Grant Thornton Beri Tips Agar Bisnis Bertahan Hadapi Covid-19

Perusahaan harus aktif mengawasi arus kas selama masa krisis.
Image title
15 Mei 2020, 20:13
pandemi, corona, bisnis, covid, Grant Thornton
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz
Hanya segelintir mobil di lahan parkir sebuah gedung, Jakarta, Kamis (30/4/2020). Di masa pandemi banyak bisnis yang mengalami tekanan.

Perusahaan konsultan Grant Thornton Indonesia memberikan tips agar bisnis dapat bertahan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Advisory Director Grant Thornton Marvin E. Camangeg memperkenalkan panduan dari Grant Thornton dalam menghadapi krisis, yaitu Roda Ketahanan atau The Resilience Wheel.

Panduan tersebut memuat sejumlah hal yang bisa dipertimbangkan oleh pebisnis dalam menghadapi situasi yang tidak pasti. "Jika dilihat dari panduan ini, pastikan kita mampu mengatur manajemen arus kas dan mempertahankan perusahaan," kata Marvin dalam Webinar Katadata: Agar Bisnis Lebih Kebal Covid-19, Jumat (15/5).

(Baca: Grant Thornton: Perusahaan Tak Bisa Sembarangan Potong Gaji Karyawan)

Marvin menjelaskan perusahaan harus aktif mengawasi proyeksi arus kas. Perencanaan kas perlu dilakukan secara rutin. Namun dalam kondisi yang tak pasti, perencanan kas harus dibuat berkala setiap minggu atau setiap hari bagi perusahaan tertentu.

Dalam perencanaan kas, ada tiga tahapan yang perlu dilalui. Pertama, memeriksa arus kas dalam kondisi terkini serta dalam jangka pendek. Kemudian, mempertimbangkan potensi serta dampak yang mungkin terjadi (what if), serta mempersiapkan evolusi. "Lakukan perencanaan arus kas, lakukan pemantauan, serta lakukan dengan segera," ujar dia.

Dia mengatakan selama pandemi berpotensi menambah biaya seperti munculnya kebutuhan fasilitas baru selama bekerja dari rumah. Pengeluaran tersebut perlu disesuaikan dengan aset maupun posisi kas perusahaan. Dengan demikian, pengusaha dapat memetakan problematika arus kas.

(Baca: Empat Saran Bank Dunia Agar Ekonomi Indonesia Cepat Pulih dari Pandemi)

Setelah itu, perusahaan perlu melakukan stress test atau memetakan proyeksi keuangan dengan skenario terbaik hingga skenario terburuk. "Lalu pikirkan bagaimana cara meningkatkan keuangan perusahaan," katanya.

Perusahaan juga dapat mengidentifikasi hal-hal yang diperlukan dalam menjaga bisnis. Hal ini juga perlu dipertimbangkan dengan pemangku kepentingan lainnya, seperti investor, kreditur, konsultan, dan karyawan.

Melalui diskusi dengan pemangku kepentingan tersebut, perusahaan dapat menghemat pengeluaran. Misalnya, menegosiasikan rencana pembayaran utang hingga mencari mencari upaya dalam menekan pengeluaran untuk gaji karyawan. "Jadi setiap pengusaha mencari cara untuk melestarikan atau meminimalkan biaya perusahaan," ujarnya.

(Baca: 5 Tips Jalankan Usaha di Tengah Pandemi Covid-19)

Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait