peta jalan transisi energi pada sektor pembangkit listrik batu bara dapat direplikasi untuk sektor migas untuk menurunkan emisi karbon.
Muhamad Fajar Riyandanu
24 November 2022, 15:16
migas, transisi energi, dekarbonisasi, emisi karbon, batu bara
Dok. Chevron

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan peta jalan transisi energi yang mulai dijalankan untuk pembangkit listrik batu bara lewat skema investasi pendanaan kolektif internasional juga dapat direplikasi ke jalur transisi di sektor minyak dan gas bumi (migas).

Salah satunya yaitu melalui investasi pada teknologi penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilizaton and storage (CCUS) di lapangan-lapangan migas.

Menteri KLHK Siti Nurbaya mengatakan langkah penjajakan penyabaran CCUS perlu didukung oleh instrumen keuangan yang inovatif untuk mengakses sumber pendanaan konvensional.

"Implementasi rencana ini sangat menantang karena membutuhkan kebijakan teknis dan pendekatan baru untuk mengakses sumber pendanaan konvensional, serta instrumen keuangan yang inovatif dan skema investasi baru," ujarnya dalam The 3rd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG) 2022, Kamis (24/11).

Advertisement

Langkah ini dinilai perlu menjadi prioritas seiring adanya tekanan di sektor industri migas untuk segera melakukan transisi dan dekarbonisasi. Hal tersebut tak telepas dari menguatnya komitmen global untuk membatasi pemanasan global 1,5 derajat celsius melalui pengurangan emisi gas rumah kaca global yang cepat dan berkelanjutan.

"Saat ini dengan mengoptimalkan kerja sama antara pemerintah dan sektor swasta pada tahap operasional untuk memasukkan peran industri minyak dan gas di Indonesia dan menggali potensi CCUS," ujarnya.

Mengutip laporan Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) 2022, Siti Nurbaya mengatakan emisi gas rumah kaca global di sektor energi dikontribusikan 42% dari batu bara, 37% dari minyak bumi, dan 21% dari gas alam.

Lebih lanjut, permintaan minyak secara global akan turun menjadi 75 juta barel per hari pada tahun 2030 akibat peningkatan jumlah mobil penumpang berbasis listrik.

"Beberapa upaya penjajakan penyebaran CCUS sejalan dengan proses penyusunan Rancangan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang CCS/CCUS. Selain itu, ada beberapa perusahaan yang bergerak maju menjadi industri energi yang mengubah proses bisnis secara keseluruhan," ucap Siti.

Kendati demikian, Siti Nurbaya meyakini bahwa industri migas di Indonesia masih memiliki peran yang signifikan dalam penyediaan jasa energi dalam peningkatan permintaan dari pertumbuhan penduduk dan ekonomi, khususnya di bidang transportasi dan industri.

"Saya juga ingin menyambut baik perusahaan minyak dan gas yang telah menyatakan atau mengambil tindakan untuk dekarbonisasi dalam menanggapi tantangan ini," ujarnya.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait