Malaysia & Vietnam Siap Longgarkan Aktivitas saat Covid-19 Melonjak

Malaysia yang memberlakukan pembatasan ketat sejak awal pandemi Covid-19 mulai bersiap melonggarkan aktivitas masyarakat.
Yuliawati
15 September 2021, 16:12
Covid-19, Malaysia, Vietnam, gerakan 3M
ANTARA FOTO/REUTERS/Lim Huey Teng/nz/cf
Seorang pekerja konstruksi menerima dosis vaksin penyakit virus korona (COVID-19), Sinovac, di sebuah truk vaksinasi di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (8/6/2021).

Pemerintah Malaysia dan Vietnam bersiap melonggarkan kegiatan masyarakat demi pergerakan ekonomi. Kedua negara tersebut saat ini masih mengalami lonjakan kasus Covid-19.

Malaysia mencatat tambahan kasus harian pada Selasa (14/9) mencapai 15.669 infeksi. Dengan begitu, terhitung sejak awal pandemi total kasus di Malaysia tembus 2 juta.

Menteri Keamanan Malaysia Hishamuddin Husein mengatakan akan merevisi 181 aturan pembatasan sosial menjadi 10 poin saja. “Upaya untuk merevisi SOP yang telah digunakan selama lebih dari satu tahun pasti akan memakan waktu, tetapi pemerintah berkomitmen untuk mencapai ini sebelum transisi ke fase endemik,” ujar Hishamuddin, dikutip dari The Strait Times, Rabu (15/9).

Hishamuddin mengatakan kondisi ekonomi Malaysia yang lesu akibat lockdown, membuat pemerintah bersepakat untuk melonggarkan kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat.

Awalnya, Malaysia termasuk negara yang sukses dalam menahan laju penularan Covid-19 sampai lonjakan kasus pada awal 2021. Malaysia menerapkan aturan lockdown yang efektif untuk mengunci angka infeksi.

Namun, sejak Juni sampai saat ini, lonjakan kasus terus naik secara drastis. Tambahan kasus rata-rata dalam pekan ini mencapai 19 ribu infeksi. Meski lockdown sudah diterapkan, ternyata varian Delta menembus batas-batas penguncian wilayah tersebut.



Menghadapi situasi ini, Malaysia hendak meningkatkan fokus pada vaksinasi dan pemanfaatan rumah sakit. Pemerintah Malaysia telah menaikkan anggaran negara dari RM 65 miliar (sekitar Rp 222 triliun) menjadi RM 110 miliar (sekitar Rp 376 triliun) untuk penanganan pandemi. Dengan demikian, Malaysia tetap akan membuka kran perekonomian sambil berusaha menekan angka kasus penularan.

Sebenarnya angka vaksinasi Malaysia sudah cukup tinggi, hampir 75% populasi masyarakat telah divaksin dosis penuh. Namun, keganasan varian Delta mampu menghancurkan pertahanan sistem tubuh.

Malay Mail melaporkan kenaikan kasus disebabkan oleh beberapa klaster yang menjadi pusat penularan, antara lain 14 klaster tempat kerja, 12 klaster komunitas, dan tiga klaster berisiko tinggi. Jumlah klaster aktif Malaysia sampai saat ini mencapai 1.448 klaster.

Selain Malaysia, Vietnam pun mengalami kenaikan kasus secara signifikan. Tambahan kasus harian pada Selasa (14/9) mencapai 10 ribu infeksi. Rata-rata tambahan kasus Vietnam dalam satu pekan terakhir adalah 12 ribu. Total kasus di negara itu sebanyak 635 ribu.

Pada awal pandemi, Vietnam merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang sukses dalam mitigasi corona. Lonjakan kasus ekstrem baru terjadi sejak awal Juni sampai sekarang.

Meski kasus harian masih terus bertambah, Vietnam bersiap melonggarkan sejumlah aktivitas masyarakat untuk menghidupkan kembali perekonomian.

Advertisement

Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, mengatakan Vietnam harus mulai terbuka untuk pengembangan ekonomi. “Kami tidak dapat tinggal dalam isolasi dan pembatasan selamanya karena kesulitan yang ditimbulkannya pada masyarakat dan ekonomi sangat besar,” kata Chinh dikutip dari VnExpress, Selasa (14/9).

Kasus Covid-19 Indonesia Membaik Dibandingkan Negara Tetangga

Ketua Tim Pakar Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyampaikan bahwa kasus Covid-19 di Indonesia terus mengalami perbaikan dibandingkan dengan dunia dan beberapa negara lainnya.

"Indonesia baru saja melewati 'second wave' (puncak kedua) pada Juli lalu, tapi jika dilihat pada perkembangan tingkat dunia maka kasus dunia saat ini mengalami 'third wave'," ujar Wiku dalam konferensi pers yang dipantau via daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa.

Ia mengemukakan, tiga lonjakan di dunia itu masing-masing terjadi pada bulan Januari 2021, April 2021, dan Agustus-September 2021.

Sementara di beberapa negara lainnya seperti Amerika Serikat, Malaysia, dan Jepang, lanjut dia, pola kenaikan kasusnya mirip dengan pola kenaikan kasus dunia. "Saat ini Amerika Serikat dan Jepang sudah mulai menunjukkan penurunan, namun Malaysia masih berada di puncak kasus ketiga," katanya.

Jika dilihat pada pola kenaikan kasus Indonesia dibandingkan dunia dan negara lainnya, Wiku menjelaskan, maka Indonesia mengalami periode puncak kasus pertama yang sama dengan tingkat dunia dan beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, Malaysia, dan Jepang yaitu pada Januari 2021.

"Namun uniknya adalah ketika dunia dan negara lainnya mengalami puncak kedua pada April 2021, Indonesia justru masih terus mengalami pelandaian kasus," katanya.

Kemudian ketika Indonesia mengalami puncak kasus kedua pada bulan Juli 2021, ia mengatakan, justru negara-negara lainnya dan dunia tidak mengalami kenaikan. "Pada September 2021 ini, kasus di Indonesia terus melandai sedangkan kasus dunia mengalami 'third wave'," ujar Wiku.

 Penyumbang bahan: Akbar Malik

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait