ANALISIS DATA

Mengapa Kurva Covid-19 di India Cepat Melandai Daripada RI?


Yosepha Pusparisa

11 Februari 2021, 09.02

Foto:

Pemerintah India mampu menyelaraskan lockdown, pelacakan kasus, dan tes Covid-19 secara massif. Sebaliknya, tes dan pelacakan di Indonesia masih rendah.


Indonesia dan India termasuk negara dengan penduduk terbesar di dunia. Tak heran, kasus positif Covid-19 di dua negara tersebut cukup tinggi, bahkan di India lebih banyak. Namun, India justru mampu lebih cepat melandaikan kurva pandeminya dibandingkan Indonesia. Mengapa?

Pada tahun 2020, berdasarkan data Worldometer, India di peringkat kedua negara berpenduduk terbanyak dunia dengan 1,38 miliar jiwa. Indonesia berada di peringkat keempat dengan jumlah penduduk 270,2 juta jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Kedua negara pun sama-sama memiliki jutaan kasus Covid-19. Hingga 3 Februari 2021, tercatat total 10.791.123 kasus Covid-19 di India dan berada di posisi kedua terbanyak global. Pada tanggal yang sama, tercatat total 1.111.671 kasus Covid-19 di Indonesia.

Namun, India lebih berhasil mengendalikan Covid-19 dibandingkan Indonesia. Dari total kasus Covid-19 di India, hanya 1,4% di antaranya meninggal dunia. Artinya, 97,1% atau setara 10.480.455 pasien Covid-19 di India berhasil sembuh. Sementara, jumlah pasien yang masih membutuhkan perawatan atau isolasi mandiri 156.873 orang.

Kasus Covid-19 di India mencapai puncak pada 16 September 2020 dengan tambahan 97.859 kasus dalam sehari. Saat itu, tercatat total kasus Covid-19 di India sebanyak 5.115.893. Setelah itu, kurva kasus harian di India mulai melandai.  

 

 

 

Sebaliknya, Indonesia memiliki tingkat kematian akibat Covid-19 lebih tinggi dari India. Dari total kasus di negeri ini, 2,8% atau setara 30.770 jiwa di antaranya meninggal dunia. Artinya, 81,5% dari total kasus atau setara 905.665 pasien Covid-19 yang sembuh. Jumlah pasien yang masih membutuhkan perawatan atau isolasi mandiri masih di titik 15,8% atau 175.236 jiwa per 3 Februari 2021.  

Indonesia pun belum berhasil melandaikan kurva kasus Covid-19 harian.  Sejak pertengahan Januari 2021, rata-rata Covid-19 di Indonesia bertambah hingga belasan ribu kasus. Puncaknya pada Sabtu (30/1) pekan lalu yang menyumbang hingga 14.518 kasus Covid-19 dalam sehari.

 

 

 

Posisi Indonesia memang masih di bawah India dalam peringkat jumlah kasus Covid-19 secara global. Namun, jumlah penduduk India yang lebih banyak dan tetap berhasil melandaikan kurva adalah sebuah prestasi.

Keberhasilan India tersebut lantaran pemerintahnya melakukan lockdown atau karantina wilayah, pelacakan kasus, dan tes Covid-19 yang massif secara bersamaan.  Lockdown nasional mulai berlaku pada 25 Maret 2020. Saat itu India mencatat 606 kasus Covid-19 dengan 10 di antaranya meniggal.

Pada lockdown pertama tersebut, India hanya mampu melakukan tes Covid-19 kepada kurang dari 20 ribu orang. Hasilnya, kasus Covid-19 terus merata ke seluruh wilayah India dan pemerintah memperpanjang locdown yang semestinya berakhir pada 14 April 2020 hingga 3 Mei 2020.

Seiring perpanjangan lockdown, pemerintah India kian menggencarkan tes Covid-19 kepada warganya. Tercatat saat itu tes menjangkau 2,3 juta jiwa penduduk dengan tingkat kepositifan 4,3%. Pemerintah India kemudian memperpanjang lockdown dua kali lagi, yakni hingga 17 Mei 2020 dan hingga 31 Mei 2020.

Pemerintah India mencabut lockdown pada 8 Juni 2020 atau setalah 75 hari berlaku. Saat itu, total kasus Covid-19 mencapai 2,6 juta dengan 7,2 ribu di antaranya meninggal dunia. Namun, tes Covid-19 di sana tak kendur.

Menurut Koordinator Data KawalCovid19 Ronald Bessie, seperti dilansir Jawa Pos, rasio tes India mencapai 1:30. Angka ini jauh lebih tinggi dari Indonesia yang saat awal pandemi berkisar 1:10-11.

“Sekarang rasionya bahkan 5. Itulah mengapa positivity rate Indonesia bukan 5 lagi. Sekarang 3:1. Enggak cukup tahan pandemi,” kata Bessie.

Mengutip Kompas, ketika puncak Covid-19 terjadi pada Agustus-September 2020, pemeriksaan Covid-19 di India sanggup menjangkau sekitar 1 juta orang per hari. Setiap hari berhasil menemukan 90.000 kasus positif.

India mengoptimalkan pemeriksaan Covid-19 melalui tes antigen. Dewan Riset Medis India (ICMR) menyetujui metode tes tersebut guna memaksimalkan tes di berbagai wilayah. Namun tingkat akurasi true negative (hasil negatif yang teridentifikasi benar) berkisar 50-84%.

Sehingga, ICMR dan Lembaga Ilmu Kedokteran India (AIIMS) merekomendasikan bagi individu dengan hasil negatif, perlu kembali melakukan tes polymerase chain reaction (PCR) jika bergejala untuk menghindari hasil true negative, seperti dilansir dari BBC.

Kebijakan tersebut berbeda dengan di Indonesia yang merekomendasikan tes PCR setelah seseorang terdeteksi positif melalui tes antigen. Sementera mereka yang hasil tes antigennya negatif tak perlu tes PCR.

Padahal tingkat akurasi antigen lebih rendah dari PCR, sebab hanya mengidentifikasi respons imun yang berbentuk antibodi. Tes PCR masih bertahan dengan akurasi tertinggi karena mampu mendeteksi materi genetik virus (RNA). Hal ini membuat mereka yang negatif dari hasil tes antigen tetap berpeluang positif dan menularkan Covid-19 ke orang lain sebelum terkonfirmasi dalam tes PCR.    

Tak berhenti di tes Covid-19, pemerintah India juga menggalakkan pelacakan kasus dari rumah ke rumah. Langkah seperti ini yang belum terjadi di Indonesia. Rasio lacak-isolasi (RLI) Indonesia, menurut KawalCovid19, total RLI hanya sebatas 1,28 per 3 Februari 2021. Artinya, hanya sekitar satu orang dari satu kasus positif Covid-19 yang dapat terlacak.

Bahkan Bali, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Sumatra Utara, dan Papua Barat tak mampu melacak kontak sama sekali alias RLI 0. Padahal Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar RLI setidaknya mencapai 30, tiap satu kasus positif dapat terlacak hingga 30 orang lainnya.

Tanpa diiringi tes Covid-19 dan pelacakan kontak erat yang massif, maka aneka kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat—mulai dari PSBB, PPKM Jawa-Bali, sampai PSBB Mikro, tak akan berjalan efektif melandaikan kasus di Indonesia.

Kecepatan pemerintah India memvaksinasi Covid-19 penduduknya juga memperkuat penanganan pandemi. Perdana Menteri India Narendra Modi memulai vaksinasi pada 16 Januari 2021 dengan target 300 juta orang dan 1,38 miliar populasi tervaksin hingga Juli 2021. Tenaga kesehatan dan para pekerja garda terdepan dalam menangani pandemi menjadi sasaran penerima vaksin gelombang pertama.  

Berdasarkan data 2 Februari 2021, sebanyak 4.138.918 orang telah menerima vaksin di India. Artinya, sekitar 244 ribu orang per hari menerima vaksin.

Pencapaian tersebut lebih baik dari Indoneia yang baru mampu memvaksinasi 596.260 tenaga kesehatan per 2 Februari. Sehingga, rata-rata pemerintah hanya mampu memvaksinasi 30 ribu orang per hari. Padahal, Indonesia memulai lebih dulu, yakni pada 13 Januari 2021 dengan target 181,5 juta orang dalam 15 bulan.

 

 

 

Dengan perbandingan kecepatan tersebut, herd immunity di Indonesia pun akan lebih lambat terbentuk dari India bila pemerintah tak meningkatkan kapasitas vaksinasi. Pengendalian Covid-19 di Indonesia pun akan lebih lambat, terlebih tes dan pelacakan Covid-19 masih minim.

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah Indonesia meneladani India. Jumlah penduduk yang besar bukan alasan untuk permisif atas tingginya kasus Covid-19, tapi justru semakin menggalakkan upaya pencegahan.  India terbukti berhasil melakukannya.

Editor: Muhammad Ahsan Ridhoi