Kepemimpinan Biden Dorong Pengembangan Energi Terbarukan RI 

Biden telah membawa kembali AS ke Perjanjian Paris. Komitmennya dalam mencegah perubahan iklim akan menggenjot pengembangan energi bersih dunia, termasuk Indonesia.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
22 Januari 2021, 18:36
joe biden, energi baru terbarukan, ebt, perubahan iklim, emisi karbon, perjanjian paris
ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst/rwa/cf
Ilustrasi. Kepemimpinan Presiden AS Joe BIden akan mendorong pengembangan energi terbarukan dunia.

Terpilihnya Presiden Amerika Seriakt ke-46 Joe Biden akan membuat cerah investasi energi baru terbarukan atau EBT. Dalam kampanyenya, ia berjanji akan menggenjot pengembangan energi bersih. Alokasi dananya bakal mencapai US$ 2 triliun atau sekitar Rp 29.175 triliun.

Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) berpendapat Biden adalah presiden yang membawa kembali AS ke  perjanjian iklim Paris alias Paris Agreement. Hal ini bermakna signifikan, terutama terhadap pengembangan energi terbarukan dunia. “Tentu saja berpengaruh juga ke Indonesia,” kata Ketua Umum METI Surya Darma kepada Katadata.co.id, Jumat (22/1).

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan dalam jangka pendek bantuan AS akan mulai masuk ke negara ini melalui bantuan bilateral untuk energi bersih. Misalnya, proyek kendaraan listrik (EV) dan mitigasi perubahan iklim

Bantuan itu pun akan menyasar kerangka regulasi. Dari sinilah baru terdongkrak iklim investasi, reformasi utilitas publik, dan pembiayaan investasi energi bersih. Investor akan menimbah kesempatan dan risiko investasinya. "AS biasanya memberikan dukungan asistensi teknis kepada pemerintah untuk memperbaiki kebijakan," ujarnya.

Indonesia perlu memanfaatkan kesempatan di era Biden. Pemerintahannya akan membangu negara-negara berkembang dalam mengembangkan energi terbarukan.“Pelaksanaan transisi energi dapat lebih cepat dalam rangka mencapai target Perjanjian Paris,” kata Fabby. 

Hampir 200 negara menandatangani perjanjian itu pada 2015. Isinya adalah komitmen untuk menjaga kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celcius seperti Perjanjian Paris 2015. Indonesia, sesuai target nasional pengurangan emisi karbon nasional atau nationally determined contribution (NDC) mematok penurunan emisi karbon sebesar 29% dengan upaya sendiri di 2030. Kalau dengan bantuan internasional, penurunannya mencapai 41%. 

Prospek Nikel Makin Cerah

Komoditas tambang nikel akan tergenjot pula dengan terpilihnya Biden. Pemanfaatan komoditas ini seiring dengan pengembangan baterai untuk kenaraan listrik.

Ketua Umum Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo mengatakan Biden telah memiliki rencana mencegah perubahan iklim. Hal ini akan membuat kendaraan listrik mendapat tempat terbaik selama pemerintahannya.  

Nah, nikel merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai. Indonesia memiliki cadangan terbesar komoditas tambang tersebut di dunia.

Namun, yang tak kalah krusial adalah bagaimana pemerintah dan pengusaha menerapkan praktik penambangan yang ramah lingkungan. Penurunan emisi tak hanya persoalan pada produk tapi juga proses produksinya. “Ini sangat penting bagi investor dan penilaian konsumen,” ucapnya kemarin.   

 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait