Tidak Ada yang Tertinggal dalam Andil Pembangunan Berkelanjutan

Covid-19 jadi momentum untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dengan kolaborasi kuat di antara para pemangku kepentingan.
Image title
Oleh Hanna Farah Vania - Tim Riset dan Publikasi
17 Desember 2020, 20:00
Ilustrasi Sustainable Development
123rf.com

Pandemi Covid-19 telah memperlambat pertumbuhan ekonomi global, termasuk juga Indonesia. Pada kuartal III-2020 pertumbuhan ekonomi nasional minus 3,49 persen. Sebelumnya pada kuartal II, pertumbuhan ekonomi juga sudah terkontraksi 5,2 persen. Hal ini berarti Indonesia sudah masuk ke dalam resesi karena dua kuartal berturut-turut perekonomian bertumbuh negatif.

Perekonomian yang terdampak pandemi ini semakin menunjukkan mendesaknya penataan ulang pembangunan. Model pembangunan berkelanjutan (sustainable) diyakini merupakan solusi yang tepat agar Indonesia bisa bertahan. Terlebih lagi Indonesia pun sudah ikut mengesahkan rencana aksi global untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan melalui Sustainable Development Goals (SDG’s) yang berisi 17 tujuan dan 169 target.

Plt Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Amalia Adininggar Widyasanti berpendapat negara harus segera mengatur ulang dalam skala besar (great reset) pembangunan Indonesia.

Ke depan, kata dia, bangsa Indonesia harus menekankan ekonomi inklusif dengan menyeimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi sesuai dengan prinsip-prinsip agenda tujuan SDG’s. “Ini akan berjalan baik jika ada sinergitas yang kuat antara seluruh pihak,” katanya saat berbicara dalam “Sustainability Day yang diselenggarakan secara daring oleh Unilever Indonesia dengan Katadata Indonesia bertajuk “Kontribusi Lintas Sektor Wujudkan Masa Depan Indonesia yang Berkelanjutan”, Senin (23/11).

Pemerintah melalui Bappenas juga sudah menuangkannya pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Sebagai program turunan, Program Pertumbuhan Hijau hadir untuk memperkuat komitmen Indonesia terhadap SDGs.

Melalui program ini, pemerintah berfokus pada ekonomi sirkular dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan dari hulu hingga hilir. Lalu yang terpenting, penguatan kemitraan pun terjadi. Adapun sektor bisnis, akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mitra pembangunan nasional dan internasional, juga pemerintah daerah menjadi aktor penting lainnya dalam program ini. “Oleh karenanya, kolaborasi menjadi poin kunci untuk mewujudkannya,” ujar Amalia.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) Shinta W. Kamdani juga meyakini pandemi justru menjadi momentum besar (wake up call) untuk mewujudkan kolaborasi dalam pembangunan berkelanjutan.

Modal pendanaan yang kuat menjadi kunci utama keberhasilan mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan. Berdasarkan perhitungan Bappenas, dana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan SDGs mencapai Rp10 ribu triliun. “Jadi kalau cuma bertumpu pada APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) tidak mungkin,” kata Shinta.  

Dengan demikian, swasta menjadi sangat penting perannya. Selain masalah pembiayaan, sisi tata kelola juga menjadi faktor penting. Terdapat tiga aspek untuk mendukung keberlanjutan. Pertama, rantai pasok (supply chain) yang mengimplementasi produk berkelanjutan.

Kedua, manajemen yang berkomitmen kuat untuk mengimplementasikan SDGs, memberdayakan pegawai dengan aspek kesetaraan, dan memberi pelatihan akan pemahaman SDGs. Ketiga, ekositem yang mendukung SDGs dan mempromosikan praktik terbaik (best practice).

Aksi Nyata Berbagai Aktor Jadi Aspek Penting

Direktur PT Unilever Indonesia Ira Noviarti menyatakan seiring dengan berkembangan waktu masalah yang dihadapi dunia semakin pelik dan beragam. Tak hanya pada kebersihan dan kesehatan, tapi juga ketimpangan, kesejahteraan, ketimpangan sosial, dan lingkungan.

“Oleh karena itu, tujuan Unilever bertransformasi menjadi membuat kehidupan berkelanjutan sebagai sebuah hal yang terintegrasi dalam kehidupan kita,” katanya. Komitmen ini tertuang dalam Unilever Sustainable Living Plan yang sudah berjalan sejak 10 tahun silam.

Sebagai perwujudannya, Unilever menurunkannya pada tiga program utama. Pertama, Indonesia Sehat yang berfokus pada bidang kesehatan dan nutrisi. Program ini menghadirkan upaya transisi makanan sehat dan mengurangi dampak lingkungan dari rantai makanan yang terimplementasi pada produk pangan Unilever Indonesia.

“Sejak dua tahun lalu, kami telah menjangkau 1 juta masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui program untuk ibu, sekolah, dan pada produk-produk kami,” kata Ira.

Kedua, Indonesia Hijau yang menjadi bukti nyata komitmen Unilever Indonesia pada perubahan iklim. Hal ini diimplementasikan pada rantai bisnis dari ujung ke ujung. Perusahaan yang berdiri sejak 87 tahun lalu ini berupaya untuk konsisten dalam menekan penggunaan air hingga mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

“Pada 2018 kami berhasil mengurangi emisi GRK 33 persen,” katanya. Sebagai salah satu contohnya, pabrik detergen yang memproduksi produk Rinso dan Molto mulai menggunakan energi biomassa dari cangkang sawit yang bisa diperbaharui.

Ketiga, Indonesia Maju yang bertujuan untuk memberdayakan komunitas masyarakat. Contohnya dengan melakukan pemberdayaan perempuan, edukasi dan mentoring pertanian, dan literasi digital bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pada masa pandemi Covid-19, Unilever Indonesia membekali 147 ribu pedagang warung kecil dengan bantuan finansial. Adapun upayanya memberikan kembali keuntungan penjualan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) selama tiga bulan untuk bertahan hidup.

Selain pihak swasta, upaya pembangunan keberlanjutan juga dilakukan di daerah, seperti Provinsi Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyadari bahwa persoalan lingkungan, yang menjadi salah satu aspek keberlanjutan, sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Salah satunya pengurangan emisi GRK dan penggunaan plastik.

Menurut Emil, mobilitas di Jawa Timur saat ini didominasi oleh penggunaan kendaraan pribadi sehingga akan meningkatkan emisi GRK. “Di sini kami memastikan kendaraan-kendaraan memenuhi standar emisi yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Di samping itu, Pemprov Jawa Timur juga memastikan ketersediaan kendaraan publik dan menghadirkan inovasi melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan sektor industri. Pemanfaatan energi terbarukan juga menjadi upaya untuk mewujudkan ekosistem hijau di Jawa Timur.

Pada konteks pengelolaan sampah, terdapat beberapa upaya yang dilakukan di antaranya 3R (reduce, reuse, recycle), membangun bank sampah dan pengedukasian pada masyarakat hingga melakukan integrasi pelestarian sungai.

Emil percaya bahwa perusahaan juga punya andil. Tak hanya dari sisi produksi produksi, perusahaan juga harus bersama-sama membantu proses recycling di sisi hilir. Pemprov Jawa Timur saat ini mengupayakan kolaborasi tersebut dengan memberi insentif kepada perusahaan yang dapat mengelola limbah pabriknya dengan baik.

Diskusi ini berfokus pada upaya bisnis yang tidak terus menerus berorientasi pada profit, tapi juga meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Upayanya adalah dengan mengedepankan prinsip ‘No One Left Behind’ yang ada pada SDGs. Strateginya dengan menggali potensi dan meningkatkan kapasitas pembangunan manusia di sepanjang rantai nilai bisnis agar dapat turut berkembang dan berdampak pada masyarakat.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait