Kontrak Baru Waskita Karya Diprediksi Hanya Capai 65% dari Target 2019

Analis Mirae Asset Sekuritas memperhitungkan, WSKT harus mendivestasikan paling tidak sepertiga tol yang dimiliki untuk mempertahankan laba bersih.
Image title
14 Oktober 2019, 19:24
Waskita Karya, WSKT
Waskita KATADATA|Arief Kamaludin
Waskita Karya

Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan kontrak baru yang dicapai PT Waskita Karya Tbk (WSKT) hanya sebesar Rp 29,3 triliun sampai akhir tahun ini, atau 52,32% dari target awal yaitu Rp 56 triliun, atau 65,11% dari target revisi yang sebesar Rp 45 triliun. Penyebabnya antara lain penundaan proyek infrastruktur.

“Penundaan proyek mengakibatkan volatilitas pada perolehan kontrak baru WSKT dan akan tetap seperti itu jika tidak ada perbaikan signifikan pada eksekusi proyek,” kata Analis Mirae Asset Sekuritas Josua Michael dalam riset tertulis, Senin (14/10).

Bila perolehan kontrak baru yang terealisasi sesuai prediksi Josua yaitu Rp 29,3 triliun tahun ini, maka pertumbuhan kontrak baru hanya mencapai 7,5% dari tahun lalu. Meski begitu, dengan memperhitungkan proyek yang ditunda dari 2019 ke 2020, kontrak baru bisa mencapai Rp 33,6 triliun atau tumbuh 15% di 2020.

(Baca: Waskita Karya Lirik Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya)

Proyeksi kontrak baru pada 2020 tersebut dengan catatan eksekusi proyek tidak terhambat. Hambatan bisa berupa pembiayaan yang terkendala, perencanaan dan persiapan proyek yang buruk, serta masalah pembebasan lahan.

Adapun divestasi jalan tol akan menjadi penyokong penting laba perusahaan. Pada 2019, WSKT akan memiliki lima tambahan jalan tol dengan kepemilikan mayoritas dan dua tol dengan kepemilikan minoritas yang akan didivestasi.

Pada 2020, WSKT berencana untuk mendivestasi tol Becakayu melalui penerbitan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) dan juga 30% kepemilikan di Waskita Transjawa Toll Road (WTTR). Jika berhasil, divestasi akan menyediakan Rp 2,1 triliun tambahan ke laba bersih.

(Baca: Banyak Proyek Pembangunan, Waskita Sebut Rasio Utang Masih Wajar )

Menurut perhitungan Josua, untuk mempertahankan nilai laba bersih, WSKT harus mendivestasikan paling tidak sepertiga tol yang mereka miliki pada 2020. “Namun demikian dengan waktu yang relatif singkat, tidak mudah bagi WSKT untuk mencari pembeli dengan valuasi yang cocok,” ujarnya.

Dengan analisis tersebut, Josua merekomendasikan hold untuk saham WSKT, dengan target harga Rp 1.600, yang merepresentasikan potensi kenaikan sebesar 7,7%. Pada target harga tersebut, WSKT diperdagangkan pada 2020 P/E 9,9x.

Risiko investasi meliputi perkembangan proyek yang lambat, proyek ditunda, pembayaran proyek yang lambat, kegagalan divestasi, dan volatilitas tingkat suku bunga pinjaman.

Pada semester lalu WSKT mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 997,8 miliar, turun 66,6% dari periode yang sama tahun lalu Rp 2,99 triliun.

(Baca: Harga Saham Waskita Beton Terus Merosot, Bagaimana Prospek ke Depan?)

Dalam laporan keuangannya, penurunan laba ini sejalan dengan turunnya pendapatan usaha perusahaan sebesar 35,3% menjadi Rp 14,7 triliun. Pendapatan lain-lain WSKT juga anjlok 87,2% menjadi Rp 227,4 miliar.

Video Pilihan

Artikel Terkait