Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan 70 emiten berpotensi menghadapi delisting atau penghapusan pencatatan saham pada 2026. Emiten-emiten tersebut tercatat telah mengalami suspensi perdagangan
Bursa Efek Indonesia membeberkan terdapat dua emiten mercusuar atau lighthouse company yang tengah bersiap menggelar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).
Demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dilaksanakan pada semester pertama 2026 mendatang. Melalui proses ini, struktur BEI akan berubah dari bursa yang sepenuhnya dimiliki oleh para anggotanya
Bursa Efek Indonesia mengumumkan 70 emiten yang berpotensi bakal didelisting atau dihapus pencatatan sahamnya dari pasar modal Indonesia. Di antara emiten tersebut ada emiten BUMN Karya
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan hingga saat ini terdapat total sembilan calon emiten yang antre untuk mencatatkan perdana sahamnya atau initial public offering (IPO).
BEI mencatat, total investor pasar modal Indonesia hingga Rabu (17/12) mencapai 20.042.365 single investor identification (SID), meningkat 34,8% dibandingkan akhir tahun lalu.
BEI tengah mengevalusi kemungkinan untuk mencantumkan informasi pemesanan atau bid dan penawaran atau ask pada perdagangan papan pemantauan khusus skema Full Call Auction alias FCA.
BEI mengaku masih mengkaji skema yang optimal bagi pasar modal Indonesia terkait rencana demutualisasi yang tengah dirancang pemerintah sesuai mandah UU P2SK.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada 2015 hanya ada satu produk berbasis ESG, tetapi pada 2025 jumlah produk investasi ini telah berkembang menjadi 26 produk.