Kasus Beras Maknyuss, Polisi Incar Dua Anak Usaha Tiga Pilar

PT IBU dan PT SAKTI diduga melakukan kecurangan sejak 2010, saat keduanya diakuisisi Tiga Pilar.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
24 Juli 2017, 21:50
Penggerebekan Beras Ilegal
ANTARA FOTO/Risky Andrianto
Polisi menyegel gudang penyimpanan beras yang dipalsukan kandungan karbohidratnya dari berbagai merk di gudang beras PT Indo Beras Unggul, di kawasan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (20/7) malam.

Polisi terus mengembangkan kasus dugaan pemalsuan mutu beras oleh PT Indo Beras Unggul (IBU) usai penggerebekan gudang di Bekasi pada Kamis (20/7) malam lalu. Polisi pun mengincar satu perusahaan lain yakni PT Sukses Abadi Karya Inti (SAKTI) dalam kasus ini.

Kedua perusahaan tersebut sama-sama ada di bawah naungan PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food Tbk. "Ya itu kan dua kemarin, PT IBU dan PT SAKTI," ujar Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Senin (24/7).

Grup Tiga Pilar memiliki enam anak perusahaan di bidang perberasan. Selain PT IBU dan PT SAKTI, ada juga PT Dunia Pangan, PT Jatisari Srirejeki, PT Tani Unggul Usaha, dan PT Swasembada Tani Selebes.

Setyo mengatakan, PTIBU dan PT SAKTI diduga telah melakukan pelanggaran persaingan usaha seperti tercantum dalam Pasal 382 Bisnis KUHP. Sebab, PT IBU dan PT SAKTI diduga melakukan pembelian gabah lebih tinggi dari harga ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah.

(Baca juga: Kisruh Beras Maknyuss, Mensos Minta Regulasi Beras Subsidi Diperjelas)

Menurut Setyo, pemerintah telah memberikan subsidi benih, pupuk, dan obat-obatan untuk petani dalam memproduksi gabah. Untuk itulah pemerintah menetapkan harga gabah panen sebesar Rp 3.700 per kilogram dan harga gabah kering giling Rp 4.600 per kilogram.

Harga tersebut mengacu pada Permendag Nomor 47/m-dah/per/7/2017 tentang perubahan atas Permendag Nomor 27 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Penjualan di Konsumen.

Hal tersebut, kata Setyo, diharapkan akan memberikan keadilan terhadap seluruh pihak, baik petani, penggiling kecil dan besar, serta konsumen. Namun, kedua perusahaan tersebut diduga melakukan pembelian gabah lebih tinggi dari harga yang telah ditetapkan pemerintah.

Pembelian gabah dengan harga yang lebih tinggi ketimbang ketetapan pemerintah ini diakuinya menguntungkan petani. “Tetapi penggiling kecil mati," kata Setyo.

(Baca juga:  Tiga Pilar Bantah “Maknyuss” Dioplos Beras Murah)

Beras itu pun kemudian diproses dan dijual kembali dengan harga tinggi. Setyo mengatakan, harga jual beras tersebut bisa mencapai dua kali lipat dari harga eceran yang ditetapkan pemerintah. Hal tersebut kemudian dianggap tidak berkeadilan dan memberatkan konsumen.

"Mungkin kalau dijual Rp 12.000 masih adil. Masyarakat masih mampu menikmati. Tetapi ini sudah tidak wajar," tambahnya.

Selain itu, Setyo juga menilai PT IBU telah melakukan penipuan mutu beras. Pasalnya, informasi nilai gizi yang tertera di label kemasan Ayam Jago dan Maknyuss tidak sesuai hasil uji laboratorium.

Setyo menuturkan, di kemasan Ayam Jago tertera nilai protein sebesar 14 persen, namun berdasarkan hasil uji laboratorium sebesar 7,74 persen. Adapun, nilai karbohidrat di kemasan Ayam Jago sebesar 25 persen, namun berdasarkan hasil uji laboratorium sebesar 81,4 persen.

(Baca juga: Mantan Menteri Pertanian Ikut Tercoreng Kasus Beras "Maknyuss")

"Untuk Maknyuss, kadar protein di kemasan 14 persen ternyta 7,72 persen. Karbohidrat di kemasan 27 persen, ternyata hampir sama 81,47 persen," tutur Setyo.

Adapun, pemerintah menyebut indikasi kerugian atas kecurangan tersebut mencapai Rp 10 triliun. Menurut Setyo, angka tersebut didapat dari selisih harga beli dan jual kembali beras produksi PT IBU dan PT SAKTI sejak diakuisisi PT TPS pada 2010 lalu. "Hitung-hitungannya seperti itu," ujarnya.

Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait