Konversi Kompor Induksi, Erick Thohir Tidak Akan Hapus LPG

Menteri BUMN, Erick Thohir, mengatakan bahwa Kementerian BUMN belum menerima penugasan terkait program konversi kompor induksi.
Andi M. Arief
21 September 2022, 18:17
Menteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/9/2022).
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.
Menteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Kementerian Badan Usaha milik negara atau BUMN menyatakan tujuan dari program konversi kompor induksi berbasis tenaga listrik adalah pengurangan subsidi bahan bakar minyak atau BBM, khususnya LPG. Namun demikian, pemerintah tidak akan menghilangkan tabung LPG di pasaran.

Menteri BUMN, Erick Thohir, mengatakan program substitusi LPG dengan DME masih lama atau pada 2028. Sementara itu, subsidi LPG yang diberikan kepada masyarakat sudah terbilang tinggi.

"Ini kan masih mencoba merapikan peta biru energi nasional. Konversi kompor induksi ini masih diskusi. Kami tidak mungkin ambil keputusan langsung ganti semua kompor konvensional ke kompor induksi," kata Erick di Komplek Gedung DPR, Rabu (21/9).

Erick mengatakan, saat ini Kementerian BUMN belum menerima penugasan terkait program konversi kompor listrik. Selain itu, pemerintah juga belum mengajukan penanaman modal negara atau PMN terkait program tersebut.

 Pada 2023, PT Perusahaan Listrik Negara akan mendapatkan PMN senilai Rp 10 triliun. Erick menegaskan PNM tersebut hanya akan digunakan untuk memperluas jaringan listrik ke desa.

Selain itu, Erick menilai penggunaan kompor induksi akan digunakan oleh rumah tangga dengan pendapatan menengah yang tinggal di apartemen maupun perumahan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan program tersebut juga akan ditujukan pada rumah tangga dengan pendapatan rendah.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan program konversi kompor induksi tidak akan berdampak banyak pada masalah kelebihan daya yang dialami PLN saat ini. Arya menghitung kontribusi konsumsi daya rumah tangga ke total konsumsi listrik nasional sangat kecil.

Laporan Statistik PLN 2021 mendata PLN telah menjual energi listrik sebanyak 257.630 Gigawatt hour (GWh) pada 2021. Namun demikian, pasokan listrik yang disediakan PLN pada 2021 mencapai 289.470 GWh

Rumah tangga mengonsumsi 44,78% dari total konsumsi tersebut. Sementara itu, total konsumsi listrik oleh sektor industri dan bisnis mencapai 48,65%.

Berdasarkan catatan Katadata.co.id, PLN memiliki kelebihan pason sebanyak 28.000 - 30.000 GWh pada 2013-2021. Angka tersebut dinilai akan naik menjadi 41 GWh pada 2030.

 Oleh karena itu, Arya menyatakan, tujuan utama program konversi kompor induksi adalah mengurangi subsidi LPG. Selain itu, masyarakat akan mendapatkan pengurangan biaya energi dengan program tersebut.

"Program konversi kompor induksi kan untuk mengurangi subsidi LPG. Kedua, masyarakat akan turun juga biaya memasaknya, 40% lebih murah dibandingkan menggunakan kompor konvensional," kata Arya.

Menurut laporan penelitian Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial bertajuk 'Overview of the Electric Cooking Landscape in Indonesia', kompor induksi listrik memiliki performa dan efisiensi tertinggi dibandingkan dengan kompor LPG dan kompor listrik konvensional. Sebagai contoh, masak telur rebus memakai kompor induksi dengan temperatur 94 derajat celcius hanya memerlukan energi 0.169 kilowatt per jam (kWh) dan hanya membutuhkan waktu 542 detik.

Advertisement

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait