Harga Batu Bara Melonjak 20%, Tren Sesaat atau Terus Berlanjut?

Anjloknya harga batu bara sepanjang tahun ini telah membuat kinerja keuangan emiten sektor ini lesu, bahkan banyak yang sudah merevisi targetnya.
Safrezi Fitra
25 September 2020, 22:04
Pertambangan - Telaah
Kristaps Eberlins/123RF

Setelah anjlok selama enam bulan di masa pandemi Covid-19, harga batu bara terlihat melesat dalam dua pekan terakhir. Pemicunya antara lain kabar gembira dari dua negara konsumen terbesar batu bara. Bagaimana dampaknya terhadap para produsen batu bara di Indonesia?

Pada 30 Maret lalu, harga batu bara sempat menyentuh US$ 69 per ton, kemudian turun hingga ke US$ 48,5 pada 7 September 2020. Sejalan dengan harga batu bara, kinerja emiten sektor ini pun lesu.

Namun, harga batu bara mulai bangkit sejak 8 September lalu. Bahkan, terhitung dalam 2 minggu terakhir harga batu bara telah melesat 19,8%.

Kemarin (24/9) harga batu bara termal Newcastle ditutup menguat ke US$ 59,8/ton. Ini merupakan harga tertinggi sejak 8 April 2020. Harganya diperkirakan akan terus naik melampaui level psikologis US$ 60 per ton pekan depan.

Beberapa sentimen positif mendongkrak harga batu bara, di antaranya dari Tiongkok dan India. Ketatnya pasokan membuat harga batu bara di dalam negeri Tiongkok menguat, bahkan jauh melampaui harga batu bara Newcastle. Kondisi ini membuka kemungkinan Tiongkok akan mengimpor batu bara untuk mencukupi kebutuhannya.

Sementara di produsen semen di India berencana mengubah sumber energinya dari petroleum coke (petcoke) ke batu bara. Petcoke merupakan salah satu produk kilang minyak bumi. Di tengah pandemi, aktivitas kilang lesu, sehingga pasokan petcoke pun berkurang.

Potensi permintaan yang akan tinggi ini yang membuat harga batu bara naik. Hal ini bisa memberi angin segar bagi produsen batu bara di dalam negeri. Apalagi, sepanjang semester I tahun ini, kinerja perusahaan-perusahaan batu bara anjlok. Harga saham-saham emiten batu bara pun berjatuhan.

Apollonius Andwie, Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), berharap tren kenaikan harga batu bara bisa berlanjut. Menurutnya, harga batu bara sulit dikontrol dan diprediksi. Makanya, perseroan terus mengupayakan efisiensi operasi di seluruh rantai bisnis.

Dia mengatakan hingga saat ini perseroan masih tetap mengacu pada target produksi 30 juta ton. “Di tengah situasi yang sangat menantang akibat pandemi Covid-19 ini, kami optimis dapat mencapai target kinerja yang positif,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (25/9).

Namun, saat paparan publik Agustus lalu, PTBA sempat menyatakan kemungkinan merevisi target. Akibat dampak pandemi Covid-19, perseroan melakukan penyesuaian produksi batu bara dari target awal 30 juta ton menjadi 25,1 juta ton per tahun, atau turun sekitar 17%.

HARGA BATU BARA ACUAN TURUN
HARGA BATU BARA ACUAN TURUN (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.)

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) juga mengatakan sulit memprediksi harga batu bara. Makanya, perseroan lebih fokus  meningkatkan keunggulan operasional, pengendalian biaya, dan efisiensi untuk mempertahankan kinerja yang solid.

“Adaro memiliki model bisnis yang terintegrasi dan efisien dan telah terbukti sukses dalam menghadapi siklus batu bara,” kata Febriati Nadira, Head of Corporate Communication Adaro, kepada Katadata.co.id.

Dia mengatakan pilar-pilar bisnis nonbatu bara akan terus memberikan kontribusi yang stabil dan menjadi penyeimbang volatilitas batu bara. Strategi lainnya, diversifikasi bisnis tambang dengan masuk ke bisnis batu bara kokas atau coking coal.

Pandemi Covid-19 telah berdampak pada kinerja Adaro. Bahkan, perseroan memangkas target-target tahun ini. Target produksi dipangkas dari 54-58 juta ton menjadi 52-54 juta ton.

Sepanjang semester I tahun ini, produksi batu bara Adaro hanya 27,29 juta ton, turun 4% dari periode yang sama tahun lalu. Volume penjualan batu bara semester I pun turun 6% menjadi 27,13 juta ton.

Penurunan ini terjadi akibat permintaan dari pembangkit listrik yang turun. Kondisi ini menekan harga batu bara pada kuartal II-2020, dengan harga batu bara Newcastle turun 19% ke rata-rata US$ 55,08 per ton.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga berharap tren kenaikan batu bara akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Direktur dan Corporate Secretary Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan secara historis, tren harga batu bara mengalami kenaikan saat musim dingin di akhir tahun.

Menurutnya, tahun ini harga batu bara telah mencatatkan penurunan tajam dibandingkan tahun lalu. Kondisi ekonomi global yang lesu, masalah perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok yang terus berlanjut, serta pandemi Covid-19 menjadi sentimen negatif sektor ini.

Kondisi ini telah mempengaruhi kinerja BUMI. Namun, kata dia, perseroan masih bisa melakukan upaya dan strategi yang baik untuk mengurangi dampaknya, melalui langkah-langkah pengoptimalan operasional yang proaktif termasuk pengendalian biaya.

Hingga kini pun BUMI masih tetap mempertahankan target yang sudah dipatok untuk tahun ini. "Tidak ada perubahan target produksi batu bara kami tahun ini 85 juta ton," ujarnya kepada Katadata.co.id.

Kinerja Emiten Batu Bara Lesu

BUMI membukukan rugi bersih pada semester I-2020 hingga US$ 86,17 juta. Berbanding terbalik dengan capaian periode yang sama tahun lalu dengan laba bersih US$ 80,7 juta. Kerugian ini sejalan dengan penurunan pendapatan hingga 13% menjadi US$ 1,97 miliar.

Volume penjualan BUMI pada paruh pertama masih stabil di angka 41,2 juta ton, sedangkan produksinya malah naik 5% menjadi 41 juta ton.

Dileep mengatakan penurunan kinerja keuangan ini disebabkan harga batubara yang mengalami penurunan tajam sebesar 12% pada paruh pertama tahun ini. “Karena  permintaan batubara yang tidak stabil dari China, India, dan sebagian besar Asia. Hal ini dipicu oleh Pandemi Covid-19 sebagai faktor penyebab utama,” tulis Dileep seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (1/9).

Sepanjang semester I-2020 Adaro mencatatkan penurunan pendapatan 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi US$ 1,36 miliar. Manajemen Adaro mengungkapkan hal ini terutama diakibatkan oleh penurunan harga jual rata-rata sebesar 18% serta penurunan volume penjualan.

Kebijakan lockdown yang diterapkan banyak negara pengimpor batu bara untuk mengatasi Covid-19 mengakibatkan penurunan terhadap permintaan listrik industri,yang disusul oleh penurunan permintaan batu bara. 

Pandemi Covid-19 telah berdampak pada kinerja Adaro. Bahkan, perseroan memangkas target-target tahun ini. Target produksi dipangkas dari 54-58 juta ton menjadi 52-54 juta ton.

Sepanjang semester I tahun ini, produksi batu bara Adaro hanya 27,29 juta ton, turun 4% dari periode yang sama tahun lalu. Volume penjualan batu bara semester I pun turun 6% menjadi 27,13 juta ton.

Produksi PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sepanjang semester I hanya 12,1 juta ton, turun 24,37% dari periode yang sama tahun lalu. Dampak pandemi dan anjloknya harga batu bara menjadi penyebabnya. Penurunan ini membuat perseroan memangkas target produksi tahun ini dari 33 juta ton menjadi 26 juta ton.

Anjloknya harga membuat pendapatan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun 26,89% menjadi US$ 652,62 pada semester I-2020. Bahkan, laba bersihnya anjlok hingga 57,8% menjadi US$ 29,8 juta.

Pendapatan PT Indika Energy Tbk (INDY) juga turun 18,26% menjadi US$ 1,13 miliar. Indika juga mencatatkan rugi bersih US$ 21,91 juta, berbalik dari semester I tahun lalu yang mencatat laba bersih US$12,66 juta.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu menyangsikan kenaikan harga batu bara saat ini bisa bertahan lama hingga melampaui harga tahun lalu. Bahkan, tidak akan sampai kembali ke harga sebelum penurunan di April.

"Awal tahun ini, coal price berada pada level US$ 69,9 per ton sementara sekarang US$ 59,8 per ton, kami memperkirakan masih akan sulit untuk mengejar level awal tahun," ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (25/9).

Samuel Sekuritas memperkirakan harga rata-rata batu bara tahun ini berada pada level US$ 60 per ton. Alasannya, peningkatan permintaan dari Tiongkok juga belum terlalu signifikan untuk mendorong harga batu bara kembali ke level awal tahun.

Dessy memperkirakan penjualan emiten batu bara tahun ini rata-rata akan turun 25%, sedangkan laba bersihnya bisa turun 35-45%.

Berdasarkan pantauan Katadata.co,id, kenaikan harga batu bara dalam dua pekan terakhir juga sepertinya tak mampu mendongkrak indeks petambangan. Pada 8 September, indeks saham pertambangan malah turun, dari 1.414,09 menjadi 1.309,15 pada 24 September 2020.

Video Pilihan

Artikel Terkait