Kebutuhan valas meningkat untuk impor, pembayaran utang luar negeri, kewajiban bunga, dan pembayaran dividen.
Uang rupiah
Arief Kamaludin (Katadata)

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, kebutuhan valuta asing (valas) di kuartal II meningkat, di antaranya untuk impor. Meski begitu, sejauh ini nilai tukar rupiah tercatat lebih stabil dibandingkan kuartal I lalu.

"Kami tahu kalau di kuartal II setiap tahun tekanan itu rupiah cukup besar karena ada permintaan (valas) untuk impor, sehubungan dengan persiapan hari raya," kata Gubernur BI Agus DW. Martowardojo di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (19/6).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Selain untuk impor, kebutuhan valas juga meningkat untuk pembayaran utang luar negeri, kewajiban bunga, dan pembayaran dividen. Menurut Agus, besarnya kebutuhan valas akan tercermin dalam defisit transaksi berjalan (Current Account Defisit/CAD).

Transaksi berjalan memuat pembayaran dan penerimaan yang ditimbulkan dari aktivitas ekspor-impor barang dan juga jasa. Neraca ini terbagi atas dua komponen yakni neraca perdagangan untuk barang dan juga neraca jasa. Jika neraca transaksi berjalan mengalami defisit, artinya biaya yang harus dibayarkan untuk impor baik barang ataupun jasa lebih tinggi dibanding nilai yang diterima dari ekspor.

Pada kuartal II, defisit transaksi berjalan diprediksi mencapai 2,04 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melonjak tajam dibanding realisasi kuartal I 2017 yang hanya 0,99 persen terhadap PDB. "Kalau defisit transaksi berjalan di kuartal I sekitar satu persen. Di kuartal II diperkirakan dua persen. Jadi saya lihat ini kondisi yang mencerminkan pasar," kata dia.

Proyeksi tersebut dengan memperhitungkan penurunan surplus neraca perdagangan dan melebarnya neraca jasa. Selain itu, juga disebabkan oleh defisit neraca pendapatan primer yang melebar. Neraca pendapatan primer disumbang oleh pembayaran bunga pinjaman luar negeri pemerintah dan swasta, keuntungan perusahaan penanaman modal asing (PMA) oleh investor asing, dan pembayaran dividen atas kepemilikan saham domestik oleh nonresiden.

Adapun, sepanjang tahun ini, BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan sebesar 1,8 persen. Meski kebutuhan valas meningkat, namun bila mengacu pada kurs referensi yang dilansir Bloomberg, gejolak nilai tukar rupiah lebih mereda di kuartal II. Penguatan nilai tukar seiring berlanjutnya arus masuk dana asing. (Baca juga: BI: Dana Asing Masuk Rp 122 Triliun Didukung Peringkat S&P)

Pada perdagangan Senin ini, rupiah tercatat menguat 0,13 persen menjadi Rp 13.282 per dolar AS. Rupiah ditutup menguat di kisaran Rp 13.200-an sejak Selasa (13/6) pekan lalu. "Secara umum (nilai tukar rupiah) mencerminkan harga dari fundamental Indonesia," kata Agus. (Baca juga: Gubernur BI: 3 Sebab Rupiah Sulit Menguat Lagi ke 9.000 per US$)

Artikel Terkait
Selama ini, kartu debit yang diterbitkan beberapa bank masih bisa diproses di mesin Elektronic Data Capture (EDC) tanpa Personal Identity Number (PIN).
Meski utang lebih tinggi dibanding aset, BI memandang perkembangan posisi investasi internasional Indonesia pada kuartal I tahun ini masih cukup sehat.
"Nanti ada potensi hitung dari persentase top-up berapa. Kalau kecil top-up-nya, jangan mahal-mahal (biaya isi ulangnya)."