Impor Premium Setahun, Bisa untuk Bangun Satu Kilang

Biaya produksi BBM di kilang dalam negeri enam kali lipat lebih mahal dibandingkan impor
Safrezi Fitra
18 Desember 2014, 10:15
Katadata
KATADATA
Kilang Plaju sudah beroperasi sejak 1930

KATADATA ? Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi terus mendorong agar pemerintah membangun kilang minyak. Selama ini biaya impor BBM bersubsidi jenis premium dalam satu tahun, nilainya sama dengan investasi membangun satu kilang.

Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas Agung Wicaksono mengatakan pembangunan kilang jauh lebih efektif dan efisien daripada harus mengimpor minyak. Dalam satu tahun PT Pertamina Energi Trading Ltd (Petral) mengeluarkan uang untuk impor sebesar US$ 13 Miliar. Padahal, untuk membangun kilang kapasitas 300.000 barel per hari juga dibutuhkan dana sebesar US$ 13 Miliar.

"Jadi impor satu tahun itu bisa bangun kilang (yang bisa berproduksi hingga) 80 tahun (asumsi Plaju). Jadi penyakitnya itu ada di impor  yang terlalu besar ini," katanya di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Rabu (17/12).

Dia berharap impor BBM ini bisa ditangani dan dananya bisa dialihkan untuk pembangunan kilang. Pembangunan kilang ini penting untuk ketahanan energi di Indonesia, mengingat Indonesia merupakan negara dengan cadangan BBM paling rendah. Cadangan BBM Indonesia hanya mampu mencukupi kebutuhan selama 18 hari. Padahal di ASEAN, Vietnam memiliki stok BBM selama 67 hari, Thailand 36 hari, Singapura 90 hari, dan Filipina sebanyak 22 hari. Kemudian Myanmar selama 91 hari, Laos selama 45 hari, dan Kamboja memiliki stok BBM 30 hari.

Advertisement

Menurut Agung, mendorong pembangunan kilang ini tidaklah mudah. Masalahnya selama ini harga BBM dari kilang dalam negeri jauh lebih mahal dibandingkan BBM impor. Perbandingan harganya bisa sampai enam kali lipat, tergantung jenis kilang. Menurut Agung, ini merupakan penyakit yang harus disembuhkan, mengingat banyak lebih baik impor daripada memproduksi BBM di sendiri.

"Tapi soal energi bukan hanya itung-itungan harga. Itu kilang harus dibenahi," ujarnya.

Darmawan Prasodjo, yang juga anggota Reformasi Tata Kelola Migas mengatakan produktivitas kilang dalam negeri terus berkurang, sedangkan ongkosnya terus bertambah. Makanya biaya produksi BBM di kilang dalam negeri menjadi lebih tinggi. "Sehingga biaya per barel pengolahannya jadi mahal," ujarnya.

Padahal, kata dia, dengan membangun kilang baru yang bisa mengolah minyak dengan kadar sulfur tinggi, biaya pengadaan BBM bisa berkurang 2 persen. Penghematan tersebut bisa mencapai Rp 10 triliun hingga Rp 12 triliun per tahun.

Sementara Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Ali Mundakir menyebut tingginya ongkos pengolahan, karena kilang yang dimiliki Indonesia sudah tua. "Kilang Pertamina ini ada yang dibangun tahun 1930 dan yang 1948, yang mengolah minyak mentah Indonesia yang sebagian besar jenis light sweet. sehingga harganya juga jauh lebih mahal," ujarnya.

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait