Dugaan fraud seperti eFishery, Investree hingga perusahaan rintisan payment gateway dinilai membuat investor semakin hati-hati berinvestasi di startup Indonesia.
Kasus dugaan fraud eFishery sempat menghebohkan industri startup Indonesia. Managing Partner Alpha JWC Ventures Jeffrey Joe menilai kasus seperti ini tidak selalu karena niat jahat.
Temasek mengurangi secara drastis investasinya di startup tahap awal, diduga karena kenaikan suku bunga dan menyusul kegagalan investasi, salah satunya eFishery.
Traveloka menyebut kantor pusat kini berada di Singapura. Sementara itu, saham Tokopedia diambil alih oleh induk TikTok. Unicorn lainnya, eFishery menghadapi dugaan pemalsuan laporan keuangan.
Beberapa startup Indonesia diduga melakukan penipuan dan hal ini menjadi perhatian investor. Menteri Kominfo periode 2014 – 2019 Rudiantara pun memberikan pesan kepada penanam modal mengenai hal ini.
Gibran Huzaifah, CEO eFishery yang kini jabatannya ditangguhkan, mengakui dirinya memoles angka laporan keuangan. Berikut daftar startup yang melakukan hal serupa.
Gibran Huzaifah, CEO eFishery yang kini jabatannya ditangguhkan, bercerita awal mula dirinya memutuskan untuk memoles angka laporan keuangan yakni setelah berdiskusi dengan pendiri startup lain.
Eks pegawai eFishery menyampaikan perusahaan selama ini berfokus pada layanan pembiayaan untuk nelayan dan pembudidaya ikan, ketimbang mengembangkan teknologi perikanan.
Operasional bisnis eFishery disebut berjalan tradisional, menurut laporan FTI Consulting yang beredar. Mantan karyawan mengungkapkan fakta di balik teknologi unicorn perikanan ini.
Beberapa startup di Indonesia menghadapi gugatan hukum dan laporan ke kepolisian akibat dugaan fraud, gagal bayar, serta permasalahan operasional. Dua di antaranya Investree dan eFishery.
Startup perikanan Aruna melakukan PHK karyawan. Perusahaan menghadapi tantangan besar yang berdampak terhadap persepsi investor dan ketatnya akses untuk mendapatkan investasi.