Gelombang Perusahaan Beli Kembali Sahamnya di Bursa saat Pandemi

Sudah ada 59 emiten yang melakukan buyback sahamnya dalam kurun waktu kurang dari tujuh bulan ini.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
10 Oktober 2020, 11:14
saham, buyback, bursa, bursa efek indonesia, barito pacific, emiten buyback, saham anjlok
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.

Pandemi Covid-19 telah membuat saham-saham emiten di Bursa Efek Indonesia anjlok. Sejak awal tahun hingga pekan kedua Oktober, indeks saham di Bursa Efek Indonesia sudah mengalami pelemahan hingga 19,52%. Penurunan harga ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk membeli kembali (buyback) sahamnya di pasar modal.

Peluang ini ditambah dukungan regulator yang merelaksasi aturan buyback. Melalui Surat Edaran Nomor 3/SEOJK.04/2020 tanggal 9 Maret 2020, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengizinkan emiten melakukan buyback saham tanpa mengantongi izin pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sejak OJK mengeluarkan surat edaran ini, sudah ada 59 emiten yang melakukan buyback sahamnya dalam kurun waktu kurang dari tujuh bulan ini. Data BEI per 29 September 2020 mencatat nilai pelaksanaan buyback mencapai Rp 4,05 triliun.

BEI juga mencatat masih terdapat 12 emiten yang masih dalam periode buyback. Dari total perusahaan tersebut, perkiraan total nilai yang disiapkan untuk membeli kembali sahamnya mencapai Rp 2,5 triliun. "Perusahaan Tercatat tersebut telah merealisasikan pelaksanaan buyback sebesar Rp382 miliar," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Gede Nyoman Yetna Setya kepada awak media beberapa waktu lalu.

Relaksasi aturan buyback ini diterbitkan dengan pertimbangan kondisi perdagangan saham di BEI sejak awal tahun hingga pertengahan Maret yang sudah anjlok hingga 18,46%. Saat itu OJK menilai penurunan IHSG disebabkan perlambatan dan tekanan perekonomian baik global, regional maupun nasional sebagai akibat dari wabah Covid-19.

Setelah relaksasi tersebut keluar, IHSG sempat tertekan hebat hingga menyentuh level 3.937,63 pada penutupan perdagangan 24 Maret 2020. Artinya, dibandingkan posisi IHSG akhir 2019 sudah turun 37,49%.

Indeks mulai bangkit hingga perdagangan terakhir, Jumat (9/10) yang ditutup pada level 5.053,66. Memang dibandingkan dengan level indeks pada akhir tahun lalu, masih lebih rendah 19,78%. Namun, jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan 9 Maret 2020 saat relaksasi buyback diterbitkan, IHSG tercatat hanya terkoreksi 1,62%.Gejolak bursa saham terimbas corona Gejolak bursa saham terimbas corona (Katadata)

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan realisasi buyback oleh beberapa emiten di pasar modal cukup ampuh mengerem penurunan IHSG. Emiten yang melakukan buyback mampu menahan agar sahamnya tidak lebih turun lebih jauh.

"Maka, realisasi buyback oleh emiten, bisa membantu menahan indeks supaya tidak jatuh lebih dalam lagi," kata William kepada Katadata.co.id, Jumat (9/10).

Menurutnya, emiten yang melakukan buyback saham bisa diuntungkan karena ke depannya, punya kesempatan untuk mendapatkan capital gain. Hal itu terjadi karena emiten punya kesempatan membeli sahamnya sendiri di harga yang rendah.

Beberapa emiten masih berada pada masa buyback saham, baik memanfaatkan relaksasi OJK maupun yang tetap menggelar RUPS. Pada 28 September lalu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengalokasikan Rp 1 triliun untuk melakukan buyback sahamnya. Jumlah saham yang dibeli kembali paling banyak 2% dari jumlah modal yang ditempatkan perseroan.

Dalam keterbukaan informasinya, Barito Pacific menjelaskan salah satu rencana yang akan dilakukan terhadap saham hasil buyback ini adalah keuntungan. Perseroan dapat menjual kembali saham tersebut saat harganya tinggi.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berencana buyback 2% saham dari seluruh modal dengan alokasi dana maksimal Rp 568 miliar. Periode pelaksanaannya selama 18 bulan, sejak perusahaan mengantongi izin dari pemegang saham dalam RUPS yang digelar pada 29 Juli lalu.

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) juga berencana untuk melakukan buyback saham dengan menganggarkan dana hingga Rp 120 miliar. Dana itu akan digunakan membeli sebanyak-banyaknya 1,1% atau sekitar 30 juta unit saham.

Setelah mendapat restu pemegang saham dalam RUPS 17 Juni lalu. Perusahaan milik Sandiaga Uno ini masih merealisasikan buyback hingga 21 Juni 2021.

Perusahaan yang juga masih dalam periode buyback saham adalah PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) yang menganggarkan maksimal Rp 68,28 miliar untuk melakukan pembelian saham sebanyak-banyak 5%. Rencana itu setelah mengantongi izin pemegang saham pada RUPSLB 28 Agustus 2020. Periode Malindo melakukan buyback adalah 18 bulan sejak dikantonginya persetujuan oleh pemegang saham.

Pertimbangan Malindo salah satunya karena berhasil membukukan peningkatan laba dan memiliki likuiditas sekaligus arus kas yang cukup. Malindo juga mencermati kondisi perekonomian nasional yang mengalami perlambatan akibat Covid-19 yang menekan harga saham perusahaan.

IHSG DITUTUP MELEMAH
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Batal Buyback

Secara jumlah, emiten yang telah melakukan buyback memang terlihat banyak. Namun, tidak semua emiten merealisasikan rencana sesuai target dana yang disiapkan. Bahkan, ada beberapa yang malah membatalkan rencananya.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan tujuan adanya relaksasi oleh OJK maupun BEI terhadap buyback ini memang agar harga saham perusahaan tidak mengalami penurunan. Meski begitu, ia menilai memang tidak semua perusahaan mau melakukan buyback di tengah pandemi Covid-19.

"Tapi siapa emiten yang mau bakar duit di tengah situasi yang tidak bisa dilawan ini? Memang ada yang melakukan buyback, hanya sebagai jaring untuk jaga-jaga saja," kata Nico kepada Katadata.co.id, Jumat (9/10).

Hingga Juni lalu, tercatat ada 14 emiten yang membatalkan rencana buyback sahamnya. Salah satunya PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), karena ingin menjaga likuiditasnya kondisi pasar terdampak Covid-19 pada kegiatan operasional Perseroan. Mitra Adiperkasa sebelumnya menyiapkan Rp 20,02 miliar untuk 26,66 juta unit saham.

Empat emiten pelat merah juga sempat berencana melakukan buyback sahamnya tahun ini. Namun, rencana tersebut batal dilakukan. Keempatnya adalah PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), dan PT Timah Tbk (TINS)

Jasa Marga telah menyiapkan dana Rp 500 miliar untuk membeli kembali sahamnya pada 12 Maret - 12 Juni 2020. Adhi Karya juga berencana melakukan buyback saham Rp 100 miliar pada 12 Maret - 13 Juni 2020. Waskita Karya berencana buyback sahamnya Rp 300 miliar pada 12 Maret - 11 Juni. Sedangkan Timah yang menyiapkan dana Rp 100 miliar, berencana buyback sahamnya pada 17 Maret - 16 Juni 2020.

Namun, hingga berakhirnya batas waktu yang ditargetkan, perusahaan urung merealisasikan rencananya. Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ketiga emiten BUMN ini menyatakan membatalkan rencana buyback karena operasionalnya terganggu oleh pandemi Covid-19. Ketimbang mengeluarkan dana untuk buyback di tengah pandemi, mereka memilih menjaga arus kasnya.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang awalnya menyiapkan dana Rp 3 triliun, ternyata tidak semua terpakai untuk buyback sahamnya. Realisasi buyback BRI hanya 1,58% atau Rp 47,25 miliar dengan jumlah total saham yang dibeli 16,4 juta.

Video Pilihan

Artikel Terkait