Gapki Prediksi Serapan Biodiesel Tahun Ini 20 Persen di Bawah Target

Sepanjang Januari hingga Oktober, penyerapan biodiesel baru 658 ribu kiloliter. Padahal targetnya tahun ini sebesar 1,5 juta kiloliter
Safrezi Fitra
10 November 2015, 17:06
biodiesel
Katadata | Arief Kamaludin

KATADATA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi penyerapan biodiesel dalam negeri tahun ini tidak akan mencapai target. Gapki menargetkan penjualan biodiesel bisa mencapai 1,5 juta kiloliter tahun ini, sedikit lebih tinggi dari tahun lalu sebesar 1,45 juta ton. Realisasi tahun ini kemungkinan maksimal hanya akan mencapai 1,2 juta kiloliter.

Sekretaris Jenderal Gapki Togar Sitanggang mengatakan penyerapan biodiesel dalam 10 bulan terakhir masih rendah. Kebijakan wajib (mandatory) menggunakan 15 persen biodiesel dalam campuran solar (B15) yang dikeluarkan pemerintah pada Agustus lalu, ternyata belum terlalu banyak berpengaruh.

Dalam tiga bulan sejak Agustus hingga Oktober, penyerapan biodiesel hanya 158.411 kilo liter. Sepanjang Januari hingga Oktober tahun ini, penyerapan biodiesel hanya mencapi 658 ribu kiloliter. Padahal target Gapki tahun ini penyerapan biodiesel sebesar 300.000 kiloliter per bulan.

Untuk mencapai target, tidak mungkin dengan hanya mengandalkan penyerapan dalam dua bulan terakhir saja tahun ini. "Jadi November dan Desember diprediksi serapan biodisel sekitar 300-500 kiloliter," ujarnya dalam konferensi Pers di Gedung GAPKI Jakarta, Selasa (10/11).

Advertisement

(Baca: Pemerintah Genjot Produksi Biodiesel Lebih dari 8,5 Juta KL)

Kebijakan B15 sepertinya tidak mampu mendongkrak volume penyerapan biodiesel dalam negeri. Kemungkinan banyak pihak yang belum yakin sepenuhnya Indonesia bisa menerapkan kebijakan ini secara tegas. Apalagi saat itu belum ada kejelasan mengenai subsidi biodiesel.

Meski demikian, kata Togar, kebijakan B15 cukup berpengaruh pada harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Sejak Agustus hingga saat ini harga CPO merangkak naik, dari 2.100 ringgit Malaysia menjadi 2.300 ringgit.

Menurut Togar, harga CPO ada kemungkinan naik lagi mencapai 2.400 ringgit. Ini tergantung dari konsistensi pemakaian produk turunannya di dalam negeri, seperti biodiesel. Saat ini produsen biodiesel tidak lagi bisa melakukan ekspor dan hanya bisa mengandalkan konsumsi dalam negeri.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPBD) Kelapa Sawit Bayu Krisnamurthi mengakui penyerapan biodiesel sejak diterbitkannya aturan B15 masih rendah. PT Pertamina (Persero) yang ditugaskan menyerap biodiesel, masih menunggu kejelasan subsidi. Sementara produsen tidak mau menjual dengan formula harga yang telah ditetapkan pemerintah.

Apalagi hingga akhir Oktober, BPDP Kelapa Sawit baru membayarkan 8 persen subsidi dari total biodiesel yang dibeli PT Pertamina (Persero). Pertamina pun akhirnya hanya bisa menyerap maksimal 158 ribu kiloliter dalam tiga bulan.

Bayu menjanjikan hingga akhir bulan ini, semua pembayaran subsidi ini sudah bisa dibayarkan, sehingga penyerapan biodiesel bisa tinggi dalam dua bulan terakhir tahun ini. Dia menargetkan dalam enam bulan ke depan penyerapan biodiesel bisa mencapai 1,87 juta kiloliter. Artinya setiap bulan penyerapannya bisa lebih dari 300 ribu kiloliter.

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait