Ekonomi Kuartal IV-2015 Melonjak Berkat Belanja Pemerintah

Ekonomi kuartal IV-2015 sebenarnya mengalami kontraksi 1,83 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Padahal, pada kuartal III-2015, ekonomi masih tumbuh 3,36 persen.
Yura Syahrul
5 Februari 2016, 11:46
Proyek MRT
Arief Kamaludin|KATADATA
Belanja pemerintah untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur turut menopang pertumbuhan ekonomi. (Arief Kamaludin | Katadata)

KATADATA - Di luar perkiraan para analis dan ekonom, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2105 melesat 5,04 persen dibandingkan kuartal sama 2014. Penopang utama laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal terakhir tahun lalu adalah belanja pemerintah untuk pembangunan proyek-proyek infrastruktur.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2015 sebesar 5,04 persen atau setara dengan periode sama 2014. Namun, lebih tinggi dibandingkan tiga kuartal sebelumnya di tahun 2015 yang masing-masing sebesar 4,73 persen, 4,66 persen, dan 4,74 persen. Alhasil, sepanjang 2015 ekonomi Indonesia tumbuh 4,79 persen atau lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh 5,02 persen.

(Baca: Ekonomi Negara Berkembang Terancam Melambat)

Kepala BPS Suryamin menyatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2015 dari sisi pengeluaran ditopang oleh pengeluaran konsumsi pemerintah yang tumbuh 41,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Laju pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan kuartal III-2015 (quarter to quarter) sebesar 9,26 persen. Sedangkan pengeluaran konsumsi rumahtangga yang selama ini menjadi andalan pertumbuhan ekonomi, cuma tumbuh 0,01 persen. Pertumbuhannya melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 3,53 persen.

Laju pengeluaran konsumsi pemerintah itu terkait dengan melonjaknya penyerapan belanja pemerintah dan investasi untuk pembangunan proyek-proyek infrastruktur pada kuartal akhir tahun lalu. Inilah yang menjadi penopang utama pertunbuhan ekonomi kuartal IV-2015. Pasalnya, selain pengeluaran konsumsi rumahtangga, komponen ekspor barang dan jasa juga melempem. Pada kuartal IV-2015, komponen ini mengalami kontraksi minus 1,85 persen atau lebih besar dari kuartal sebelumnya yang cuma minus 0,02 persen.

(Baca: Ada 4 Stimulus, Ekonomi 2016 Diperkirakan Bisa Tumbuh 5,2 Persen)

Alhasil, ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2015 sebenarnya mengalami kontraksi alias penurunan sebesar 1,83 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Padahal, pada kuartal III-2015 dibandingkan kuartal sebelumnya, ekonomi masih tumbuh 3,36 persen. “Hal ini disebabkan penurunan ekspor, terutama ekspor nonmigas yang turun 2,81 persen,” kata Suryamin dalam konferensi pers BPS tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2015 di Jakarta, Jumat (5/2).

(Baca: Di Bawah Perkiraan, Ekonomi Kuartal III Cuma Tumbuh 4,73 Persen)

Adapun sepanjang 2015, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh tiga komponen pengeluaran. Yaitu pengeluaran konsumsi pemerintah, konsumsi rumahtangga, dan pembentukan modal tetap domestik bruto, yang masing-masing tumbuh 5,38 persen; 4,96 persen; dan 5,07 persen. Sedangkan komponen pengeluaran lainnya menurun, termasuk ekspor barang dan jasa yang berkontraksi minus 1,97 persen.    

Gundy Cahyadi, Economist Group Research DBS Bank, menyambut positif pertumbuhan ekonomi yang melesat di kuartal terakhir 2015. “Cukup mengejutkan melihat pertumbuhan ekonomi kembali ke level 5 persen,” katanya. Pencapaian ini merupakan tanda-tanda menggembirakan dair menggeliatnya investasi, yang mayoritas didorong oleh belanja pemerintah.

Ia pun berharap, momentum tersebut bisa dipertahankan pada kuartal I tahun ini. Kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi lebih baik adalah upaya pemerintah memastikan belanja yang lebih merata sepanjang tahun tahun ini. “Menarik juga melihat momen Idul Fitri tahun ini yang lebih awal sehingga bisa menjadi dorongan kecil untuk memacu pertumbuhan ekonomi pada semester I-2016,” katanya. Jadi, hingga kini Gundy masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,2 persen.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait