Harga Saham Sektor Energi Diprediksi Terus Membara hingga Akhir 2021

Berdasarkan laman Bursa Efek Indonesia, pada perdagangan Jumat (15/1) indeks saham sektor energi sepanjang 2021 cenderung mengalami kenaikan 34,47%.
Image title
15 Oktober 2021, 21:24
Saham, batu bara, energi, saham PTBA, saham ADRO, Saham INDY, saham DOID, saham ITMG
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020). Kementerian ESDM menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) Juli 2020 sebesar US$52,16 per ton turun sebesar US$0,82 per ton atau 1,54 persen dibandingkan Juni 2020 sebesar US$52,98 per ton, penurunan tersebut disebabkan minimnya permintaan ekspor batu bara untuk pasar global khusunya China dan India.

Analis memprediksi tren kenaikan harga komoditas global masih menjadi penopang positif pergerakan harga saham sektor energi tahun ini. Adapun emiten terkait komoditas batu bara dinilai menjadi yang paling direkomendasikan di sisa 2021.

Dikutip dari laman Bursa Efek Indonesia (BEI), pada perdagangan Jumat (15/10) IDX Sector Energy ditutup koreksi tipis 0,04%. Meskipun begitu, pergerakan indeks sepanjang 2021 cenderung mengalami kenaikan 34,5%. Saham sektor energi juga berhasil menjadi penggerak teratas IHSG akhir pekan ini, seperti saham PT Indo Straits Tbk (PTIS) yang naik 24,8% ke level Rp 352 per saham.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony mengatakan tren kenaikan harga batu bara diprediksi masih akan berlanjut. Hal tersebut didukung risiko krisis energi yang melanda beberapa negara.

Mengacu pada kondisi tersebut, Chris menyatakan masih ada potensi bagi sektor energi untuk kembali mencatatkan peningkatan kinerja. “Energi sendiri lebih fokus pada emiten-emiten di industri batu bara seperti INDY, ADRO, PTBA, dan ITMG masih cukup menarik,” ujar Chris kepada Katadata.co.id, Jumat (15/10).

Untuk saham Indika Energy alias INDY, Chris merekomendasikan beli dengan target harga akhir tahun Rp 3.000 per saham. Dikutip dari RTI, harga saham INDY pada perdagangan Jumat (15/10) ditutup menguat 0,88% di level Rp 2.280 per saham. Sepanjang tahun ini, saham minyak, gas dan batu bara ini sudah naik 31,79%.

Rekomendasi selanjutnya, Adaro Energy atau ADRO yang diprediksi bergerak ke level Rp 2.400 per saham akhir 2021. Hari ini, saham ADRO ditutup pada area hijau alias naik 0,27% di level Rp 1.860 per saham, dengan kenaikan year to date (ytd) 30,1%. Ada juga saham PT Bukit Asam Tbk atau saham PTBA yang diprediksi ke level Rp 3.600 akhir tahun ini.

Chris juga menilai prospek Indo Tambangraya Megah atau ITMG masih menarik dilirik, dengan potensi harga akhir tahun Rp 32.000 per saham. Adapun pada perdagangan akhir pekan ini, saham ITMG ditutup naik 1,76% di level Rp 26.000. Sepanjang 2021, harga saham tambang ini sudah melesat naik 87,73%.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, hingga akhir tahun pergerakan harga komoditas batu bara secara teknikal akan terkoreksi lebih dahulu. Meskipun begitu, dia menilai tidak menutup kemungkinan bagi harga komoditas hitam tersebut untuk menguat terbatas.

“Ada potensi tekanan harga komoditas menekan minat pasar terhadap emiten pertambangan,” kata pria yang akrab disapa Didit kepada Katadata.co.id, Jumat (15/10).

Untuk jangka pendek, Didit menilai beberapa saham sektor komoditas masih menarik untuk dilirik hingga akhir Oktober 2021. Beberapa saham tersebut seperti PT Delta Dunia Makmur Tbk atau saham DOID dengan target harga Rp 400 per saham dan saham PTBA dengan target harga Rp 3.100 per saham.

Pada perdagangan Jumat (15/10), saham DOID ditutup menguat 1,21% ke level Rp 334 per saham, sedangkan untuk saham PTBA naik 0,35% di level Rp 2.830 per saham.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor produk pertambangan dan lainnya pada September 2021 mencapai US$ 3,77 miliar. Capaian itu melesat 183,59% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ekspor batu bara menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi mencapai 70,33% dan kenaikan hingga 168,89%.  "Ekspor batu bara dibandingkan bulan sebelumnya naik 9%, tujuan terbesarnya ke Tiongkok dan India," ujar Ketua BPS Margo Yuwono dalam Konferensi Pers, Jumat (15/10).

Kenaikan ekspor bukan hanya terjadi pada batu bara. Permintaan ekspor terhadap lignit atau batu bara cokelat juga melesat mencapai 904,91% dibandingkan September 2021. Ekspor lignit menyumbang 11% total ekspor pertambangan dan lainnya. Lignit adalah jenis batu bara tingkat terendah yang dikenal sebagai batu bara cokelat.

Lonjakan ekspor batu bara dan lignit tak terlepas dari krisis energi yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia. Mengutip Reuters, krisis energi yang semakin parah terjadi di Cina, karena faktor cuaca dingin yang membuat Negeri Panda harus memasok lebih banyak persediaan batu bara.

Reporter: Abdul Azis Said
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait