China mendukung dan mendorong perusahaan-perusahaannya untuk bekerja sama mewujudkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW di Indonesia.
Pendiri sekaligus Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menilai tantangan utama rencana pembangunan proyek 100 GW PLTS di Indonesia terletak pada realisasi proyek.
Pemerintah segera memulai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW sebagai bagian dari akselerasi transisi energi nasional, dengan tahap pertama masuk groundbreaking.
Menko Airlangga mengajak perusahaan Cina untuk berinvestasi dalam pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) di Indonesia.
Koperasi, terutama Koperasi Desa Merah Putih, memegang peran strategis dalam program 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk menyediakan akses listrik murah dan dorong ekonomi desa.
Jalan bisnis perusahaan yang berkecimpung dalam usaha energi baru terbarukan (EBT) kian mulus setelah pemerintah menargetkan membangun 100 giga watt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Skema pembiayaan campuran hibah & pinjaman lunak dinilai sebagai model pendanaan PLTS berbasis komunitas yang paling realistis untuk menjaga tarif terjangkau dan mendukung target energi surya nasional
Pemerintah membidik pemanfaatan tanah terlantar, lahan dengan hak yang telah berakhir, aset BUMN, hingga aset yang dikelola badan bank tanah untuk lokasi PLTS.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan merevisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 PLN, untuk memasukkan rencana PLTS 100 MW.