Kementerian ESDM Akan Buka Lelang Blok Makassar Strait Bulan Depan

"Mudah-mudahan bulan depan lelangnya bisa dibuka," kata Djoko
Anggita Rezki Amelia
17 Juli 2018, 18:18
Rig Migas Lepas Pantai Pertamina Hulu Energi
Katadata

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan akan membuka lelang Blok Makassar Strait bulan depan. Blok migas yang akan habis kontraknya pada 2020 tersebut diharapkan bisa segera diputuskan pengelolaannya tahun ini.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan saat ini pihaknya masih menyelesaikan dokumen lelang seperti administrasi dan dokumen legal lainnya. "Mudah-mudahan bulan depan lelangnya bisa dibuka," kata Djoko di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/7).

Kementerian menargetkan proses lelang ini bisa rampung  dalam tiga bulan ke depan. Dalam lelang ini Djoko berharap akan banyak perusahaan yang tertarik untuk mengelola blok tersebut. Kontraktor baru bisa memberikan bonus tanda tangan yang lebih besar bagi pemerintah.

(Baca: Lelang Blok Makassar Strait Ditargetkan Rampung Tiga Bulan Lagi)

Advertisement

Djoko yakin Blok Makassar Strait akan menarik bagi perusahaan yang beroperasi di sekitar blok tersebut, seperti Eni di Blok Muara Bakau. Bahkan, Eni sempat menyampaikan secara lisan tertarik mengelola blok tersebut. Eni bisa memasang pipa dari Makassar Strait untuk diintegrasikan dengan proyek Jangkrik. Apalagi proyek tersebut berdekatan.

"Eni mau ikut lelang boleh, Pertamina mau ikut boleh, Chevron juga ikut boleh, namanya lelang," kata dia.

Pemerintah memutuskan pengembangan Blok Makassar akan terpisah dari Blok Rapak dan Ganal yang tergabung dalam Proyek Ultra Laut Dalam (Indonesia Deepwater Development/IDD). Pemerintah memiliki beberapa pertimbangan untuk memisahkan Makassar Strait dari Proyek IDD. Salah satunya adalah adanya bonus tanda tangan dan komitmen kerja pasti dari kontraktor yang akan mengelola blok tersebut.

(Baca: Proyek IDD Tetap Jalan Tanpa Makassar Strait )

Blok ini dilelang karena Chevron Indonesia melepas Blok Makassar Strait setelah kontraknya berakhir 2020. Perusahaan asal Amerika Serikat itu menilai blok tersebut tidak ekonomis apabila tidak digabung dengan Blok Rapak dan Ganal dalam Proyek IDD.

Selain itu, PT Pertamina (Persero) dan Sinopec selaku operator eksiting di Blok Makassar Strait juga tidak berminat untuk memperpanjang blok itu.Saat ini Pertamina melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memiliki hak kelola di Blok Makassar Strait sebesar 10%. Sisanya dimiliki Sinopec 18% dan Chevron 72% sebagai operator.

(Baca: Lima Kontraktor Blok Migas Terminasi 2020 Ajukan Perpanjangan Kontrak)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait