Ketika Pasar Game dan E-Commerce Indonesia Jadi Rebutan Pemain Dunia

Sampai saat ini, beberapa raksasa teknologi sudah masuk ke pasar bisnis digital Indonesia. Nilainya makin melejit.
Desy Setyowati
16 April 2018, 11:06
Digital e-commerce
Arief Kamaludin | KATADATA

Bank investasi asal Amerika Serikat, Goldman Sachs Group Inc. mengatakan Indonesia akan menjadi medan tempur baru bagi perusahaan raksasa teknologi di dunia. Dua pasar yang bakal diperebutkan yakni aplikasi permainan alias game dan perdagangan elektronik atau e-commerce.

Analis Goldman Sachs, Miang Chuen Koh, mengatakan peluang investasi di bidang teknologi di Indonesia cukup besar. Alasannya, Indonesia memiliki populasi yang sangat besar, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pasar yang belum terjamah. (Baca juga: Google dan Temasek Suntikkan Rp 16 Triliun ke Go-Jek).

Apalagi, laju pertumbuhan majemuk tahunan (compound annual growth rate/CAGR) di sektor gaming diramal mencapai 22 persen dalam lima tahun ke depan. Sementara di sektor e-commerce, “CAGR-nya bisa mencapai 61 persen di periode yang sama,” demikian analisis Chuen Koh sebagaimana dilansir Bloomberg, akhir pekan lalu.

CAGR ini menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata ketika menanamkan modal ulang hasil investasi selama beberapa tahun. Pemilik bisnis bisa menggunakan CAGR untuk menganalisis kinerja berbagai variasi ukuran bisnis, termasuk pangsa pasar, beban, pendapatan dan tingkat kepuasan pelanggan.

Advertisement

Sampai saat ini, beberapa raksasa teknologi sudah masuk ke pasar bisnis digital Indonesia. Awal 2018, misalnya, Alphabet, induk perusahaan Google dan beberapa rekan berinvestasi ke Go-Jek Indonesia senilai US$ 1,2 miliar atau setara dengan Rp 16 triliun. Di dalamnya ada investor asal Singapura, Temasek Holdings, KKR & Co, Warburg Pincus LLC dan platform online China Meituan-Dianping turut berpartisipasi.

(Baca juga: Suntik Go-Jek Rp 16 Triliun, Google Pacu Ekonomi Digital Indonesia).

Langkah tersebut memperbesar laju investasi di sektor ini setelah hal serupa dilakukan beberapa pemain besar lainnya pada pada tahun lalu. Sebagai contoh, JD.com Inc menginvestasikan sekitar US$ 100 juta ke Go-Jek. Begitu juga dengan Tencent Holdings Ltd, media sosial Tiongkok dan perusahaan hiburan online sudah berinvestasi di Go-Jek.

Selain Go-Jek, penyedia lapak perdagangan online atawa marketplace Tokopedia mendapat suntikan modal dari perusahaan raksasa telekomunikasi asal Jepang, Softbank Group Corp. Perusahaan asal Tiongkok, Alibaba Group Holding Limited pun mengucurkan dana dengan total US$ 3 miliar atau sekitar Rp 40 triliun ke Lazada.

(Baca pula: Mei, Lazada Ekspor Perdana Produk UKM Indonesia)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait